Hendrawan berdiri di dekat jendela tinggi ruang privatnya. Kota Tanjung Solara terbentang di bawah sana—lampu-lampu seperti urat saraf yang terus menyala meski tubuhnya sendiri mulai lelah.
Ia menggeser layar tablet di tangannya, menggulir barisan data terenkripsi tanpa ekspresi.
“Sosok itu muncul lagi,” katanya datar, seolah sedang membahas cuaca.
“Penyandang inisial V.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dari jaringan lama. Sebelum aku memegang wilayah ini.”
Anak buahnya mengerutkan dahi. “Maksud Anda… yang dulu sempat menghilang?”
Hendrawan mengangguk samar.
“Sudah lama dia ada di daftar pencarian,” ujarnya pelan.
“Tapi tak pernah aku teruskan.”
Ia menutup tablet, menghela napas panjang—napas seseorang yang tahu persis apa yang sedang ia pilih untuk tidak lakukan.
“Aku tahu dia sedang kabur,” lanjutnya. “Dan aku juga tahu… siapa yang memburunya.”
Anak buahnya saling pandang. Tak satu pun berani bertanya lebih jauh.
“Hari ini aku melihatnya,” kata Hendrawan lagi.
“Dengan pria lain. Entah apa yang ada di kepalanya sekarang.”
Ia tersenyum miring. Bukan senyum sinis—lebih seperti senyum seseorang yang paham dunia tak pernah memberi hadiah tanpa harga.
“Dia tampaknya percaya hidup normal benar-benar mungkin.”
Ia berbalik dari jendela.
“Aku tidak akan melindunginya,” ucapnya datar.
“Itu bukan tugasku.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi anggap saja sebagai utang lama… aku juga tidak akan menyerahkannya.”
Nada suaranya mengeras saat ia melangkah menjauh.
“Yang membuatku muak sekarang justru si gila itu,” gerutunya.
“Bos, cukup,” sahut anak buahnya hati-hati.
“Anda sudah membahas ini berkali-kali. Soal kejatuhan Grup Aureum—”
Hendrawan mendecak pelan.
“Bajingan itu,” katanya dingin.
“Merusak tatanan yang sudah dijaga puluhan tahun. Dunia bawah tidak butuh kekacauan emosional. Ia butuh keseimbangan.”
Napasnya keluar lagi—lebih berat kali ini. Lalu ia terkekeh rendah.
Tawa itu membuat anak buahnya saling melirik. Ada sesuatu dalam tawa itu—bukan humor, melainkan antisipasi.