LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #52

Mengejar Pusat Badai

Langit berganti sore dengan cepat, meneteskan warna kelabu seperti tinta yang tumpah di atas kaca kota. Ron menatap jam tangannya—pukul 15.45. Rapat redaksi telah usai setengah jam yang lalu, meninggalkan gema perdebatan yang masih berdengung di kepalanya.

Sambil melangkah menuju parkiran, Ron baru menyadari bahwa ia mematikan seluruh jaringan seluler ponselnya sejak pagi untuk menghindari distraksi. Begitu diaktifkan, rentetan notifikasi menyerbu: satu panggilan tak terjawab dari Okky, satu pesan mendesak dari Clarissa, beberapa lainnya dari rekan kantor.

Tidak ada satu pun dari Vini.

Keheningan dari Vini justru terasa seperti alarm paling nyaring. Namun sebelum Ron sempat membalas apa pun, Arman sudah menghampirinya dengan langkah cepat.

“Jadi kita jadi ketemu narasumber itu sekarang?” tanyanya.

Ron mengangguk kaku. Ia membiarkan ponsel bergetar di sakunya. Naluri pelindungnya—yang kini bercampur obsesi jurnalis—menolak berhenti meskipun hanya untuk sekadar mengetik balasan. Ia merasa harus menggenggam kebenaran itu terlebih dahulu sebelum pulang. Ia tidak sadar, dengan terus mengejar kebenaran, ia justru sedang menuju ke pusat badai yang sesungguhnya.

Tempat pertemuan yang dipilih Arman bukanlah kantor, kafe, atau ruang pertemuan yang layak. Mereka berkendara menuju sebuah bar tua di tepi pelabuhan yang tampak ringkih dimakan usia. Bagian bawah bar itu disewakan untuk "pertemuan tertentu"—tempat di mana hukum sering kali kehilangan taringnya.

Udara di sana pekat oleh aroma garam laut dan logam berkarat. Di kejauhan, klakson kapal bergema lambat, menyayat keheningan sore, sementara cahaya merah dari mercusuar berkedip seperti sinyal peringatan yang tak ingin disadari siapa pun.

Mereka turun melalui tangga sempit yang berderit. Musik jazz murahan terdengar lamat-lamat dari lantai atas, namun di bawah sini, dunia terasa terisolasi. Sebuah ruangan kecil dengan dinding beton lembap dan satu lampu gantung tua yang menyala redup menyambut mereka.

Di tengah ruangan duduk seorang pria berambut uban, wajahnya tenang namun dipenuhi guratan masa lalu yang pahit. Arman mengenalnya hanya sebagai Mr. L.

"Terima kasih sudah bersedia bertemu, Pak," Arman memulai, suaranya sedikit merendah. "Kami butuh jawaban. Tentang Aureum… tentang Bayu."

Mr. L menatap mereka berdua dengan mata tajam yang seolah bisa menembus kulit. "Siapa kalian pikir orang-orang ini sebenarnya?"

"Saya jurnalis," sahut Ron tegas. "Tapi kali ini bukan tentang berita. Ini tentang keselamatan seseorang."

Mr. L tersenyum samar, sebuah senyum yang tampak seperti luka lama. "Seseorang? Atau sesuatu?"

"Mungkin keduanya," jawab Ron.

Lihat selengkapnya