LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #63

Setelah Neraka Pergi, Sunyi yang Tinggal

Malam semakin pekat, seolah-olah Kota Billboard sedang berusaha mengubur dosa-dosanya sendiri. Tepi dermaga selatan bukan tempat bagi manusia untuk ditemukan; ia adalah pembuangan bagi apa pun yang telah selesai dipakai, dilupakan, atau sengaja disingkirkan.

Angin laut berembus tajam, membawa aroma garam dan karat besi yang menusuk—bau luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Di bawah lampu jalan yang redup dan berkedip payah, seorang pria tergeletak bersandar pada tiang besi. Kepalanya tertunduk, tubuhnya bergetar halus oleh dingin yang menembus hingga ke tulang.

Itu Arman.

Sahabat Ron sejak masa kuliah. Pria yang selalu berdiri dengan kepala dingin dan logika yang tegak—kini roboh, remuk, bahkan tak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.

Mobil Ron berhenti mendadak dengan decit ban yang memekakkan. Ia melompat keluar sebelum mesin benar-benar mati. Clarissa menyusul di belakang, langkahnya tersendat ketika pemandangan itu menghantamnya tanpa ampun.

“ARMAN!” teriak Ron, suaranya pecah, menggema di kesunyian dermaga.

Arman mengangkat kepala dengan susah payah. Separuh wajahnya membiru oleh lebam, darah kering menghitam di sudut bibir dan hidungnya. Salah satu kakinya tertekuk ke arah yang salah—patah dengan cara yang kejam.

Ron jatuh berlutut di hadapannya. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh bahu sahabatnya itu.

“Arman… lihat aku… Tuhan… apa yang mereka lakukan padamu…”

Arman mencoba tersenyum—senyum paling rapuh dan paling menyakitkan yang pernah Ron lihat.

“Ron… kamu lama sekali…” suaranya serak, hampir habis. “Aku sempat mikir… kamu nggak akan datang.”

Ron menunduk, air mata akhirnya jatuh mengenai punggung tangannya. Clarissa menutup mulutnya, menahan isak yang tak lagi patuh pada logika.

“Ya Tuhan…” bisik Clarissa. “Siapa yang melakukan ini…?”

Arman memejamkan mata. Sisa tenaganya terkuras hanya untuk satu kalimat.

“Jangan… di sini…”

Lihat selengkapnya