Vini melangkah.
Langkahnya berat—langkah seseorang yang telah memilih mematikan hatinya sendiri agar jantung orang lain tetap berdetak. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak. Bahunya bergetar, namun ia menolak untuk berbalik sepenuhnya. Ia hanya menoleh sedikit, mencuri satu tatapan terakhir ke arah Ron yang tergeletak di lantai ruang tamu.
Jika cinta adalah rumah, maka bagi Vini, Ron adalah seluruh kota tempat rumah itu berdiri.
Dan malam ini, Vini sedang meninggalkan kota itu—sendirian.
Dengan tangan yang gemetar namun pasti, ia memutar gerendel dan membuka pintu apartemen.
Koridor menyambutnya dengan cahaya kuning redup yang dingin dan tak ramah. Dua pria berbadan besar berdiri menunggu. Setelan jas hitam mereka rapi tanpa cela. Wajah datar. Mata kosong. Mereka tidak membawa senjata yang terlihat—mereka tidak membutuhkannya. Kehadiran mereka sendiri sudah cukup menjadi ancaman.
Pria di sebelah kiri menundukkan kepala sedikit.
“Lady V?”
Nada suaranya sopan. Terukur. Terlalu sopan untuk sebuah penculikan.
Namun satu kata itu—Lady V—menghantam lebih keras daripada pukulan apa pun. Sebuah nama yang pernah ia kubur bersama darah, debu, dan ketakutan. Nama yang seharusnya sudah mati.
“…ya,” jawab Vini pelan.
“Bos sudah menunggu,” ujar pria satunya sambil memberi isyarat ke arah lift.
“Kami akan mengantar Anda.”
Vini mengangguk kaku. Pandangannya sempat melirik ke arah tas ransel yang tadi disiapkan Ron—simbol rencana pelarian yang kini tak lagi punya arti.
“Tidak perlu membawa apa pun, My Lady,” tambah pria itu, seolah membaca pikirannya.
“Semuanya sudah tersedia di sana. Seperti dulu.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang perlahan diputar.
Vini menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak, menyimpan aroma kayu cendana dan kopi dari apartemen itu ke dalam ingatannya—aroma kehidupan yang tidak pernah benar-benar ia miliki—lalu melangkah keluar.
Pintu apartemen menutup dengan bunyi klik pelan.
Suara kecil itu terdengar seperti retakan sejarah.
Retaknya masa depan yang baru saja berani mereka bayangkan.
Retaknya dua hati yang hanya ingin hidup tenang.
Di dalam, Ron masih terbaring dalam gelap, tak tahu bahwa separuh jiwanya baru saja pergi dengan sukarela.
Di luar, Vini berjalan diapit dua bayangan hitam menuju lift yang terbuka—menganga seperti rahang mesin yang telah lama menunggu mangsanya kembali.
Lift berdenting pelan.
Vini masuk.
Pintu menutup rapat, memisahkannya dari dunia yang bersih.
Hening.