Hari itu cerah di Tanjung Solara. Langit biru terbentang tanpa cela, sementara matahari jatuh tepat di atas permukaan laut, memantulkan cahaya yang berkilau seperti serpihan kaca emas tak terhitung jumlahnya. Angin bergerak ramah, membawa aroma asin yang segar dan ilusi kebebasan—jenis hari yang biasa digunakan kota ini untuk menjual kebohongan bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun bagi Vini, hari itu terasa sebaliknya.
Di balik kaca gelap mobil hitam yang melaju perlahan menuju dermaga privat, cahaya matahari justru terasa menyengat—hampir kejam. Terlalu terang untuk sebuah pertemuan yang direncanakan di bawah bayang-bayang. Terlalu bersih untuk sesuatu yang digerakkan oleh tangan dingin Bayu.
Bayu duduk di sampingnya, tenang seperti biasa. Setelan jas abu-abu terang membingkai tubuhnya dengan rapi, membuatnya tampak seperti eksekutif muda yang sukses—bukan pria yang membangun kerajaannya dari pengkhianatan dan darah. Tangannya bertumpu santai di paha, rahangnya rileks, seolah ia sedang menuju jamuan makan siang biasa, bukan ke titik di mana loyalitas akan diuji dan dipatahkan.
“Kau kelihatan tegang, Sayang,” ucap Bayu ringan, tanpa menoleh.
Vini mengalihkan pandangan dari jendela. “Aku hanya… tidak suka kejutan.”
Bayu tersenyum tipis—senyum yang berhenti di bibir, tak pernah benar-benar mencapai mata.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “hari ini akan terasa sangat membosankan untukmu.”
Mobil berhenti di depan sebuah gudang tua yang menghadap langsung ke laut lepas. Bangunan itu keras kepala—pondasi beton tebal, cat yang mengelupas, arsitektur lama yang menolak tunduk pada kemewahan baru Kota Billboard. Seperti pemiliknya.
Hendrawan sudah menunggu.
Pria itu berdiri tegak dalam jas cokelat tua yang sederhana. Rambutnya memutih di pelipis, namun tubuhnya memancarkan wibawa orang-orang lama—mereka yang tidak terbiasa membungkuk pada kekuasaan yang baru belajar berdiri. Di belakangnya, tiga anak buah berjajar rapi. Setia. Siap. Setidaknya, itulah yang tampak.
Saat Hendrawan melihat Bayu, ia mengangguk singkat. Sebuah salam yang mengandung pengakuan, namun bukan kepatuhan.
Lalu pandangannya jatuh pada sosok di sisi Bayu.
Langkahnya terhenti sepersekian detik.
“…Violet?”
Nama itu terucap lirih—hampir seperti doa yang salah alamat.
Vini membeku. Nama itu menghantamnya seperti sengatan listrik. Hendrawan menatapnya dengan campuran keterkejutan dan iba—tatapan orang lama yang sudah terlalu sering melihat kematian menjemput orang-orang yang pernah ia lindungi.
“Jadi… kau kembali kepadanya,” ucap Hendrawan pelan, sarat kekecewaan.
“Kuasumsikan pria yang sebelumnya bersamamu itu sudah mati.”
Jantung Vini berdegup liar. Ia tidak mampu menjawab.
Bayu tertawa kecil, memecah ketegangan.
“Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Hendrawan. Dunia tidak selalu setaat logika lamamu.”
Mereka melangkah masuk ke dalam gudang. Cahaya matahari menembus dari pintu besar yang terbuka, membelah ruangan menjadi dua: terang di depan, gelap pekat di belakang. Debu-debu halus melayang di udara, berkilau indah—seperti abu sisa pembakaran yang belum sempat jatuh.
Pembicaraan dimulai nyaris banal.
Bayu berbicara tentang sinkronisasi data, efisiensi distribusi, masa depan Aeruem yang gemilang. Hendrawan mendengarkan dengan tenang, sesekali menyela dengan prinsip stabilitas dan fondasi lama—hal-hal yang, menurutnya, tak bisa digantikan oleh ambisi yang terburu-buru.
Vini berdiri sedikit di belakang Bayu. Udara terasa berubah. Lebih dingin, meski matahari sedang terik di luar.
Lalu Bayu berhenti bicara.
Ia merapikan manset kemejanya.
“Masalahnya, Hendrawan,” katanya pelan, “kau terlalu nyaman berdiri di atas prinsipmu sendiri.”
Ia menatap lurus.
“Dan prinsip itu mulai menghalangi jalanku.”
Hendrawan mengerutkan kening. “Aku hanya tidak mau menjual punggungku pada sistem yang rapuh.”
“Dan karena itu,” ujar Bayu tenang, “kau tidak bisa dibiarkan hidup.”
Segalanya terjadi tanpa aba-aba.
Salah satu anak buah Hendrawan bergerak lebih dulu—bukan ke arah Bayu, melainkan ke arah bosnya sendiri. Sebilah pisau muncul dari balik jaket, menancap cepat dan dalam ke sisi perut Hendrawan.
Vini menjerit tertahan, menutup mulutnya.
“Tidak—!”