Sore itu menjelma menjadi musim dingin yang panjang. Setelah seluruh rahasia tumpah di bawah kucuran air tadi pagi, waktu berjalan lebih lambat—seolah memberi ruang bagi dua manusia yang baru saja menelanjangi kejujuran.
Ron tidak pergi ke kantor redaksi. Vini membatalkan seluruh jadwal pemotretan. Mereka duduk bersandar di lantai ruang tamu, tepat di sisi bawah sofa, beralaskan karpet tebal yang terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu diredupkan, membiarkan cahaya kelabu Kota Billboard merembes masuk melalui celah tirai. Udara masih menyisakan aroma teh melati dan sisa hujan yang mengering di kaca jendela. Tidak ada suara, selain napas yang saling bergantian mengisi ruang.
“Ron,” suara Vini nyaris berbisik, memecah hening yang terlalu rapat. “Kamu nggak pernah tanya… kenapa aku nggak pernah berbalik buat mencarinya.”
Ron menoleh. “Bayu?”
Vini mengangguk kecil. “Karena aku tahu, kalau aku menoleh sedikit saja, aku bakal terseret balik ke neraka itu.”
Ia menarik napas pelan. “Aku lari sejauh ini, sampai kakiku berdarah, cuma buat bisa melihat cahaya yang kamu kasih.”
“Kamu sudah keluar dari sana, Vin,” jawab Ron yakin.
Vini tersenyum tipis—senyum yang tidak sepenuhnya percaya. “Orang sepertiku nggak pernah benar-benar keluar. Kami cuma pindah dari satu penjara ke penjara lain.”
Tatapannya meredup. “Dan sekarang aku takut… aku lagi menyeret kamu masuk ke penjara yang sama.”
Ron menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar paham bahwa cinta bukan lagi soal melindungi seseorang dari ketidakberdayaan atas bahaya yang terlihat. Cinta adalah kesediaan berdiri di tengah reruntuhan masa lalu yang menolak dikubur, tanpa ilusi bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Vin,” ucap Ron pelan, “berhenti nyalahin diri sendiri.”
“Kalau bukan aku, siapa?” balas Vini lirih. “Mereka sudah pergi. Yang tertinggal cuma aku dan semua yang sudah aku lakukan.”
“Mereka yang menyakitimu,” kata Ron. “Yang memaksamu bertahan sendirian.”
“Kalau begitu salahkan dunia,” sahut Vini pahit. “Karena dunia diam saat aku diperjualbelikan. Dunia nonton waktu aku dipaksa berubah.”
Hening turun lagi. Tapi kali ini berbeda—lebih hangat, lebih jujur. Vini menggulung tubuhnya, menyandarkan kepala di dada Ron. Ia mendengarkan detak jantung itu: berat, stabil. Ritme yang membuatnya tetap bernapas.
“Kamu nggak marah?” bisiknya.
“Marah buat apa?”
“Karena aku bohong satu tahun penuh.”
Ron mengusap rambutnya perlahan. “Kalau aku marah, berarti aku nggak paham kenapa kamu bohong.”
Nada suaranya tenang. “Kamu cuma pengin hidup, Vin. Dan aku nggak bisa nyalahin itu.”
Air mata Vini jatuh diam-diam. “Kenapa kamu tetap di sini, Ron? Kamu sudah tahu semuanya.”