LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #49

Kebenaran yang Tak Mau Diam

Beberapa hari setelah percakapan di balkon itu, Ron berubah. Ia tidak menjadi dingin, tidak pula menjauh. Justru sebaliknya—ia menjadi terlalu hadir, namun bukan untuk Vini. Kehadirannya tumpah sepenuhnya pada layar laptop yang menyala hingga dini hari, pada getar ponsel yang selalu ia jawab, dan pada nama-nama asing yang kini terasa terlalu akrab di dadanya.

Meja kecil di dekat jendela tak lagi rapi. Ia menjelma pusat komando yang kacau: penuh coretan tangan, bagan alur dana yang kusut, dan potongan berita lama yang direkatkan dengan selotip kusam. Kebenaran berserakan di sana seperti pecahan kaca—tajam, berkilau, dan menolak dirangkai tanpa melukai siapa pun yang menyentuhnya.

Tidur Ron terpotong oleh obsesi. Kopi pahit menggantikan kehangatan pelukan. Dan setiap kali matanya terpejam, satu inisial selalu muncul lebih dulu sebelum mimpi sempat terbentuk: B.

“Arman bilang ada data baru dari catatan bank luar negeri,” ucap Ron suatu malam tanpa menoleh. Jemarinya terus menggulir layar, cahaya monitor memantul di wajahnya, menegaskan garis lelah di bawah mata. “Aku masih harus verifikasi. Tapi semuanya berputar ke satu titik, Vin. Sedikit lagi.”

Vini duduk di sofa, lututnya ditarik rapat ke dada. Ia memperhatikan Ron dengan perasaan asing. Nada pria itu tenang—nyaris antusias—nada yang sama seperti saat ia membicarakan liputan besar.

“Kamu nggak berhenti dari itu,” suara Vini pelan, hampir tenggelam oleh dengung kota di luar jendela.

Ron menoleh. Tatapannya bukan defensif, melainkan penuh keyakinan—keyakinan yang justru membuat Vini merasa ngeri.

“Gimana bisa berhenti?” Ron tersenyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke mata. “Selama identitas Tuan–B belum kebuka, aku nggak bakal bisa tidur tenang. Aku harus tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan.”

Vini menunduk. Jemarinya mencengkeram bantal erat-erat.

“Kamu nggak capek?”

“Capek,” jawab Ron jujur. “Tapi ini penting. Aku ngerasa… kalau aku bisa nemuin kebenaran ini, kamu bakal lebih tenang.”

Kalimat itu menggantung di udara seperti asap tebal.

Kamu bakal lebih tenang.

Vini tidak menjawab. Ia menatap pantulan lampu yang bergetar di permukaan kopinya. Sejarah hidupnya mengajarkan satu hal: setiap kali seseorang berjanji akan membuatnya tenang, badai biasanya datang lebih dulu—dan menghancurkan segalanya.

Hari-hari berikutnya, Ron semakin jarang di apartemen. Siangnya habis di redaksi, malamnya dihabiskan bersama Arman—menyusuri jalur abu-abu, bertemu informan di parkiran bawah tanah atau warung kopi yang lampunya setengah mati. Setiap kali pulang, Ron membawa bayangan gelap di wajahnya. Senyumnya masih ada, tapi seperti foto lama yang warnanya mulai pudar.

Vini mulai tidur sendiri. Kadang ia terbangun pukul tiga pagi, mendapati sisi ranjang di sebelahnya masih dingin. Kadang ia mendengar suara mesin berhenti di bawah gedung—dan jantungnya langsung mengenali irama yang salah.

Mobil hitam itu.

Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangannya yang semakin asing.

Lihat selengkapnya