Pagi itu terasa asing—terlalu terang, terlalu hangat, seolah Kota Billboard sedang mencoba menebus dosa-dosanya dengan cuaca yang nyaris sempurna. Cahaya matahari menyelinap lewat celah gorden, membasahi ruang tamu dengan warna madu yang lembut.
Ron terbangun lebih dulu. Ia berdiri di dekat meja makan, menatap kotak cincin beludru biru yang kini kosong. Refleksi cahaya pagi memantul di permukaannya yang terbuka—sunyi, namun sarat makna.
Cincin itu kini telah berpindah tempat.
Di jari manis Vini.
Ron tersenyum tanpa sadar. Senyum yang jujur. Senyum yang lama ia kira sudah mati bersama bagian hidupnya yang terlalu sering kalah oleh kenyataan.
Beberapa menit kemudian, Vini muncul dari kamar. Rambutnya sedikit kusut, hoodie kebesaran milik Ron menutupi tubuhnya, dan wajahnya masih menyimpan sisa kantuk yang lembut—terlalu manusiawi untuk seseorang yang pernah hidup di neraka.
“Kamu cantik sekali pagi ini,” gumam Ron pelan.
Vini mengucek mata. “Aku bahkan belum cuci muka. Belum apa-apa.”
“Justru itu.” Ron menarikkan kursi untuknya. “Aku lebih suka versi ini.”
Mereka sarapan dalam keheningan yang nyaman. Bukan diam yang canggung, melainkan diam yang penuh rasa aman. Ron meraih tangan Vini di atas meja, ibu jarinya mengusap lembut cincin yang kini melingkar di sana.
Vini menunduk, menyembunyikan binar yang tak sanggup ia kendalikan.
“Vin…” Ron menatapnya sungguh-sungguh. “Mulai hari ini, biarin aku yang ngurus semua persiapan pernikahan.”
Vini mendongak. “Hah? Semua?”
“Semuanya,” Ron terkekeh kecil. “Tempat, dekorasi, paket bridal. Kamu tinggal bilang suka atau nggak. Aku nggak mau kamu capek.”
Vini tertawa pelan. “Kenapa kamu semangat banget, sih?”
“Karena aku udah kebayang kamu pakai gaun putih, berdiri di sampingku.”
Vini menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Siap, calon suami.”
Ron tersedak kopinya sendiri.
Untuk sesaat—hanya sesaat—hidup terasa adil.
* * *
Studio 9 menyambut Vini dengan hiruk-pikuk biasa. Namun langkahnya hari ini terasa lebih ringan. Aura gelap yang dulu melekat seolah terkelupas, digantikan sesuatu yang rapuh tapi hangat.
Clarissa yang sedang memeriksa layar monitor menoleh, lalu langsung menyipitkan mata.
“Vin. Tangan kamu. Sini.”
Vini mendekat, masih tersenyum malu-malu. Clarissa menarik tangannya—dan membeku.
“INI APA?!”
Cincin itu berkilau di bawah lampu studio.
“Ron… semalam…,” Vini berkata pelan.
Clarissa menutup mulutnya. “Aku bangga sama kamu… tapi aku juga mau pingsan. Ini cepat banget!”
“ADA APA?!” Okky muncul dari balik backdrop.
“ADA YANG TUNANGAN!” teriak Clarissa.