Pagi itu, Kota Billboard lupa cara bernapas. Ritme kota tak lagi ditentukan oleh deru mesin atau klakson kemacetan, melainkan oleh kegelisahan kolektif yang merayap dari layar-layar ponsel. Di halte yang lembap, di sudut kafe yang biasanya riuh, hingga lobi gedung pencakar langit—semua pasang mata terpaku pada satu hal yang sama. Terkejut. Waspada. Menahan napas.
Satu nama melesat melampaui algoritma, menjadi bisikan yang tertahan di tenggorokan.
BAYU.
Empat huruf. Tanpa gelar. Tanpa potret yang jelas. Tanpa riwayat yang sepenuhnya tersibak. Namun empat huruf itu cukup untuk mengirimkan gelombang kejut, membuat detak jantung kota berpacu tak beraturan.
Investigasi Billboard Voice meledak seperti percikan api di atas genangan bensin. Media nasional bergerak cepat—mengutip, menautkan, merajut spekulasi dalam judul-judul yang berhati-hati, namun tajam. Tidak ada yang berani menuduh secara telanjang. Tapi semua orang tahu: sesuatu yang besar baru saja dibuka.
Di ruang redaksi Billboard Voice, kewarasan sedang diuji.
Telepon berdering bersahutan, menciptakan simfoni kekacauan. Suara para staf bertabrakan antara histeria dan kepanikan profesional. Di satu lini, ada suara bariton yang memerintahkan berita segera diturunkan. Di lini lain, seseorang yang mengaku mitra strategis menuntut klarifikasi dengan nada mengancam.
Namun di tengah kebisingan itu, satu pertanyaan meluncur—terlalu tenang. Terlalu dingin.
“Siapa Ron?”
* * *
Sementara itu, di punggung bukit yang menghadap cakrawala laut lepas, sebuah vila berdiri dalam kesunyian yang angkuh. Tersembunyi di balik barisan pepohonan rapat dan penjagaan ketat, bangunan itu bukan sekadar tempat pelesir. Ia adalah menara pengawas. Benteng bagi mereka yang ingin melihat dunia tanpa perlu terlihat.
Hantaman keras pada pintu kayu jati memecah keheningan.
Langkah kaki yang tergesa menghantam lantai marmer koridor. Napas memburu itu tak lagi berusaha menyembunyikan ketakutan.
“Bos—!”
Pria muda itu berhenti di ambang pintu ruang kerja utama. Tangannya gemetar saat mendorong daun pintu tanpa sempat menunggu izin.
Di dalam, Bayu berdiri menghadap jendela besar. Ia tidak bergeming. Cahaya pagi menyapu punggungnya, membentuk siluet yang kaku dan absolut—seperti monumen yang menolak runtuh, betapapun keras badai menghantam.
“Apa yang gawat?” suara Bayu mengalun pelan.
Datar. Terlalu datar untuk seseorang yang dunianya baru saja diguncang.
“Nama Bos… bocor ke publik.” Pria itu menelan ludah, suaranya parau. “Lengkap. Ejaannya presisi. Mereka mengaitkannya dengan Aeruem—dengan jaringan distribusi bayangan. Media nasional sudah mulai menggorengnya.”
Barulah Bayu bergerak.
Ia berbalik perlahan, mengambil tablet yang disodorkan dengan gerakan sangat terukur. Pandangannya jatuh ke layar. Judulnya tajam. Subjudulnya disusun dengan logika rapi—tidak emosional, tidak terburu-buru menghakimi.
Justru ketenangan itulah yang mematikan.
Bayu membacanya sekali. Lalu dua kali. Kemudian, sebuah lengkungan tipis muncul di sudut bibirnya.
Bukan senyum marah. Bukan pula kepanikan. Itu senyum seorang predator yang baru menyadari bahwa mangsanya balik menggigit.
“Jurnalis ini…” gumam Bayu, hampir terdengar seperti pujian. “Ron.”
Ia mengembalikan tablet itu seolah benda tersebut sudah kehilangan nilainya. “Jadi… dia memilih menabuh genderang perang di halaman rumahku sendiri.”
“Apa perlu kita… selesaikan sekarang, Bos?” tanya anak buahnya, suaranya bergetar antara kesetiaan dan rasa takut.
Bayu menggeleng pelan. Matanya berkilat—hidup oleh kecerdasan yang dingin dan berbahaya.
“Jangan.” Suaranya tenang. “Kalau aku membungkamnya sekarang, dia akan jadi martir. Dan martir selalu lebih merepotkan daripada musuh yang masih bernapas.”