LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #40

Rumah yang Terbakar

Malam telah turun sepenuhnya, menyelimuti Tanjung Solara dalam kegelapan yang tenang namun rapuh—seperti api yang tampak jinak sebelum benar-benar membakar. Saat mereka kembali ke dalam kamar, sisa aroma jacuzzi masih menempel di kulit, bercampur wangi mawar merah di lantai yang mulai mengering dan layu oleh udara laut yang asin.

Vini meminta Ron menunggu sebentar. Sebuah permintaan kecil, diiringi tatapan yang menyimpan rahasia. Ia menghilang di balik pintu kamar mandi.

Ron duduk di tepi ranjang besar itu. Lelah menempel di tubuhnya—kelelahan seorang jurnalis yang terlalu lama berlari mengejar kebenaran—namun bersamaan dengan itu hadir ketenangan yang asing. Ia menatap jendela besar yang menghadap laut hitam; deburan ombak memukul karang dengan ritme yang konstan, seolah mengukur waktu.

Pintu kamar mandi terbuka pelan.

Ron menoleh, dan sejenak dunia berhenti bergerak.

Vini berdiri di ambang pintu, disiram cahaya kuning temaram. Ia mengenakan lingerie pastel lembut yang pernah ia acungkan sambil bercanda—kini tanpa tawa, tanpa permainan kata. Tanpa godaan nakal.

Yang tersisa hanyalah kejujuran yang telanjang.

Ron terdiam. Ia menatap Vini seolah baru pertama kali benar-benar melihatnya.

Vini menatap balik—bukan sebagai model di depan lensa, melainkan sebagai perempuan yang telah memutuskan untuk meletakkan seluruh hidupnya, masa lalunya, dan jiwanya di tangan laki-laki di depannya.

"Aku tak pernah merasa pantas dicintai oleh siapa pun, Ron," bisik Vini. Suaranya bergetar, hampir hilang ditelan bunyi angin laut.

“Tapi malam ini… aku ingin berhenti memikirkan jalan keluar. Aku ingin memilihmu, tanpa menyisakan rencana apa pun.”

Ia menarik napas, seolah kalimat berikutnya adalah lompatan tanpa jaring.

Lihat selengkapnya