LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #65

Suara Lembut dari Masa Lalu

Sementara itu, malam di rumah sakit merayap seperti kabut yang enggan pergi. Di sofa ruang tunggu, Clarissa telah lebih dulu menyerah pada kelelahan, tertidur pulas di balik selimut tipis yang disediakan perawat. Sunyi hanya dipecah oleh dengung mesin pendingin ruangan dan deru halus hujan yang masih setia mengetuk jendela.

Ron, yang sejak tadi terjaga menatap cakrawala Kota Billboard yang basah, akhirnya tak mampu lagi melawan berat kelopak matanya. Ia tertidur dalam posisi duduk di kursi ruang tunggu, kepala bersandar pada dinding yang dingin. Di luar sana, kota tampak seperti kenangan yang membusuk—berpendar oleh neon, namun terasa asing dan beku.

Di kaca jendela yang buram oleh embun, refleksi wajah Ron yang terpejam tampak goyah. Perlahan, bayangan itu seolah membelah diri menjadi dua siluet: Ron hari ini yang dipenuhi amarah dan kehilangan, dan Ron di masa lalu—yang masih terjebak dalam rasa bersalah yang tak pernah benar-benar ia lepaskan.

Di dalam lelapnya, sebuah gerbang memori terbuka. Pahit. Sesak.

Ron kembali ke hari itu.

Ia mendorong pintu bangsal rumah sakit untuk terakhir kalinya. Bau antiseptik yang tajam langsung menyerang indra penciumannya. Di atas ranjang, terbujur tubuh itu—wajah yang dulu ia cintai, kini tertutup kain putih rumah sakit yang dingin dan tak bernyawa.

Sisa ketakutan seolah masih menempel di kulit perempuan itu, seperti debu yang menolak untuk dibersihkan. Ron kembali merasakan sensasi membeku saat ia mendekap tubuh yang telah berhenti bernapas. Dingin. Kosong. Terlalu sunyi untuk disebut kematian yang adil.

“Jangan…” igau Ron dalam tidurnya, bibirnya bergetar. “Jangan biarkan itu terjadi lagi…”

Lalu, di tengah kegelapan mimpi, sebuah suara muncul.

Lembut. Tenang. Seperti embun yang jatuh perlahan di atas luka yang lama menganga.

“Jangan biarkan apa, Ron?”

Ron tersentak di dalam dunianya sendiri. Di hadapannya berdiri sebuah siluet yang telah lama ia kunci di sudut terdalam ingatannya. Dadanya bergetar hebat. Ia merasa seperti sedang menatap seseorang yang seharusnya sudah menjadi tanah.

“Kau…” suara Ron bergetar. “Benarkah itu kau?”

Air mata menggenang tanpa bisa ia tahan. “Maafkan aku… aku datang ketika semuanya sudah terlambat. Aku gagal menyelamatkanmu waktu itu. Aku benar-benar minta maaf—”

Siluet itu menggeleng pelan.

“Kau tidak perlu meminta maaf, Ron,” ucapnya lembut. “Hidupku sudah runtuh jauh sebelum namamu mengeja hariku.”

Ia melangkah mendekat. Jemari yang nyaris tak kasatmata menyentuh pipi Ron, menyapu garis-garis kesedihan yang telah menetap di sana selama bertahun-tahun.

“Akulah yang seharusnya berterima kasih,” lanjutnya. “Kamu merawat diriku yang sudah tak lagi utuh. Kamu memberi warna pada hari-hariku yang tersisa. Itu cukup.”

Tangis Ron pecah. Tak terbendung. Ia merosot, mencengkeram bayangan jemari itu seolah takut kehangatannya akan lenyap jika ia melepasnya sedikit saja.

“Aku rindu padamu,” bisiknya lirih. “Aku sungguh merindukanmu. Aku tidak tahu bagaimana bisa bertahan sejauh ini dengan rasa bersalah yang terus menghantuiku.”

Siluet itu tertawa kecil—suara yang terdengar seperti denting kaca halus di udara malam.

“Kamu tidak seharusnya bertahan sendirian dengan itu,” katanya. “Kamu harus melanjutkan hidupmu, Ron. Aku hanyalah bagian dari masa lalumu yang belum sepenuhnya kamu lepaskan.”

Ia mencondongkan tubuh, menyentuhkan dahinya ke dahi Ron. Kehangatan fana menjalar, menyusup ke saraf-saraf yang selama ini membeku.

“Kau masih punya banyak waktu,” bisiknya. “Untuk memperjuangkan masa depanmu. Jangan biarkan dia mengalami apa yang aku alami. Jangan biarkan sejarah mengulang dirinya melalui orang yang kamu cintai.”

Ron memejamkan mata erat-erat. Air matanya jatuh deras, menghujani pipinya yang kuyu. Napasnya memburu, mencoba menghirup sisa kehadiran yang perlahan memudar.

“Terima kasih,” ucap Ron lirih. “Karena sudah membuatku kuat saat aku terpuruk. Tapi… aku belum sepenuhnya bisa menghapusmu dari ingatanku.”

“Tak perlu,” jawab suara itu, kini semakin samar. “Aku sudah melihat semuanya dari tempat yang damai. Suatu hari nanti, ketika badai ini usai… kamu dan dia akan melepasku bersama-sama.”

Hening sejenak.

“Sampai jumpa, Ron.”

Siluet itu memudar, menyatu dengan kegelapan mimpi yang tenang.

Ron tersentak bangun di kursi ruang tunggu. Dadanya naik turun, matanya basah, jantungnya berdegup kencang. Namun ada sesuatu yang berbeda kini—beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia menatap ke arah jendela. Hujan telah reda, meninggalkan jejak-jejak air yang berkilau di bawah lampu jalan.

Lihat selengkapnya