LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #70

Ringroad KM27

Malam jatuh di Kota Billboard lebih cepat dari biasanya, seolah kegelapan tak sabar menelan siapa pun yang cukup nekat melangkah ke arahnya.

Dari kejauhan, sapuan lampu mobil membelah pekatnya Ringroad KM27. Cahaya putih itu bergerak presisi—tenang, terkendali—bukan gerak pengemudi mabuk, apalagi jiwa tersesat. Di balik bayangan bangunan yang meranggas, beberapa pasang mata mengintai. Dari sudut yang tak tersentuh kamera pengawas, suara berderak melalui HT—rendah, parau—kode singkat milik orang-orang yang terbiasa menyambut tamu yang datang membawa urusan nyawa.

Ringroad KM27 adalah sebuah anomali.

Sebuah kota di dalam kota.

Di siang hari, ia tampak seperti bangkai beton: gudang-gudang tanpa nama, aspal retak yang berakhir di jalan buntu. Namun saat matahari mati, KM27 bernapas kembali. Neon klub malam menyala seperti luka yang dipoles, kasino ilegal berdengung bagai sarang lebah, dan lorong-lorong bisnis gelap berdenyut seperti pembuluh darah yang dipenuhi dosa. Musik, uang, dan alkohol mengalir deras—cukup untuk membasuh jejak kekerasan yang mengering di balik dinding beton tebal.

Hukum di sini punya cara unik untuk bekerja:

ia memilih untuk buta.

Aparat tahu ada garis imajiner yang tak boleh dilintasi selama kekacauan tetap terkunci di distrik ini. Di KM27, identitas bisa dihapus sebersih kertas baru, masa lalu dikubur sedalam liang lahat, dan kematian hanyalah variabel yang bisa dinegosiasikan—menjadi kecelakaan lalu lintas yang sial, atau overdosis tanpa saksi.

Bagi mereka yang ingin menghilang dari dunia—atau melenyapkan orang lain—KM27 adalah rumah yang ramah.

Namun ketika satu rahasia merembes keluar, keseimbangan rapuh itu mulai retak, mengancam membakar seluruh kota bayangan ini hingga tinggal abu.

Mobil itu melaju semakin dalam ke jantung distrik.

Kontras kasar segera menyambut. Perempuan-perempuan penjaja berdiri di bawah pijar neon merah muda yang murahan; wajah mereka adalah perpaduan kelelahan kronis dan kewaspadaan seekor predator. Di sudut lain, dua pria beradu jotos, tubuh sempoyongan diiringi sorak-sorai penonton mabuk. Botol kaca berkilau di aspal, pecah bersama tawa yang terdengar terlalu dipaksakan untuk disebut kegembiraan.

Mobil itu tidak melambat.

Tidak pula terburu-buru.

Ia berhenti tepat di depan Gedung Elysium.

Satu-satunya bangunan megah di kawasan itu—sebuah penghinaan yang berdiri anggun di tengah kemelaratan. Fasadnya bersih, berlapis kaca gelap yang memantulkan cahaya neon jalanan seperti cermin beracun. Tanpa papan nama. Tanpa iklan. Karena mereka yang punya urusan di sini, tidak pernah membutuhkan petunjuk arah.

Di depan gerbang, para penjaga berdiri seperti monumen berbalut setelan hitam. Kabel komunikasi tipis melingkar di telinga mereka. Tak ada senjata yang dipamerkan, namun postur mereka menegaskan satu hal: kekerasan di tempat ini dilakukan dengan profesionalisme yang senyap—dan mematikan.

Lampu mobil padam.

Kesunyian sesaat menyergap.

Ron turun.

Udara KM27 terasa berat saat memasuki paru-parunya—aroma tembakau, alkohol, dan sesuatu yang lebih tajam: bau kecemasan yang telah mengendap terlalu lama. Tangannya tetap di saku jaket, jemarinya mengepal di sekitar ponsel yang kini membisu.

Salah satu penjaga memotong jalannya, berdiri tepat di ambang ruang pribadi Ron.

“Kamu terlambat,” ucapnya datar.

“Aku tidak diberi jam,” sahut Ron dingin.

Tatapan penjaga itu memindainya—bukan untuk mengintimidasi, melainkan menilai risiko. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengangguk kecil dan menyingkir.

“Bos sudah menunggumu di dalam.”

Pintu Elysium terbuka tanpa suara.

Dari dalam, cahaya emas yang hangat dan alunan musik klasik menyambut Ron—sebuah elegansi yang terasa sangat salah untuk tempat sebusuk ini. Begitu ia melangkah masuk, pintu menutup di belakangnya dengan dentum berat yang final.

Klik.

Di luar, KM27 masih berpesta dalam lumpur.

Di dalam, permainan catur yang sesungguhnya baru saja dimulai.

"Perjanjian dengan Penjaga Neraka"

Langkah Ron teredam di atas karpet beludru merah pekat yang menelan suara sepatu botnya. Di dalam Elysium, kebisingan KM27 seolah disaring oleh dinding kedap suara, menyisakan denting piano melankolis yang mengalun dari sudut ruangan—musik bagi dosa yang disamarkan sebagai elegansi.

Lihat selengkapnya