LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #60

Ciuman Perpisahan

Ron menyalakan mesin mobil dengan sentakan kasar. Napasnya berat, memburu di ruang kabin yang terasa semakin sempit, namun sorot matanya mengeras—tekad yang mengkristal seperti baja. Ia menginjak pedal gas, memacu kendaraan itu membelah jalanan Kota Billboard yang mulai remang. Di balik kaca jendela, cahaya lampu kota memanjang dan berputar, menyerupai garis-garis takdir yang sedang ditarik paksa oleh tangan-tangan yang tak terlihat.

“Ron… kita mau ke mana?” tanya Vini lirih, suaranya bergetar menahan tangis.

“Ke apartemen,” jawab Ron tanpa menoleh. “Kita ambil barang-barang penting. Paspor. Uang tunai. Setelah itu kita keluar kota. Sambil atur strategi.”

“Ron… Arman dalam bahaya,” Vini berusaha menahan suaranya agar tidak pecah. “Bayu nggak bakal ngelepasin dia.”

Ron mendadak menepi. Mobil berhenti di pinggir jalan. Ia menoleh, menatap Vini dengan intensitas yang nyaris menyakitkan.

“Aku nggak bakal biarin dia mati, Vin. Tapi aku juga nggak akan balikin kamu ke tangan iblis itu.”

Suaranya merendah, penuh amarah yang ditahan. “Kamu sudah jadi bagian dari hidupku. Dan aku bakal melindungi kamu, bahkan kalau aku harus melawan seluruh dunia.”

Air mata Vini jatuh lagi, membasahi cincin emas putih di jarinya. Ia meraih tangan Ron, menggenggamnya erat—sebuah genggaman yang memuat segalanya: cinta yang dalam, ketakutan yang mencekik, penyesalan yang terlambat, dan sebuah pertaruhan terakhir yang mulai ia susun diam-diam di dalam kepalanya.

* * *

Sementara itu, di dermaga kosong pelabuhan tua, waktu seolah melambat.

Lampu kuning redup di langit-langit memantulkan cahaya kusam ke lantai beton yang basah oleh rembesan hujan. Arman terikat kuat di kursi besi. Mulutnya berdarah, pelipisnya sobek meninggalkan jejak merah di wajah yang kuyu. Namun matanya tetap menyala—penuh perlawanan yang menolak padam.

Di hadapannya berdiri sebuah siluet tinggi yang tenang. Bayu.

Pria itu tampak sempurna dalam setelan jas biru navy bergaris tegas. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Arman dengan senyum tipis yang setajam pisau bedah. Jemarinya saling bertaut, seolah ia sedang menimbang sebuah transaksi dengan takdir.

“Kita lihat,” gumam Bayu lembut. “Apakah sahabatmu itu lebih mencintai kedamaian… atau memilih mempertahankan sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.”

Arman terengah, lalu meludahkan darah ke lantai.

“Dia… tidak… akan… datang padamu.”

Bayu tersenyum simpul—senyum yang jauh lebih mengerikan daripada amarah.

“Semua orang akan datang padaku pada akhirnya. Karena aku adalah akhir yang selalu mereka hindari.”

* * *

Sesampainya di apartemen, Ron bergerak dengan kewaspadaan tinggi. Ruangan itu terasa terlalu tenang. Terlalu bersih. Terlalu hidup untuk menjadi tempat di mana sebuah keputusan tentang kematian harus diambil.

Ia membuka laci demi laci dengan gerakan cepat, memasukkan dokumen, uang, dan obat-obatan ke dalam tas ransel. Tangannya cekatan, namun gugup—seolah ia sedang berlomba dengan detik-detik yang berdetak langsung di nadinya.

Vini berdiri mematung di dekat dinding. Ia mengamati setiap gerak Ron dengan mata yang perlahan kehilangan cahaya. Di dadanya, dua kekuatan besar saling bertarung: cinta yang ingin ia lindungi, dan masa lalu yang menuntut untuk dipulangkan.

Ron tidak menyadari perubahan itu.

“Kita lewat jalan tol utara,” katanya cepat. “Aku tahu motel kecil dekat perbatasan. Kita sembunyi dulu di sana. Habis itu aku bakal cari cara buat selamatin Arman—”

Langkahnya terhenti ketika Vini mendekat.

“Vin?” Ron menoleh, cemas. “Ada apa? Kita harus cepat.”

Vini tersenyum kecil. Terlalu lembut. Terlalu tenang untuk situasi segenting ini. Itu adalah senyum seseorang yang sudah mengambil keputusan dan berdamai dengannya.

Ia melangkah ke belakang Ron, seolah hendak memeluknya untuk terakhir kali.

Ron kembali menunduk, sibuk menarik resleting tas. Kesalahan paling manusiawi yang pernah ia lakukan.

Di atas meja dekat pintu tergeletak sebuah pengganjal pintu kayu—benda kecil yang dulu mereka beli bersama hanya karena bentuknya lucu. Vini meraihnya. Tangannya gemetar hebat, bukan karena ragu, melainkan karena betapa ia mencintai pria yang sebentar lagi akan ia lukai.

Maafin aku, Ron…

Ia mengangkat benda tumpul itu tinggi-tinggi.

“Vin? Kamu perlu bantu—”

Lihat selengkapnya