Ron memacu mobilnya membelah jalanan Kota Billboard dengan kalap. Aspal basah memantulkan cahaya lampu kota seperti pecahan kaca, sementara jarum kecepatan merayap naik tanpa ia pedulikan. Bagi Ron, setiap detik bukan lagi satuan waktu—melainkan denyut yang memisahkan hidup dari kehilangan. Ia hanya punya satu tujuan: apartemen Vini. Satu-satunya tempat yang masih ia anggap benteng.
Dering ponsel tiba-tiba memecah kabin seperti sayatan pisau. Layar di dashboard menyala.
ARMAN.
Ron menekan tombol jawab dengan gerakan kasar. “Man?! Kamu di mana? Kamu oke?!”
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang panjang, berat, dan tidak wajar. Lalu terdengar napas.
Pelan. Dalam. Terkontrol.
Bukan napas orang yang ketakutan—melainkan napas seseorang yang memegang kendali.
“Ron.”
Satu kata itu membuat darah Ron seolah berhenti mengalir. Tangannya mencengkeram setir. Di kursi penumpang, Vini tersentak hebat. Pupil matanya mengecil, napasnya tertahan. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum pikirannya sempat menyangkalnya.
Suara dari mimpi buruk.
Suara yang mengajarinya bahwa cinta bisa berbentuk penjara.
“Aku sudah membaca profilmu,” lanjut suara itu, datar namun berlapis ejekan halus. “Lucu juga akhirnya kita bicara begini. Dulu kau menggagalkan rencanaku. Sekarang kau menggenggam sesuatu yang seharusnya milikku."
Ron menelan ludah.
“Bayu…”
Di seberang sana, terdengar helaan napas kecil—nyaris seperti senyum. “Harusnya kau berterima kasih padaku,” ucap Bayu ringan. “Tanpa kasusku dulu, kau takkan pernah jadi jurnalis yang terkenal itu.”
Suara itu berhenti sejenak, memberi ruang bagi ketegangan untuk membusuk.
“Aku dengar kalian berdua berniat pergi jauh,” lanjutnya. “Ide yang manis. Sayangnya… terlambat.”
Ron mengepal setir hingga buku jarinya memutih.
“Jangan main-main,” suaranya rendah, bergetar. “Kalau ini soal aku—”
“Aku sudah tahu alamat apartemen kalian,” potong Bayu tenang. “Aku juga tahu setiap studio tempat pacarmu bekerja.”
Vini menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Isak kecil teredam di telapak tangannya. Bayu tertawa lirih—seolah bisa merasakan ketakutannya menembus udara.
“Dan ada satu hal lagi,” ujar Bayu santai. “Temanmu… Arman. Dia sedang duduk rapi bersamaku sekarang.”
Dunia Ron runtuh tanpa suara. Jalanan di depannya berpendar, lalu buram. Semua persimpangan mendadak terasa salah.
“Bayu,” ucap Ron, suaranya pecah namun terkontrol, “kalau kau mencari aku—ambil aku. Jangan sentuh dia.”
“Tenang,” jawab Bayu, senyum liciknya terasa nyata bahkan melalui telepon. "Aku akan memberimu pilihan. Sebuah transaksi yang adil."