LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #69

Kumohon, Berhentilah

Menjelang siang, kantor redaksi Billboard Voice tidak lagi terasa seperti sebuah kantor berita; ia menjelma menjadi pasar malam yang baru saja dilindas badai. Kekacauan tumpah hingga ke lobi. Wartawan dari media pesaing berkerumun di balik pagar, mencoba memancing pernyataan. Konsultan hukum dengan tas kulit mahal berlalu-lalang dengan wajah tegang, sementara telepon di meja resepsionis menjerit tanpa henti—seolah memohon untuk dimatikan.

Berita tentang Aeruem telah meracuni udara kota. Setiap orang yang memiliki saham, kepentingan, atau rahasia terkait Bayu kini merasa kulitnya terbakar. Dan tanpa perlu komando, semua arah pandang berujung pada satu titik: gedung ini.

Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah kendaraan muncul dari tikungan jalan utama.

Sebuah sedan panjang berwarna hitam pekat, dengan kaca film yang begitu gelap hingga tampak seperti lubang hitam yang bergerak membelah aspal. Mobil itu melaju tanpa suara mencolok—namun auranya menyesakkan, seolah suhu di sekitarnya turun beberapa derajat.

Kendaraan itu berhenti tepat di depan barikade keamanan.

Seorang penjaga gerbang melangkah maju, tangan bertumpu di pinggang, wajahnya lelah oleh tekanan pers sejak pagi.

“Selamat siang, Pak. Ada keperluan apa? Area ini sedang tertutup untuk umum,” ucapnya dengan nada yang sudah terlalu sering dipakai untuk menolak.

Kaca mobil turun perlahan.

Hanya menyisakan celah sempit—cukup untuk memperlihatkan sepasang mata dingin, dan sebuah tangan yang mengangkat lencana logam berwarna kuning emas. Sebuah simbol otoritas yang jarang muncul di permukaan, namun sangat ditakuti di balik layar pemerintahan Kota Billboard.

Penjaga itu membeku. Matanya membelalak. Ia menelan ludah sebelum buru-buru menegakkan punggungnya.

“O-oke… silakan, Pak. Buka gerbangnya! Sekarang!”

Mobil itu meluncur masuk ke area parkir VIP tanpa hambatan.

Pintu terbuka hampir bersamaan. Empat pria turun dengan gerakan yang sangat terukur—nyaris mekanis. Setelan jas hitam mereka rapi tanpa cela, kacamata gelap menutup ekspresi, langkah kaki mereka berirama tegas di atas lantai marmer lobi.

Keheningan dipaksakan hadir.

Pegawai yang tadi berdebat mendadak bungkam. Jurnalis-jurnalis muda yang biasanya vokal mendadak sibuk menunduk. Keempat pria itu tidak membawa senjata yang terlihat, namun aura eksekutor yang mereka bawa terasa lebih mematikan daripada laras pistol.

Mereka melintasi ruang redaksi tanpa melirik siapa pun. Setiap pasang mata mengikuti mereka dengan ngeri yang merayap. Mereka berhenti di depan meja resepsionis pusat.

“Kami ingin bertemu dengan Bima,” ucap salah satu dari mereka. Suaranya datar, namun menembus.

Resepsionis itu gemetar saat menyentuh gagang telepon.

“A-apakah ada janji sebelumnya, Pak?”

Pria itu menatapnya dari balik lensa gelap.

“Katakan padanya, perwakilan Badan Stabilitas Kota sudah di sini.”

Ia berhenti sejenak.

“Kami tidak membutuhkan janji untuk memasuki tempat yang akan segera kami segel.”

Kabar kedatangan mereka mencapai lantai eksekutif bahkan sebelum lift tiba.

Pak Bima sudah berdiri di ambang pintu ruangannya ketika keempat pria itu keluar dari lift. Wajahnya tenang, namun rahangnya mengeras—ia tahu betul siapa yang sedang ia hadapi.

“Tepat waktu seperti biasa,” sindir Pak Bima pelan.

“Kami tidak menyukai berita yang tidak memiliki landasan hukum,” balas pemimpin rombongan itu sambil melangkah masuk tanpa menunggu undangan. “Terutama jika berita itu berpotensi mengganggu stabilitas.”

Keempat pria itu masuk.

Pintu kaca buram menutup dengan bunyi klik yang final.

Lihat selengkapnya