LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #64

Jamuan di Atas Luka

Restoran itu bertengger di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima, menghadap langsung ke pantai Kota Tanjung Solara. Dari balik dinding kaca, lampu-lampu yacht yang bersandar membingkai laut seperti lukisan mahal—berkilau, tenang, dan sepenuhnya tak peduli pada dunia bawah yang berdenyut di baliknya.

Vini duduk tegak di kursinya.

Gaun hitam sederhana membalut tubuhnya dengan potongan bersih dan elegan—pilihan Bayu. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada satu pun retakan yang terlihat. Tak seorang pun di ruangan itu akan mengira bahwa perempuan yang tampak seperti bangsawan ini baru saja menghancurkan hidupnya sendiri demi menyelamatkan dua nyawa.

Di seberangnya, Bayu duduk santai, seolah mereka hanyalah pasangan lama yang kembali ke rutinitas yang sempat tertunda.

“Tenang saja,” ujar Bayu sambil menuangkan anggur merah ke gelas Vini. “Ini bukan makan malam bisnis.”

Vini tidak menyentuh gelas itu.

“Ini perayaan kecil,” lanjut Bayu ringan, “untuk kepulanganmu.”

Tatapan Vini tetap lurus ke piring porselen putih di depannya.

“Kepulanganku? untuk apa?”

Bayu tersenyum. Senyum seorang pria yang merasa satu lingkaran besar dalam hidupnya akhirnya tertutup.

“Karena semuanya hampir selesai, Sayang.”

Pelayan menyajikan hidangan pembuka lalu mundur dengan langkah senyap. Bayu menunggu hingga jarak itu aman sebelum melanjutkan.

“Aeruem tinggal selangkah lagi menjadi milik kita sepenuhnya,” katanya, nada suaranya santai seperti sedang membahas cuaca. “Dewan direksi sudah retak. Investor lama mulai panik.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan,

“Tinggal satu tanda tangan. Dan satu wajah yang tepat di depan publik.”

Tatapannya menancap pada Vini.

“Kamu.”

Vini mengangkat mata perlahan. Sorotnya dingin, terkendali.

“Aku bilang aku ikut. Bukan berarti aku lupa siapa dirimu.”

Bayu terkekeh pelan.

“Dan itulah yang membuatmu berharga,” katanya tenang. “Kamu tidak pernah lupa. Kamu hanya… memilih.”

Lihat selengkapnya