LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #66

Kehadiran yang Dibiarkan

Pagi di rumah sakit datang seperti tamu yang ragu-ragu. Cahaya matahari tidak masuk dengan percaya diri; ia menyelinap tipis melalui sela tirai, pucat dan berhati-hati, seolah takut mengganggu tubuh-tubuh yang masih bernegosiasi dengan rasa sakit. Lorong-lorong tetap sunyi, diisi dengung mesin dan langkah perawat yang bergerak pelan—seperti doa yang ditahan agar tidak membangunkan maut.

Arman membuka mata dengan napas tertahan di tenggorokan. Langit-langit putih di atasnya terasa terlalu dekat, seakan siap runtuh menghimpitnya. Kepalanya berdenyut—nyeri tumpul yang menyebar perlahan, seperti gema palu yang dipukul dari dalam tempurung. Ia mencoba menggerakkan bahunya, refleks lama seorang jurnalis yang ingin segera bangkit, namun tubuhnya langsung mengirim peringatan keras.

“Ah—”

Desis itu lolos sebelum ia sempat menahannya. Kaki kanannya terasa berat dan asing. Saat ia menoleh dengan susah payah, realitas menyambut tanpa basa-basi: perban tebal, rangka penyangga logam, dan sisa panas operasi yang masih berdenyut di balik kain putih. Tangannya bergerak insting, lalu terhenti oleh selang infus yang menusuk kulit. Di samping ranjang, monitor detak jantung berdetak teratur—

bip… bip… bip…

—seperti jam yang memastikan ia masih diberi waktu.

Arman mengembuskan napas panjang yang pahit. “Sepertinya aku nyaris nggak selamat semalam.” ucapnya pada diri sendiri.

“Jangan bodoh.”

Suara itu datang dari sudut ruangan. Datar, namun menyimpan kehangatan yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan.

“Bersyukur kamu masih hidup sekadar buat merasa sakit.”

Arman menoleh. Di dekat jendela, Clarissa duduk di sofa kecil. Rambutnya diikat seadanya, tanpa riasan yang biasa menegaskan wajah tegasnya. Ia masih mengenakan blazer yang sama dengan semalam—kini kusut, jelas tak pernah dilepas. Di tangannya, segelas kopi kertas yang sudah dingin entah sejak kapan. Tatapannya lelah, namun tetap utuh.

Arman tersenyum kecil. Senyum tipis seseorang yang baru menyadari bahwa ia tidak sendirian di ambang batas.

“Kamu… belum pulang?” Suaranya serak, akibat bekas luka dan malam operasi yang panjang.

Clarissa mengangkat bahu ringan, menyesap kopi hambar itu.

“Belum sempat. Kopi rumah sakit terlalu buruk untuk ditinggal sendirian.”

Arman menelan ludah. Tenggorokannya kering.

“Terima kasih,” katanya pelan. “Sudah… ada di sini.”

Clarissa mendengus kecil, tapi matanya tak sempat berbohong.

“Anggap saja balas budi. Kamu sudah meliput perjalananku sejak aku belum berarti apa-apa di industri ini.”

“Itu… karena permintaan redaksi,” Arman mencoba berkelakar—yang langsung ia sesali saat otot perutnya menegang oleh rasa sakit yang menyambar.

“Alasan klise.” Clarissa menatapnya dari balik gelas kopi. “Faktanya, cuma kamu yang mau menatapku sebagai manusia saat menulis. Yang lain terlalu sibuk mengejar wajah baru atau sudut foto yang menjual. Kamu… menulis tentang perjuanganku.”

Arman terdiam. Ia mengalihkan pandangan ke jendela, tempat debu-debu halus menari dalam sinar pagi.

“Karena kamu memang layak diberi ruang, Clar. Bukan cuma sebagai wajah di atas catwalk. Tapi sebagai seseorang yang berdarah-darah mempertahankan prinsip di kota sekejam Billboard.”

Clarissa membeku sejenak.

Ia terbiasa dengan pujian—tentang kecantikan, ketegasan, profesionalisme. Namun jarang ada yang mengakui darah dan harga yang harus dibayar untuk semua itu.

Lihat selengkapnya