LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #71

Dosa dalam Narasi

Pagi itu, Kota Billboard tidak sekadar terbangun oleh alarm atau kebisingan rutin.

Ia tersedak.

Artikel kedua Ron naik tepat pukul 06.00—tanpa teaser, tanpa peringatan, tanpa basa-basi redaksi. Judulnya tidak berteriak, namun menyengat seperti cairan asam yang diteteskan perlahan ke atas luka terbuka:

AERUEM: BUKAN SEKADAR BISNIS — JARINGAN KUASA, KEHENINGAN APARAT, DAN HARGA YANG DIBAYAR PEREMPUAN

Tulisan itu tidak lagi bersembunyi di balik bahasa jurnalistik yang berhati-hati. Ron berhenti berpura-pura menjadi pengamat netral. Ia menulis dengan nada yang sistematis, persuasif, dan tanpa filter moral. Ia membedah alur uang yang selalu lolos dari audit, proyek-proyek yang bersih di atas kertas namun berdarah di lapangan, serta satu pola yang terlalu konsisten untuk disebut kebetulan: perempuan-perempuan yang naik jabatan dengan cepat, lalu menghilang secara rapi dari catatan publik.

Nama Bayu jarang disebut secara eksplisit. Namun bayangannya hadir di setiap paragraf, setiap titik, dan setiap koma.

Dalam dua jam pertama, saham mitra Aeruem bergetar hebat di bursa. Dewan kota mengadakan rapat darurat di balik pintu tertutup. Media nasional hanya berani mengutip—tanpa menambahkan satu kata pun. Artikel itu tidak lagi sekadar berita; ia telah berubah menjadi doa kematian yang disusun dengan logika dingin.

Biasanya, pada titik kritis seperti ini, Badan Stabilitas Kota sudah turun tangan. Akan ada panggilan telepon yang bersahabat, tekanan halus pada pimpinan perusahaan, atau setidaknya surat peringatan tentang koordinasi keamanan.

Namun hari itu, tidak ada apa-apa.

Keheningan dari arah aparat terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman terbuka. Telepon dari kantor pemerintahan membisu. Ron tahu alasannya. Malik telah menepati janji sang penjaga neraka. Di sebuah gedung tanpa papan nama, fokus BSK dialihkan secara paksa ke sebuah krisis internal yang mendadak dianggap lebih mendesak.

Bukan karena kebenaran telah menang—melainkan karena seseorang yang lebih berkuasa telah membayar agar mata-mata yang biasanya tajam itu berpaling ke arah lain. Keheningan itu adalah bukti: Ron kini memiliki angin di belakang punggungnya. Angin yang tidak membawa udara segar, melainkan aroma belerang dari KM27.

* * *

Sore harinya, di ruang rapat tertutup markas Aeruem, udara membeku.

Para mitra strategis duduk berhadapan dengan Bayu, wajah mereka tegang, suara mereka bergetar menahan panik yang sulit disamarkan.

“Kita harus menghentikan ini sekarang!” geram salah satu investor. “Tarik liputan itu. Buat klarifikasi. Bayar siapa pun yang perlu dibayar! Nama kami ikut tenggelam bersamamu!”

Bayu membiarkan semua suara itu berlalu tanpa menyela. Tangannya tetap tenang di atas meja mahogani. Bahkan ada sisa lengkungan di sudut bibirnya—bukan ejekan, melainkan keyakinan yang terlalu mapan untuk goyah.

“Kalian selalu salah paham,” ucap Bayu akhirnya, pelan, namun cukup untuk membungkam ruangan. “Masalah ini bukan soal artikel. Ini soal siapa yang berani menyentuh simbol kekuasaan kita.”

Lihat selengkapnya