Malam di dermaga pelabuhan tua itu terasa seperti ruang tanpa ingatan. Angin laut membawa aroma garam dan besi berkarat, berembus tajam namun gagal mengusik keheningan yang membeku. Airnya gelap dan tenang—siap menelan apa pun tanpa riak, tanpa saksi. Lampu-lampu kuning berdiri berjajar, memantulkan cahaya muram dan menarik bayangan panjang di permukaan hitam yang tak bernapas.
Di tempat itu, sebuah reuni yang tak pernah bisa dihindari akhirnya terjadi.
Dua manusia yang dibentuk oleh kerasmya hidup.
Dua jiwa yang belajar menjadi kegelapan karena cahaya selalu memilih menjauh.
Vini dan Bayu—dua sisi dari koin yang sama—kini berdiri berhadapan, disatukan kembali oleh badai yang melingkar dalam takdir mereka.
Bayu berdiri tenang, posturnya santai, seolah ia hanya menyambut seseorang yang baru pulang dari perjalanan panjang. Senyumnya tipis, terkendali. Bagi orang lain, itu mungkin tampak memesona. Bagi Vini, itu adalah seringai neraka yang paling ia kenal.
Vini melangkah maju. Setiap derap sepatu di atas beton dermaga berbicara lebih lantang daripada kata-kata:
Aku datang. Aku memilih. Tapi aku tidak tunduk.
Bayu terkekeh pelan. Bukan tawa yang lahir dari humor—melainkan suara kosong yang biasa ia gunakan untuk menutup lubang jiwanya sendiri.
“Jadi sekarang…” Bayu memiringkan kepala, matanya menyisir wajah Vini tanpa malu, “…namamu resmi ‘Vini’, ya?”
Ia mengangguk kecil, seolah mencatat sesuatu.
“Baik. Kalau begitu… aku akan memanggilmu Vini.”
Bayu melangkah satu tapak mundur, lalu membuka kedua tangannya perlahan—gestur yang dulu pernah berarti perlindungan, kini hanya klaim kepemilikan.
“Atau,” suaranya merendah, lembut sekaligus mengancam, “…kamu lebih suka aku memanggilmu dengan nama aslimu?”
Sorot mata Vini langsung mengeras.
“Jangan,” desisnya.
“Sebut. Nama itu. Lagi.”
Udara di antara mereka menegang.
“Atau aku pastikan tempat ini jadi titik terakhir kau bernapas.”
Bayu mengangkat kedua tangan ringan, seolah baru saja ditegur manja.
“Oke. Oke.” Ia tersenyum kecil. “Tenang, Sayang. Aku hanya bernostalgia.”
Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya. Tatapan langsung mereka bertabrakan—dan di mata Bayu, ada kilau kegilaan yang tak pernah benar-benar hilang.
“Tapi aku senang,” lanjutnya pelan. “Amarahmu masih utuh. Watakmu masih sama. Tidak peduli berapa banyak pria yang mencoba memilikimu… kamu tetap kembali.”
Vini mengepalkan tangan di dalam saku jaket. Satu gerakan impulsif saja, dan Arman akan mati.
“Mana Arman?” tanyanya dingin.
Bayu menjentikkan jari.
Dari balik kontainer tua yang berkarat, dua pria muncul menyeret sesosok tubuh yang hampir tak berdaya. Arman. Wajahnya lebam, pakaianya kotor oleh darah dan debu. Saat ia mendongak dan melihat Vini, keterkejutan meledak di matanya.
“Vini…?” suaranya pecah. “Kenapa kamu—kenapa kamu di sini? Ron di mana?!”
Vini tak menjawab.
“Lepaskan dia,” ucapnya pelan, namun suaranya bergetar meski ia berusaha menyembunyikannya.
“Tentu.” Bayu mendekat ke Arman, menepuk bahunya seperti sahabat lama.
“Dia menjalankan tugasnya dengan baik. Tanpa dia, mungkin aku harus bersabar lebih lama, menunggumu keluar dari lubang persembunyian.”
Ia menoleh ke Vini.
“Sekarang, berdirilah di sini. Di sampingku. Dan dia boleh pulang.”
Arman menggeleng lemah. “Vin—jangan—”