LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #53

Pecahnya Rumah Kaca

Hujan malam itu tidak turun dengan deras; ia hanya rintik bimbang yang mengetuk kaca mobil perlahan, seolah sedang memperingatkan Ron untuk berpikir ulang sebelum ia benar-benar tiba di rumah. Namun, pikirannya sudah menyerupai ombak—terlalu besar untuk dibendung, terlalu liar untuk ditenangkan.

Nama-nama itu masih menari-nari di kepalanya, memuakkan dan tajam: Vanya, Valencia, Veronica, Violet... Dan satu nama terakhir yang terasa seperti pisau yang menembus dadanya tanpa ujung: Vini.

Ron menekan pedal gas lebih dalam. Di luar sana, Kota Billboard tampak samar di balik kabut dan pendar lampu neon yang basah, seolah kota itu sendiri sedang menyembunyikan wajahnya dari tragedi yang akan pecah.

Pintu apartemen terbuka dengan derit pelan. Lampu ruang tamu remang, membiarkan bayangan-bayangan panjang merayap di dinding. Aroma parfum Vini masih sama—manis dan menenangkan—namun malam ini, kehangatan itu berubah menjadi sesuatu yang mencekik.

Di sofa, Vini duduk membelakangi jendela. Ia masih mengenakan gaun sederhana yang belum sempat diganti sejak insiden di studio tadi siang. Wajahnya pucat pasi, namun tampak sangat tenang—ketenangan seorang terpidana yang sudah tahu bahwa algojo telah datang, dan ia memilih untuk tidak lagi berlari.

"Kamu belum tidur."

Ron berhenti di ambang ruang tamu. Nada suaranya datar, tapi terlalu kering untuk terdengar santai.

"Belum."

Vini tidak mengangkat kepala. Pandangannya tertahan di lantai, seolah di sanalah semua jawabannya disimpan.

"Ada jaket Okky di sini."

"Iya. Dia sempat ke sini. Sekarang sudah pulang."

Mereka saling diam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Hanya ada detak jam dinding yang terdengar terlalu keras, menghitung mundur sisa-sisa kedamaian mereka. Ron tidak tahu bahwa Vini sempat pingsan di studio; ia tidak tahu bahwa jaket itu digunakan untuk menyelimuti tubuh Vini yang menggigil selama perjalanan pulang. Dan Vini, dengan segala harga dirinya yang tersisa, tidak ingin menambah beban di pundak Ron.

Ron menatap Vini lama sekali. Entah mengapa, semua kata yang ia susun dengan rapi di sepanjang jalan tadi mendadak menguap. Ia merasa seperti sedang menatap orang asing di dalam tubuh wanita yang ia cintai.

" Aku ketemu seseorang hari ini. Narasumber."

Ia berhenti sebentar, memastikan Vini masih mendengarkan. “Dia tahu banyak soal Aureum.”

Vini menatapnya perlahan. "Oh ya?"

“Dia bilang Dion Hartanta nggak bunuh diri. Dia dibunuh.”

"Terus?"

Ron menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal kerikil. “Yang ngebunuh… orang kepercayaannya sendiri. Tuan–B. Namanya Bayu.”

Vini mengangguk pelan, tanpa ekspresi. Tidak ada kejutan di wajahnya, hanya sebuah kedalaman nestapa. Mata itu seolah sudah mendengar nama itu ribuan kali jauh sebelum Ron mengucapkannya.

“Dan katanya,” lanjut Ron, suaranya menurun drastis, "kalau Bayu punya partnert. Seorang perempuan yang dulu bekerja bersamanya. Perempuan yang punya banyak nama."

Ron menjeda sejenak. Udara di ruangan itu mendadak menipis.

“Vanya. Valencia. Veronica.”

Tatapannya mengunci Vini—hening, sabar, dan terlalu tahu.

“Violet.”

Nama itu jatuh tanpa gema.

“…Vini.”

Waktu seakan membeku di antara kata itu dan napas berikutnya. Ron merasa dinding apartemen menyempit, menekan mereka berdua ke dalam sebuah titik di mana rahasia tidak lagi memiliki ruang untuk bersembunyi.

Vini tidak langsung menjawab. Ia menunduk, memainkan ujung gaunnya dengan jemari yang gemetar, seolah sedang mencoba menenangkan detak jantung yang baru saja kehilangan ritmenya.

"Jawab aku, Vin."

Suara Ron retak di ujungnya. “Semua yang aku dengar itu… kamu, ya?”

Vini akhirnya mendongak, matanya berkaca-kaca namun tetap jernih. "Kalau aku bilang iya... apa kamu masih percaya kalau aku orang yang sama dengan yang kamu peluk tiap malam?"

"Kenapa kamu nggak pernah cerita?!" tanya Ron, kini ada nada perih yang menuntut.

Lihat selengkapnya