LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #57

Hadiah Kecil dari Dunia

Mereka tidak tahu, bahwa di suatu titik dalam jaring gelap kota ini, seseorang telah mencatat waktu, rute, dan arah langkah mereka—dan sedang menunggu dengan sabar.

Mobil Ron melaju membelah nadi Kota Billboard yang mulai berdenyut sibuk menyambut senja. Di kursi penumpang, Vini duduk diam, membiarkan pendar cahaya kota yang terpantul di kaca jendela menyapu wajahnya bergantian. Ron sesekali melirik ke arahnya—dan menemukan sesuatu yang asing sekaligus mengharukan.

Mata Vini hari ini menyimpan ketenangan kecil yang jujur. Bukan kedamaian yang utuh—karena mereka berdua tahu badai belum pergi—namun sesuatu yang nyaris menyerupainya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di bawah hujan setahun lalu, Vini tidak lagi terlihat seperti seseorang yang sedang berlari. Ia tampak seperti seseorang yang akhirnya berhenti, dan mengizinkan dirinya bernapas.

Mobil berhenti halus di depan sebuah toko perhiasan mewah. Fasadnya didominasi kaca hitam dengan lampu emas yang menyala lembut dari balik etalase. Tempat itu tidak berisik, tidak mencolok—namun memancarkan keanggunan yang tahu cara menyimpan mimpi dalam bentuk logam mulia.

Vini menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk: bingung, terpesona, dan sedikit… takut.

“Ron… kita ke sini buat apa?” tanyanya saat Ron membukakan pintu.

“Kita mau lihat sesuatu,” jawab Ron singkat sambil tersenyum. Senyum itu tulus—tidak lagi mempertanyakan segalanya, milik seorang pria yang akhirnya tahu ke mana ia pulang.

“Apa?”

Ron menggenggam tangan Vini dan menariknya lembut ke arah pintu masuk.

“Masa depan.”

Satu kata itu hampir membuat Vini kehilangan napas.

Di trotoar kecil Kota Billboard, di bawah langit senja yang mulai berwarna keemasan, dua jiwa yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang gelap melangkah masuk ke tempat yang memajang harapan-harapan kecil di dalam kotak beludru.

Toko itu sunyi. Musik klasik mengalun lirih dari speaker tersembunyi, dan cahaya lampu jatuh sempurna di atas kaca-kaca display berlian. Seorang resepsionis menyambut mereka dengan senyum profesional yang hangat.

“Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?”

Vini menoleh ke Ron, alisnya berkerut tipis, seolah masih memastikan ini nyata.

“Ron… kamu serius?”

Ron menatapnya tanpa ragu.

“Aku selalu serius kalau soal kamu, Vin. Dan aku nggak mau kehilangan waktu lagi. Bahkan satu detik pun.”

Mereka dipersilakan duduk di meja display khusus.

“Apakah Anda sedang mencari cincin tunangan… atau cincin pernikahan?” tanya resepsionis itu hati-hati.

Vini menunduk cepat, pipinya memanas. Ron menjawab lebih dulu, tenang dan pasti.

“Kami mencari yang tepat untuk kami berdua.”

Satu per satu cincin diletakkan di atas bantalan beludru: emas putih dengan berlian mikro, rose gold berukir halus, platinum minimalis. Hingga akhirnya, sebuah cincin sederhana muncul—satu lingkaran polos dengan satu batu kecil yang jernih, berkilau seperti setetes air mata yang tertangkap cahaya.

Vini tidak menyentuh satu pun. Bukan karena ia tidak suka, melainkan karena ia takut. Takut tangannya yang pernah berlumuran dosa akan menodai kesucian momen ini. Takut harapan ini terlalu suci untuk digenggam oleh seseorang yang pernah hidup di neraka.

Ron melihat keraguan itu.

Ia mengambil cincin emas putih yang paling sederhana itu.

“Yang ini.”

“Model klasik,” tambah resepsionis itu lembut. “Sederhana, tapi abadi. Cocok untuk pasangan yang menginginkan sesuatu yang bertahan lama.”

Lihat selengkapnya