LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #46

Suara Ponsel: Gema Masa Lalu

Lima hari telah meluruh sejak malam ketika Vini melihat mobil hitam itu membeku di depan studio. Ia terus memaksa logikanya bekerja—meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah kebetulan, atau paranoia yang lahir dari kelelahan. Namun setiap kali ia melewati jendela apartemen, pantulan kaca seolah menertawakannya, membuat detak jantungnya selalu melompat setengah ketukan lebih cepat dari seharusnya.

Di Minggu pagi yang tenang, apartemen mereka tampak seperti rumah yang diimpikan banyak orang. Cahaya matahari jatuh lembut ke lantai. Vini duduk bersila di karpet ruang tamu, menyusun draf kontrak kerja sama dengan sebuah jenama parfum nasional. Sementara itu, Ron berada di meja kerja kecil dekat jendela, tenggelam dalam catatan redaksi yang terbuka di layar laptopnya.

Mesin kopi bergemuruh pelan. Aroma arabika yang tajam mengisi ruangan—kehangatan yang manis.

Dan justru karena itu, terasa rapuh.

Ponsel Ron tiba-tiba bergetar di atas meja kayu. Nama di layar menyala: Arman.

“Halo, Man? Aku lagi di rumah,” jawab Ron santai. “Ada apa?”

Suara Arman terdengar serak dan terputus-putus, seperti datang dari tempat dengan sinyal buruk atau keramaian yang menelan kata-kata.

“Ron… aku baru dapat data. Penting.

Ia menarik napas singkat.

“Ini jauh lebih besar dari dugaanku. Tentang nama yang kamu minta.”

Ron mengernyit. Ia bangkit dan melangkah ke balkon.

Vini yang sejak tadi tampak fokus pada kertas-kertasnya, langsung menajamkan pendengaran. Matanya mengikuti punggung Ron hingga pintu kaca tertutup di belakangnya.

“Apa isinya?” tanya Ron rendah.

“Ada kaitannya dengan Grup Aureum,” jawab Arman. “Ini bisa jadi headline terbesar tahun ini—tapi risikonya juga besar.”

Ron menegakkan punggungnya. “Kamu nemu sesuatu?”

“Bukan sesuatu. Seseorang.” Arman berhenti sejenak; suara desis statis terdengar samar. “Untuk Violet, aku belum dapat jejak fisik. Tapi soal Hendrawan—”

Di dalam ruangan, Vini tanpa sadar telah menggeser tubuhnya. Ia menempelkan telinganya ke kaca balkon, menahan napas dengan gerakan super senyap.

“Hendrawan dulu broker utama Aureum,” lanjut Arman. “Dia tahu siapa dalang di balik kejatuhan grup itu setahunan yang lalu. Tapi dia memilih bungkam. Bukan karena takut. Dia nggak mau ikut campur.”

Ron mengepalkan tangannya. “Siapa dalangnya?”

Di balik dinding kaca, dunia Vini berhenti.

“Figur di balik kejatuhan Aureum dikenal sebagai Tuan–B,” kata Arman. Suaranya bergetar seperti radio tua yang kehilangan frekuensi.

“Apa?” Ron menaikkan volume ponselnya. “Ulangi, Man. Sinyalnya buruk.”

“Tuan–B, Ron! Orang kepercayaan mendiang Dion Hartanta. Setelah Dion mati, aset Aureum pindah ke nama-nama bayangan. Dan inisial itu—B—selalu muncul di catatan lama yang disimpan rapi.”

“Cuma inisial?”

“Iya. Tapi di dunia bawah, dia pemain lama. Katanya dulu dia beraksi bareng pacarnya. Seorang perempuan. Job high-risk, lintas kota, lalu menghilang. Vakum.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan sekarang… dia muncul lagi lewat Aureum buat ambil alih semuanya.”

Dada Ron mengeras. “Man, kamu di mana sekarang?”

“Masih sama sumberku. Tapi aku harus pergi.”

Nada Arman berubah lebih serius.

“Dokumennya aku simpan di laci meja. Kamu bisa ambil di kantor.” Ia menekan tiap kata. “Ron, orang ini bukan level main-main.”

Ron menelan ludah. “Ini sudah diverifikasi, kan? Bukan kabar angin?”

“Pergerakan dananya cocok. Dengar baik-baik—Aureum itu jaring laba-laba. Sekali kamu sentuh, predatornya bakal bergerak.”

Sambungan terputus.

Ron menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menurunkannya perlahan. Wajahnya mengeras—bukan panik, tapi keseriusan yang mematikan.

Di balik dinding balkon, tubuh Vini bergetar hebat.

Inisial itu.

Nama itu.

Bukan kenangan—melainkan ancaman yang bangkit dari abu.

Ia bergegas kembali ke karpet ruang tamu, merapikan kertas-kertasnya dengan tangan gemetar tepat saat Ron masuk.

“Vin?” Ron berhenti di depannya. “Kamu ngga apa-apa?”

Vini tersentak, memaksa senyum tipis. “Iya… aku cuma bingung pasal kontraknya. Bahasanya ribet.”

Namun jemarinya mencengkeram lututnya sendiri hingga memutih.

Nama ‘Tuan–B’ berdentang di kepalanya seperti lonceng pemanggil.

Lihat selengkapnya