LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #39

Resor Pesisir: Sesuatu yang Pantas Kamu Dapatkan

Perjalanan panjang itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan sebuah resor megah yang bertengger di bibir pantai barat Tanjung Solara. Di sini, laut bukan sekadar latar—ia adalah napas, ritme, dan pusat gravitasi dari seluruh tempat ini.

Pergantian langit sore menuju malam menumpahkan palet warnanya: emas cair yang larut perlahan ke ungu indigo, seperti cat air yang dibiarkan mengalir bebas di atas kanvas samudra. Ron turun lebih dulu, memutari mobil, lalu membukakan pintu dan mengulurkan tangan pada Vini.

Angin laut yang asin menyambut mereka—lembap, namun menenangkan. Vini melangkah keluar, terdiam sejenak saat matanya menyapu bangunan kayu tropis yang menjulang anggun di hadapannya.

“Tempatnya… luar biasa, Ron,” bisik Vini. “Rasanya kayak mimpi.”

Ron menurunkan koper dari bagasi, senyum kecil terbit di wajahnya.

“Bukan mimpi,” katanya pelan. “Ini hasil dari semua yang sudah kamu lewati.”

Kru agensi yang tiba lebih dulu menyambut mereka dengan profesionalisme hangat. Setelah penjelasan singkat mengenai jadwal pemotretan esok hari, seorang staf menyerahkan kunci suite—senyumnya sedikit lebih lama tertuju pada Ron.

“Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda, Pak.” ucap staf itu dengan nada menggoda yang halus.

Vini menoleh cepat. “Permintaan kamu?”

Ron hanya mengangkat bahu, pura-pura santai. “Kejutan kecil.”

Bellboy mengantar mereka ke suite. Begitu pintu dibuka, aroma mawar merah langsung memenuhi ruangan—bukan menyengat, tapi cukup pekat untuk membuat napas melambat.

Interiornya tenang dan hangat. Lantai kayu gelap, cahaya lilin di sudut-sudut ruangan, dan kelopak mawar membentuk jalur lembut menuju balkon yang menghadap laut. Di tengah kamar, ranjang besar dengan seprai putih bersih menjadi pusat perhatian—dua handuk terlipat rapi membentuk sepasang angsa yang saling berhadapan, dikelilingi kelopak mawar yang ditata dengan hati-hati.

Vini berhenti di ambang pintu.

Ia tidak langsung tersenyum. Tidak tertawa. Tidak bergerak.

Napasnya tertahan, dadanya naik turun perlahan, seperti seseorang yang baru saja disodori sesuatu yang terlalu baik untuk langsung dipercaya.

“Ron…” suaranya bergetar. “Ini… kamu yang merencanakan?”

Ron mendekat tanpa tergesa.

“Aku cuma ingin kamu tahu bagaimana rasanya disambut,” katanya lembut. “Bukan sebagai aset. Bukan sebagai wajah. Tapi sebagai kamu.”

Vini menatap sekeliling sekali lagi—cahaya, mawar, aroma yang ia kenali sebagai pilihan Ron. Bahunya bergetar tipis. Bukan tangis yang meledak, melainkan getaran sunyi dari seseorang yang akhirnya disentuh tepat di bagian dirinya yang paling lama terkunci.

“Nggak pernah ada yang melakukan ini buat aku,” bisiknya. “Nggak satu pun.”

Ron mendekat, cukup dekat untuk membuat jarak lenyap.

Lihat selengkapnya