LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #75

Si Penyingkap Rahasia

Ron melangkah mendekat, namun kehadirannya tidak membawa kehangatan senja yang barusan menyelimuti Arman dan Clarissa. Sebaliknya, Ia membawa hawa dingin, yang seolah mampu membekukan rumput—jenis dingin yang tidak berasal dari udara, melainkan dari keputusan yang sudah diambil dan tak bisa ditarik kembali.

Clarissa tersentak. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Arman dan menoleh. Ron berdiri beberapa langkah dari mereka, dengan postur yang asing: bahunya tegap, kepalanya terangkat, dan tatapannya tajam seperti pisau yang baru diasah—terlalu fokus, terlalu tenang. Bukan tatapan yang pernah Clarissa lihat sebelumnya. Ini tatapan seseorang yang sudah berhenti ragu.

Arman memperhatikannya lebih lama. Ia menangkap satu detail kecil: jemari tangan kanan Ron bergerak pelan, berulang, seolah memutar sesuatu yang tak ada di sana.

“Kau butuh rokok, Bro?” celetuk Arman santai.

Clarissa langsung menoleh. “Sejak kapan Ron merokok? Dia selalu ngeluh kalau aku bawa klien yang bau asap.”

Ron menghembuskan napas lewat hidung. Ia tidak langsung menjawab, hanya menyunggingkan senyum sinis—senyum yang tidak mengandung kegembiraan, melainkan sebuah pengakuan gelap. “Jangan memancingku, Man,” katanya. Suaranya berat, parau, dan berisi otoritas yang menuntut kepatuhan. “Aku lagi nggak butuh ocehanmu.”

Arman terkekeh kecil. “Iya, iya. Gerakan tangan nggak pernah bohong.” lanjutnya, “Akhirnya aura Jurnalis itu muncul lagi, ya?”

Clarissa melangkah mundur satu tindak, merasa sedikit terintimidasi. “Ini beneran kamu, Ron?” tanyanya lirih. Hawa di sekeliling Ron terasa menusuk, sebuah energi yang haus akan pergerakan, haus akan kebenaran yang dipaksakan keluar.

Lihat selengkapnya