Persiapan malam itu dimulai dengan kepanikan kecil di dalam suite. Ron berdiri di depan cermin besar, menatap satu-satunya kemeja yang ia bawa dengan ekspresi tidak yakin. Makan malam di restoran paling elite di Tanjung Solara jelas tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya—bahkan dalam mimpi paling ambisius sekalipun.
“Vin, kurasa aku akan terlihat seperti salah kostum,” gumamnya sambil mencoba merapikan kerah kemeja yang terlalu sederhana untuk tempat semewah itu. “Mungkin kita pesan layanan kamar saja.”
Vini, yang masih mengenakan jubah tipis setelah bersiap, menghampirinya dengan senyum teduh.
“Tenang, Sayang,” katanya lembut. “Pihak agensi sudah memikirkan semuanya. Mereka menitipkan ini untukmu di lobi tadi.”
Ia menyerahkan sebuah garment bag. Di dalamnya, setelan jas hitam potongan slim-fit terlipat rapi—elegan, bersih, seolah memang sudah menunggu Ron sejak lama. Ron menghembuskan napas lega, meski tetap terlihat canggung saat mengenakannya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Ron terdiam.
Vini melangkah keluar mengenakan gaun malam berwarna emerald dari sutra halus yang menangkap cahaya lampu kamar dengan cara yang nyaris tidak adil. Rambutnya disanggul modern, menyingkap leher jenjang yang membuat Ron lupa bagaimana cara bernapas dengan normal. Ia tidak sekadar cantik—ia tampak seperti sosok yang diciptakan untuk menguasai ruang mana pun yang ia masuki.
“Kamu…” Ron berbisik, suaranya hampir hilang. “Kamu luar biasa, Vin.”
Vini tersenyum kecil, jelas menikmati ekspresi Ron yang terpaku—campuran kagum dan ketidakpercayaan.
“Dan kamu,” katanya sambil menatap setelan jas Ron, “terlihat sangat berbeda, Tuan Jurnalis. Sedikit lebih berbahaya. Aku suka.”
Ia melangkah mendekat, jemarinya cekatan merapikan dasi kupu-kupu Ron yang sedikit miring. Setelah itu, ia menyelipkan lengannya ke siku Ron dan menyandarkan kepala sebentar di bahunya.
“Ayo,” bisiknya. “Dunia sudah menunggu kita.”
* * *
Perjalanan menuju pusat kota hanya memakan waktu lima belas menit. Mobil hotel melaju melewati jalanan Tanjung Solara yang dipenuhi cahaya neon warna-warni, hingga berhenti di depan bangunan kolonial megah dengan papan nama emas yang bersinar lembut: L’Amour.
Pelayan berseragam rapi menyambut mereka dengan hormat. Begitu melangkah masuk, Ron langsung disergap kemewahan yang nyaris menyesakkan—lantai marmer hitam mengilap, lampu gantung kristal raksasa, dinding berlapis lukisan klasik bernilai tinggi. Udara dipenuhi aroma bunga lili segar, parfum mahal, dan sisa asap cerutu premium.
Ron terpukau, matanya menyapu ruangan seperti seseorang yang baru saja masuk ke dunia lain.
Sebaliknya, Vini melangkah dengan ketenangan alami. Tidak gugup. Tidak terintimidasi. Tempat seperti ini bukan lagi hal asing baginya—ini adalah panggung lama yang dulu menuntutnya untuk selalu sempurna.
Mereka diantar ke meja paling privat, menghadap jendela besar dengan pemandangan lampu kota yang berkilauan di kejauhan.
"Percakapan di Antara Denting Gelas"
Lilin kecil di tengah meja bergetar pelan, memantulkan cahaya hangat di mata mereka.
“Tahu tidak,” Ron memulai, suaranya rendah. “Dulu aku selalu membenci tempat seperti ini. Terlalu rapi. Terlalu berpura-pura. Tapi malam ini… bersamamu, semuanya terasa masuk akal.”
Vini menyesap wine-nya perlahan.
“Aku juga dulu membencinya,” katanya jujur. “Karena setiap kali aku berada di tempat seperti ini, aku harus menjadi versi diriku yang diinginkan orang lain.” Ia menatap Ron lembut. “Tapi sekarang… aku bisa menjadi diriku sendiri, meskipun aku mengenakan gaun mahal.”
Ron meraih tangannya di atas meja, menggenggamnya erat.
“Apa yang kamu bayangkan tentang kita setahun dari sekarang?”
Vini terdiam. Matanya berkaca, tapi senyumnya tetap ada.
“Aku membayangkan rumah kecil di pinggir kota. Jauh dari billboard. Jauh dari kamera. Aku memasak—meskipun rasanya mungkin buruk—dan kamu menulis di teras. Hidup yang tidak membuatku takut setiap kali ada yang mengetuk pintu.”
Ron tersenyum, mencium punggung tangan Vini.
“Aku akan mewujudkannya. Tidak akan ada lagi pelarian. Hanya kita.”