Hujan rintik malam itu tidak turun untuk membersihkan Kota Billboard; ia turun untuk menyamarkan jejak-jejak yang tak sempat dihapus. Aspal basah memantulkan cahaya neon biru dan merah dari papan reklame raksasa, menciptakan ilusi yang pecah di atas genangan air. Di dalam kabin mobil, hanya ada gerak ritmis wiper dan aroma hangat dari sebungkus sop ayam—makanan favorit Vini yang baru saja Ron beli.
Keheningan itu terbelah ketika layar dasbor menyala. Nama Arman berkedip. Ron menekan tombol di kemudi, menghubungkan panggilan ke speaker mobil.
“Halo, Ron. Maaf baru menghubungi,” kata Arman. “Aku dapat temuan baru. Dari orang dalam.”
Suaranya terdengar berat, seolah setiap kata membawa bobotnya sendiri.
Ron memperlambat laju mobil saat memasuki kawasan pemukiman.
“Nggak apa,” jawabnya. “Aku juga masih ngecek beberapa kejanggalan dari berkas yang kulihat tadi di kantor.”
“Ini lebih buruk, Ron. Aku akhirnya dapat akses ke catatan perbankan luar negeri. Ada satu kode yang muncul berulang: Project Aureum — Authorized by B.”
Ron mengernyit. Jemarinya mengetuk kemudi tanpa sadar.
“B… Jadi dia yang buka jalur dari luar negeri. Bahkan sebelum kekacauan meledak.”
“Lebih dari itu,” balas Arman. “Dia penyalur utamanya. Berkedok ekspor-impor. Ini praktik pelapisan dana yang sangat rapi—lintas negara, lintas institusi.”
Ia berhenti sejenak.
“Yang bikin aku merinding, banyak perusahaan cangkang dan pejabat tingkat atas ikut terlibat. Inisial B sudah pegang kendali sebelum Dion Hartanta dinyatakan mati.”
“Gimana semua ini bisa lolos?” Suara Ron terdengar parau. “Skandal sebesar ini pasti ninggalin jejak.”
“Uang bisa nutup banyak hal, Ron. Termasuk mata orang-orang berwenang.”
Nada Arman pahit.
“Infonya, Dion ngasih akses khusus—jalur pribadi di luar sistem utama Aureum. Cabang ilegal yang ngatur transaksi bayangan.”
Ia menurunkan suara.
“Ada satu detail lagi. Dan ini bikin aku nggak nyaman.”
Ron menatap lurus ke jalan yang buram oleh hujan. Lampu-lampu kota melebur menjadi garis-garis cahaya yang tak beraturan di kaca depan.
“Jaringan itu dikelola berdua.”
“Berdua?”
“Nggak salah lagi,” jawab Arman pelan. “Dengan perempuan yang sama. Waktu B masih aktif dulu.”
Detak jantung Ron mengeras, iramanya tak lagi sejalan dengan wiper yang bergerak di depan matanya.
“Perempuan itu bagian dari operasional Aureum?”
“Iya. Lalu menghilang. Ada yang bilang kabur. Ada yang bilang mati. Tapi beberapa informan yakin…”
Arman berhenti sejenak.
“…dia masih hidup. Ganti identitas. pindah-pindah kota. Sampai akhirnya terhapus dari radar.”
Hilang bersih.
Kata itu menggema di kepala Ron—dingin, tajam, tanpa gema balik.
"Nama perempuan itu," ucap Ron, Suaranya hampir tak terdengar, "kamu tahu?"
Di seberang sana terdengar suara halaman dibalik. “Nggak pernah pasti. Tapi ada satu alias yang sering muncul.”
Arman berhenti.
“Satu huruf. V.”
Ron terdiam. Udara di dalam mobil terasa menipis.
“V?”
Ia mengulanginya perlahan, seperti mencicipi racun.
“Bisa apa saja,” lanjut Arman. “Tapi ada catatan tambahan: V — ex-liaison, short contract, Asia Circuit.”
Ia menjelaskan tanpa emosi. “Itu mengarah ke peran VIP Companion. Promosi event. Penutup jalur distribusi.”
Gedung apartemen Vini mulai terlihat di kejauhan. Namun kepala Ron berisik.