Sore itu, ruang redaksi Billboard Voice terasa seperti medan perang yang baru saja memenangkan satu pertempuran kecil. Artikel kedua Ron telah mengguncang pasar, membuat saham Aeruem terhuyung, dan untuk sesaat, harapan tumbuh di wajah-wajah yang kelelahan. Telepon berdering tanpa henti. Keyboard berdetak seperti hujan deras. Ada keyakinan rapuh bahwa kebenaran, sekali lagi, hampir menang.
Di tengah riuh itu, seorang kurir berseragam abu-abu masuk ke lobi.
Langkahnya tidak tergesa, tidak pula mencolok. Ia meninggalkan sebuah amplop cokelat kecil di meja resepsionis, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat. Hanya satu tulisan di bagian depan, dicetak dengan tinta hitam tebal, rapi, dan dingin:
RON
Ron mengambil amplop itu dengan tangan yang mendadak terasa asing—dingin, seolah aliran darahnya ragu untuk bergerak. Nalurinya berteriak. Ada sesuatu yang salah. Ia tidak membukanya di sana. Tidak di hadapan orang-orang yang masih percaya pada kemenangan.
Ia melangkah menuju ruang arsip di ujung koridor. Ruangan sempit itu sunyi, dipenuhi rak besi, tumpukan koran lama, dan debu yang menari malas di bawah lampu neon yang berkedip tidak stabil—tempat yang sempurna untuk menerima kabar dari neraka.
Ron merobek segel amplop itu.
Sebuah flash disk perak jatuh ke telapak tangannya.
Kecil. Dingin. Terasa jauh lebih berat dari ukurannya, seolah membawa muatan yang tidak seharusnya disentuh manusia.
Ia membuka laptop. Jemarinya gemetar saat menyambungkan perangkat itu ke port USB. Layar menampilkan satu folder tunggal. Tidak ada subfolder. Tidak ada pengalihan.
Hanya satu file video.
HADIAH_UNTUK_SANG_PENULIS.mp4
Ron menekan tombol play.
Dan dunia runtuh dalam sunyi.
Gambar di layar terlalu jernih untuk sekadar mimpi buruk. Terlalu nyata. Terlalu kejam. Seprai sutra vila itu. Di atasnya, Vini terbaring.
Matanya kosong. Tatapannya tidak benar-benar hadir di tubuhnya sendiri. Wajahnya berkabut, tercerabut dari kesadaran, seperti seseorang yang sedang tenggelam dan tidak lagi tahu ke arah mana harus berenang.
Ron menatap layar tanpa berkedip.
Ia melihat tangan-tangan asing mendekat. Tidak terburu-buru. Tidak brutal. Justru itu yang membuatnya lebih keji—perlakuan yang mengabaikan kemanusiaan, seolah tubuh di hadapan mereka hanyalah benda yang boleh dipindahkan, diarahkan, digunakan. Merampas martabatnya
Lalu Bayu muncul dalam bingkai.
Tenang. Rapi. Berjarak setengah langkah dari semua itu. Ia menoleh ke arah kamera dan tersenyum tipis—senyum seseorang yang tahu persis siapa yang akan menonton rekaman ini, dan kapan.
Ron memejamkan mata. Namun suara itu tetap ada.
Napas Vini yang parau, terputus-putus, memenuhi ruang arsip yang sempit. Beradu dengan dengung AC yang monoton. Suara itu menembus kulitnya, merobek sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar amarah. Ia membuka mata lagi. Pemandangan itu tetap di sana—menghancurkan setiap kepingan harga diri yang ia miliki sebagai seorang pria.
Di akhir video, gambar mendadak menghitam.
Sebuah teks putih muncul, dingin dan bersih—seperti putusan pengadilan yang tidak bisa diajukan banding:
“Tulis artikel ketiga, dan versi panjang video ini akan menjadi headline di setiap situs dewasa di dunia.
Pilihan ada di tanganmu, Ron.