LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #56

Kita Hadapi Bersama

Matahari Kota Billboard terbit tanpa drama—sekadar cahaya kelabu yang merayap masuk lewat celah tirai, menyentuh lantai kamar yang masih menyimpan sisa dingin dari pengakuan semalam. Ron dan Vini terbangun hampir bersamaan. Anehnya, tidak ada kecanggungan di antara mereka. Namun keduanya sama-sama tahu: sesuatu telah bergeser, dan tidak akan pernah kembali ke posisi semula.

Ada benang tak kasat mata yang kini menautkan mereka lebih erat, sekaligus membuat segalanya terasa rapuh—seperti dua keping kaca retak yang saling menahan agar tidak runtuh sepenuhnya.

“Kamu tidur cukup?” Ron membelai pipi Vini dengan sentuhan yang hati-hati, seolah takut membangunkannya dari mimpi yang belum benar-benar selesai.

“Lumayan,” jawab Vini. Senyumnya kecil, berusaha ringan, tapi matanya menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya reda.

Mereka menjalani pagi seperti rutinitas biasa. Terlalu biasa, justru. Padahal malam tadi tak benar-benar memberi tidur—hanya tubuh yang saling mendekap, bertahan pada kehangatan, seolah jika pegangan itu terlepas, masa lalu akan kembali menyeret tanpa ampun.

Di depan pintu apartemen, Ron meraih jaketnya.

“Aku berangkat dulu.”

Vini mengangguk, namun napasnya tertahan sesaat. Ciuman Ron di keningnya terasa seperti janji—dan sekaligus perpisahan kecil yang selama ini selalu ia takutkan. Ron menahan wajah Vini dengan kedua tangan, menatapnya lama, seolah ingin menyimpan setiap detail wajah itu di ingatannya.

“Nanti siang, aku culik kamu dari studio,” ucap Ron pelan.

Vini mengerutkan dahi. “Hah? Mau dibawa ke mana?”

“Ada kejutan,” Ron tersenyum samar. “Penting. Buat masa depan kita.”

Kata-kata semalam kembali berdentang di kepala Vini: menikahlah denganku. Dadanya menghangat, tapi kecemasan ikut menyusup di sela-selanya. Ia mengangguk kecil.

“Baik,” ujarnya lirih. “Aku tunggu.”

Ron mengecup keningnya sekali lagi—lebih lama—lalu pergi.

Pintu menutup dengan bunyi klik yang terdengar terlalu final.

Vini melangkah ke jendela besar, memandang kota yang mulai hidup. Mesin mobil, langkah kaki, uap dingin dari aspal. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia tidak melihat mobil hitam itu. Tidak ada siluet. Tidak ada tatapan dari balik kaca gelap.

Semua tampak bersih. Normal. Aman.

Mungkin memang cuma ketakutanku sendiri, pikirnya, menyandarkan kening ke kaca yang dingin. Ron sudah berkorban begitu banyak. Aku nggak boleh terus hidup dalam paranoia.

Yang Vini tidak sadari: hilangnya predator bukan tanda ia pergi. Itu tanda ia tidak perlu lagi bersembunyi.

* * *

Sementara itu, di kantor redaksi Billboard Voice, pagi berubah menjadi siang yang gaduh. Telepon berdering, monitor berkedip, orang-orang berlalu-lalang membawa berita yang tak pernah benar-benar selesai.

Ron berdiri di depan mejanya, memasukkan kamera ke dalam tas. Ia melipat selembar kertas, menyelipkannya ke saku jaket tanpa melihatnya lagi—Sebuah katalog perhiasan dengan gambar cincin emas di halaman depannya.. Wajahnya tenang, namun ada sesuatu yang berbahaya di sana: keyakinan yang sudah melewati batas ragu.

Arman datang membawa dua kopi. Langkahnya melambat saat melihat Ron sudah siap pergi.

"Ron, kemarin aman? Kerjaan sudah aku backup, sisanya tinggal kamu review," ucap Arman sembari menaruh kopi di meja.

“Makasih, Man. Sudah bantu beresin semuanya.” Ron menoleh. “Aku dan Vini sudah sepakat. Kami hadapi ini bersama.”

Arman menatapnya lama. Terlalu lama. Ada kilau di mata Ron yang membuat dada Arman mengeras—kilau orang yang sudah memilih untuk terus melangkah, tanpa niat menoleh kembali.

“Ron, aku serius. Jangan bawa Vini masuk ke radius kasus Aureum. Kita tahu Bayu yang sekarang bukan kriminal biasa. Dia hidup di bawah permukaan—dan orang seperti itu nggak pernah berhenti berburu targetnya.”

“Aku tahu.”

Lihat selengkapnya