LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #74

Sebelum Badai Memuncak

Sore itu, langit di atas rumah sakit berwarna nila keemasan. Dunia mungkin sedang bergerak menuju kehancurannya sendiri di luar sana, namun di sudut taman rehabilitasi ini, waktu seolah sepakat untuk melambat. Suara roda kursi yang berputar pelan di atas jalan setapak berkerikil menjadi satu-satunya irama yang memecah kesunyian.

Clarissa mendorong kursi roda Arman dengan kehati-hatian nyaris berlebihan, seolah pria di hadapannya adalah benda paling rapuh yang pernah ia jaga. Beberapa jam lalu, dokter menyampaikan prognosis yang jujur sekaligus kejam: berbulan-bulan rehabilitasi, mungkin bertahun-tahun, sebelum Arman bisa berjalan normal—jika ia beruntung.

Arman menatap kakinya yang masih terbalut penyangga, lalu menoleh ke belakang. “Kamu dengar sendiri kan kata dokter tadi,” ucapnya pelan. “Aku mungkin bakal pincang lama, Clar. Kamu nggak bisa terus habisin hidupmu di sini buat aku.”

Clarissa berhenti. Ia memarkir kursi roda itu, lalu melangkah ke depan dan berlutut sehingga mata mereka sejajar.

“Aku bakal nemenin kamu sampai bisa berdiri lagi, Man” katanya tenang. “Kalau kamu sudah nggak bisa jalan kayak dulu, gapapa—aku jalan bareng kamu, pelan-pelan.”

Arman menghela napas panjang. Kekhawatiran tak bisa ia sembunyikan. “Terus kerjaan kamu gimana? Agensimu lagi naik-naiknya. Kamu nggak mungkin bagi waktu antara pemotretan sama ngurus jurnalis cacat kayak aku?”

Clarissa tersenyum tipis—senyum yang tak pernah ia pakai di depan kamera.

“Di umurku yang sudah hampir empat puluh ini,” ucapnya lirih, “aku justru ngerasa pingin mundur sedikit. Bukan buat berhenti, tapi buat ngebangun orang lain—bukan terus-terusan ngebuktiin diri.”

Lihat selengkapnya