LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #54

Air dan Luka: Pengakuan dari Neraka

Air shower jatuh dengan irama yang stabil, memantul di ubin putih lalu mengalir ke lubang pembuangan seperti waktu yang menolak berhenti. Uap hangat memenuhi kamar mandi, memburamkan dinding kaca hingga dunia di luar terasa jauh—tidak penting. Ruang sempit ini menjadi satu-satunya tempat yang nyata.

Vini duduk bersandar pada dinding porselen yang dingin. Rambutnya basah, menempel di leher dan pipi. Air mengalir tanpa henti, dan untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menyembunyikan apa pun. Tidak ada senyum. Tidak ada kendali.

Ron berdiri di ambang pintu. Ia melihat siluet Vini di balik uap, ragu untuk melangkah. Seolah satu langkah ke depan berarti memasuki wilayah yang dipenuhi luka lama.

Tatapan Vini mengangkat wajahnya sedikit.

“Masuk, Ron. Airnya hangat.”

Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh deru air.

Ron menarik napas, lalu melangkah masuk. Ia duduk di hadapan Vini, membiarkan air membasahi bahu dan kemejanya. Ruangan itu kini terlalu sempit untuk semua rahasia yang selama ini berdiri di antara mereka.

“Jangan bicara dulu,” ucap Vini pelan. “Dengerin saja.”

Ron mengangguk.

“Dulu aku pikir dunia ini sederhana,” Vini memulai. Nada suaranya rendah, rata, seolah ia sedang membaca sesuatu yang sudah terlalu sering ia ulang di kepalanya. “Aku cuma remaja tanpa orang tua. Tinggal sama Bibi. Baru lulus SMA. Nggak punya biaya buat lanjut kuliah. Aku kerja apa saja asal kami bisa makan.”

Air mengalir di wajahnya, bercampur dengan napas yang mulai berat.

“Aku cuma ingin satu hal waktu itu. Hidup yang mapan. Keluar dari kemiskinan.”

Ron menatapnya tanpa menyela.

“Lalu… pas kerja di sebuah restoran, aku ketemu sama seseorang. Dia bilang, aku punya wajah yang bisa ‘menjual’. Katanya aku bisa jadi top model di ibu kota. Aku percaya. Aku pikir itu jalan keluar.”

Vini tersenyum kecil, getir.

“Yang aku temui bukan agensi besar. Tapi pintu sempit ke ruangan tanpa jendela. Bau alkohol. Asap rokok. Janji-janji yang nggak pernah ditepati.”

Ron mengepalkan jemarinya.

“Mereka bilang wajahku bisa dijual,” lanjut Vini. “Dan ternyata… itu bukan kiasan.”

Napasnya tersendat, tapi ia tetap melanjutkan.

“Aku dilatih buat ‘menyenangkan’. Belajar tersenyum saat jiwaku ingin mati. Aku dandan, minum, menjadi boneka di rumah bordil itu entah berapa bulan lamanya. Sampai suatu hari, datang seorang pria yang berbeda dari lainnya.”

Ron menatapnya lebih dalam.

“Bayu?”

Vini mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya