Studio perlahan tenggelam dalam sunyi, menyisakan gema langkah kaki yang memudar di koridor panjang. Vini duduk sendiri di depan cermin ruang rias yang luas. Lampu sorot kecil di atas bingkai cermin masih menyala, membasuh wajahnya dengan cahaya putih yang terlalu jujur—cahaya yang tidak memaafkan kelelahan atau kebohongan sekecil apa pun.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri.
Di sana ada wajah seorang perempuan yang dulu berlari tanpa arah, namun kini berdiri tegak di puncak dunia. Garis wajahnya lebih tegas, sorot matanya lebih tenang. Namun di balik ketenangan yang dipuji ribuan pasang mata itu, ada sesuatu yang tidak berubah—kesunyian rapat, seperti permukaan laut yang terlalu halus untuk dipercaya.
Vini bangkit dan berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalanan Kota Billboard. Dari ketinggian itu, lampu-lampu kota berkelip tak beraturan, seperti detak jantung yang dipaksa terus bekerja meski tubuhnya sudah lelah.
Lalu ia melihatnya.
Sebuah mobil hitam.
Kendaraan itu terparkir di seberang jalan, tepat di bawah bayangan pohon yang meranggas. Lampunya padam. Mesinnya mati. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Terlalu lama untuk disebut singgah. Vini mendekatkan wajahnya ke kaca, menyipitkan mata—dan di balik kaca gelap itu, ia menangkap satu titik cahaya kecil kemerahan. Rokok. Menyala. Padam. Menyala lagi. Ritmenya tenang. Sabar.
Vini tahu perbedaannya.
Ia tahu mana mobil yang menunggu pemiliknya.
Dan mana mobil yang sedang menunggu buronan.
Insting lama—yang selama ini bersembunyi di balik kulit—bangkit dengan jeritan sunyi di kepalanya.
“Kak, kamu belum pulang?”
Vini tersentak. Jantungnya melonjak terlalu tinggi untuk disembunyikan. Ia menoleh cepat dan mendapati Okky berdiri di ambang pintu, tas besarnya tersampir di bahu, wajahnya polos tanpa kecurigaan.
“Oh—nggak,” jawab Vini cepat, lalu menarik napas dan memperhalus nadanya. “Kakak cuma… lagi lihat pemandangan.”
Okky mendekat, ikut menempelkan wajah ke kaca. “Pemandangan apa?” Ia mengerutkan kening. “Aku cuma lihat jalanan basah.”
Vini tersenyum. Senyum yang rapi. Senyum yang aman.
“Iya,” katanya pelan. “Mungkin cuma capek. Mata kakak salah lihat.”
Okky mengangguk, lalu berbalik untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Begitu langkah kecil itu menjauh, Vini kembali menatap ke bawah.
Mobil hitam itu masih di sana.
Diam.
Tidak bergerak.
Seolah sedang menatap balik.
Untuk pertama kalinya setelah satu tahun lebih dipenuhi kebahagiaan yang terasa hampir tidak nyata, Vini merasakan dingin yang tidak datang dari udara malam—melainkan dari sesuatu yang jauh lebih akrab.
Ketakutan lama.
Yang ternyata hanya tidur, bukan mati.
* * *
Setengah jam kemudian, Vini melangkah keluar dari lobi studio. Mantel panjangnya ia rapatkan, tas kecil tergenggam erat di jemari yang terasa sedikit kebas. Hujan rintik turun pelan, membasahi trotoar dan melepaskan aroma aspal basah yang menusuk ingatan.
Ia menyapu pandangan ke sekeliling.
Jalanan sepi.
Trotoar kosong.
Mobil hitam itu tidak ada.
"Mungkin cuma kebetulan… mungkin aku yang terlalu paranoid setelah bertemu Hendrawan," bisiknya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan logikanya.