LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #51

Ambang Batas

Siang itu, apartemen Vini terasa lebih dingin dari biasanya. Setelah dokter dipanggil ke studio dan memastikan Vini hanya mengalami syok berat akibat kelelahan, Clarissa dan Okky memutuskan mengantarnya pulang.

Begitu pintu terbuka, Okky tertegun di ambang. Matanya menyapu sekeliling dengan tak percaya. Apartemen yang biasanya tertata nyaris steril—cermin mengilap, bantal sofa simetris, aroma lavender yang menenangkan—kini tampak seperti medan perang yang ditinggalkan. Pakaian berserakan, berkas kontrak robek di atas meja, tirai jendela tertutup rapat seolah penghuninya takut pada cahaya.

“Kak Vini…” suara Okky nyaris berbisik. “Kenapa… berantakan begini?”

Vini tidak menjawab. Ia berjalan tertatih ke sofa dan duduk, menatap kosong ke satu titik. Tubuhnya hadir, tapi pikirannya tertinggal di bayangan mobil hitam yang menghantui pikirannya.

Clarissa meletakkan tasnya, menarik napas panjang. Dengan satu isyarat singkat, ia meminta Okky mulai merapikan barang-barang. Clarissa lalu duduk di samping Vini, tangannya mencengkeram bahu perempuan itu—kaku, dingin.

“Aku harus balik ke studio ngurus jadwal,” ucap Clarissa, nada suaranya kehilangan ketajaman manajer. “Okky temani kamu sampai Ron pulang.”

Vini mengangguk samar.

“Vin,” Clarissa memutar wajah Vini agar menatapnya. “Jangan hadapi ini sendirian. Kamu punya kami. Kamu punya Ron. Jangan hancur dulu sebelum badai benar-benar datang.”

Vini tetap diam. Bibirnya terkatup rapat, menyimpan rahasia tentang masa lalu yang kini merayap keluar dari kegelapan. Jemarinya gemetar di pangkuan—tanda bahwa rumah kaca yang ia bangun dengan susah payah mulai pecah perlahan dari dalam.

* * *

Di belahan kota lain, ruang rapat redaksi Billboard Voice dipenuhi suara keyboard, aroma kopi hitam pekat, dan ketegangan yang menggantung rendah. Dinding ruangan dipenuhi papan timeline dan foto-foto liputan lama—jejak keberanian yang seolah menguji siapa pun yang berani membawa isu lebih berbahaya.

Ron duduk di ujung meja. Laptop terbuka, tapi pandangannya terpatri pada satu titik. Setiap gerak kecil—jemari mengetuk meja, napas ditahan lalu dilepas—menyiratkan badai yang sedang ia kendalikan. Arman duduk di sampingnya, terlihat santai, namun matanya awas membaca ruangan.

Pak Bima, kepala redaksi dengan raut wajah yang keras, mengetuk meja sekali. Ruangan langsung senyap.

Lihat selengkapnya