Sementara itu, pagi di studio kembali meledak oleh hiruk-pikuk yang sudah menjadi nadinya sendiri. Fotografer sibuk mengatur sudut pencahayaan, para stylist berlarian dengan gantungan baju yang saling berdenting, dan gelak tawa kru bergaung di antara kabel-kabel lampu. Dunia mode adalah mesin yang tidak pernah berhenti berputar—ia tidak peduli siapa yang sedang terluka, siapa yang sedang runtuh.
Namun ketika Vini melangkah masuk, udara seolah tersendat sesaat.
Bukan karena semua orang berhenti bekerja, melainkan karena sesuatu yang hilang. Aura yang biasanya membawa terang ke dalam ruangan itu pagi ini tampak redup. Langkah Vini berat, seakan ia memanggul beban yang tidak terlihat oleh mata siapa pun.
Clarissa, yang sedang memeriksa hasil pemotretan di layar monitor, menoleh cepat. Matanya yang tajam langsung menangkap ketidakwajaran itu.
“Kamu terlambat sepuluh menit, Vin,” ucapnya datar. “Kamu nggak pernah terlambat.”
“Iya,” jawab Vini singkat. Suaranya kosong. “Macet sedikit di perempatan.”
Clarissa mendekat, menatap wajah sahabat sekaligus rivalnya itu dengan sorot yang membedah. Di bawah mata Vini, ada lingkaran samar yang disamarkan makeup—bukan lelah biasa, melainkan kegelisahan yang sudah mengendap terlalu lama hingga mulai meracuni tubuh.
“Kak Vini!” Okky muncul berlari kecil, membawa gelas kopi yang masih hangat. “Aku bawain kopi favorit Kakak dari kafe depan.”
Vini menerima gelas itu, senyumnya tipis dan rapuh.
“Makasih, Ky.”
Okky memiringkan kepala, mengamati wajah Vini dengan kepolosan yang jujur.
“Kak Vini habis begadang, ya? Matanya kayak orang habis nonton film sedih semalaman.”
Clarissa melirik Okky sekilas, lalu kembali ke Vini.
“Habis ribut sama Ron?”
Vini menatap cermin rias, mencari sesuatu di sana—atau seseorang—yang tak lagi ia temukan.
“Enggak.”
“Terus kenapa?” desak Clarissa pelan tapi tajam. “Kamu kelihatan kayak orang yang baru ditinggal, tapi masih maksa berdiri pakai topeng kuat.”
Vini terdiam lama. Suara studio perlahan memudar, menyisakan dengung sunyi di kepalanya.
“Terkadang, Clar… kita bisa sangat mencintai seseorang, tapi tetap ngerasa sendirian di dunia ini.”
Clarissa membeku. Ia jarang—nyaris tidak pernah—melihat Vini setelanjang ini.
“Dia ninggalin kamu?”
Vini menggeleng perlahan.
“Bukan dia yang pergi. Mungkin aku yang mulai menjauh tanpa sadar. Aku takut… kehadiranku cuma bakal narik dia masuk ke kegelapan.”
Clarissa menarik napas panjang, lalu berbalik ke arah kru.
“Tahan dulu! Pemotretan pagi ditunda satu jam!”
“Hah? Tapi jadwal kita padat, Mbak Clar!—” protes seorang asisten fotografer.
“Biar aku yang urus ke agensi. Break sekarang,” potong Clarissa tegas. Ia lalu menoleh ke Okky. “Ky, ambilin air putih buat Vini.”
Vini terduduk di kursi rias. Cahaya lampu studio yang putih terang terasa menyilaukan sekaligus dingin, membuat kepalanya berdenyut. Pandangannya bergeser tanpa sadar ke jendela besar yang menghadap jalan raya.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Mobil hitam itu.
Berhenti di seberang jalan. Mesin menyala halus, asap tipis keluar dari knalpot, tapi tak ada siapa pun turun. Mobil itu diam—seperti predator yang menikmati ketakutan mangsanya dari kejauhan.