Begitu pintu ruang taktis di bawah Gedung Elysium tertutup, udara seolah menyusut. Ruangan itu hanya diterangi cahaya biru dari deretan monitor dan peta digital yang berpendar—dingin, steril, dan tanpa ruang untuk kesalahan.
Malik berdiri di tengah ruangan. Namun dalam hitungan detik, ia menyadari satu hal yang tak terbantahkan: otoritasnya telah bergeser.
Ron melangkah ke meja utama.
Ia tidak lagi membungkuk. Tidak ada lagi ragu di bahunya. Aura dingin yang ia bawa menyebar pelan, menekan siapa pun yang berdiri terlalu dekat—seperti tekanan udara sebelum badai menghantam daratan.
Malik memperhatikannya saksama. Ada sesuatu yang terasa akrab sekaligus mengerikan dari sorot mata Ron: kosong, namun terfokus sepenuhnya pada satu tujuan.
“Kau berubah, Ron,” gumam Malik sambil menuangkan wiski. Tangannya berhenti sepersekian detik di udara.
“Dua hari lalu kau tampak seperti pria yang mencari keadilan. Sekarang…” Ia menoleh. “Sekarang kau tampak seperti pria yang ingin menghapus seseorang dari peta. Kau mulai menyerupai Bayu. Dan jujur saja—itu membuatku tak nyaman.”
Ron tidak menanggapi.
Matanya terpaku pada peta satelit Tanjung Solara yang berdenyut di layar utama.
“Aku yang akan menghabisi Bayu,” katanya datar. Bukan ancaman. Bukan emosi. Sebuah keputusan.
Ia menunjuk area vila.
“Sebelum aku masuk, lumpuhkan pusat data dan semua jalur komunikasi di lokasi itu. Internet dan jaringan seluler mati total. Radius satu kilometer. Untuk komunikasi selanjutnya, kita pakai saluran internal—radio taktis, earpiece saja. Tidak ada transmisi keluar kecuali darurat.”
Malik mengernyit. “Itu berlebihan. Jamming sinyal seluler saja cukup untuk mencegah panggilan keluar.”
Ron terdiam sesaat.
Bayangan rekaman itu melintas cepat di benaknya—cukup untuk membakar sisa kewarasan yang masih ia jaga.
“Aku tidak mau ada satu bit data pun keluar dari tempat itu,” jawab Ron dingin.
“Bayu selalu menyimpan kartu terakhirnya. Aku ingin dia benar-benar sendirian saat waktunya tiba.”
Malik menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk. Ia menekan tombol di meja. Layar besar berubah, menampilkan foto-foto resolusi tinggi hasil pengintaian.
“Ada 23 orang di perimeter luar. Kemungkinan lebih di dalam bangunan utama,” jelas Malik. “Sepertinya Bayu tidak main-main. Vila itu kini berubah jadi benteng. Seolah sedang menyambut sesuatu.”
Ron mendekat. Matanya menyisir foto-foto itu tanpa berkedip—menandai sudut elevasi penjaga, titik buta kamera, hingga ventilasi sempit di belakang hangar. Jemarinya bergerak di layar, menarik garis-garis pergerakan dengan presisi yang membuat Malik terdiam.
Ron menempatkan pasukan Malik bukan sebagai ujung tombak, melainkan pengunci kandang.
“Tidak ada yang keluar,” ucap Ron singkat.
Malik menghela napas pelan. “Di mana kau belajar membaca medan seperti ini? Itu bukan refleks jurnalis.”
Ron melirik sekilas. “Kasus perdagangan manusia,” jawabnya. “Aku ikut latihan lapangan. Beberapa hal… melekat.”
Malik menatapnya lama. Ada hormat yang kini tak lagi bisa ia sembunyikan.
“Julukan Si Penyingkap Rahasia ternyata bukan isapan jempol. Kau badai yang dia undang sendiri.”