Ruang makan vila Tanjung Solara diterangi oleh lampu gantung kristal yang berkilau lembut, memantulkan cahaya pada meja panjang berlapis kayu walnut yang dipoles sempurna. Di atasnya, lilin-lilin putih menyala tanpa aroma, bersanding dengan susunan anggrek impor yang tampak beku—seindah itu, namun terasa semati itu.
Bayu duduk di kepala meja dengan setelan jas yang tak bercela. Senyumnya tipis dan tertata, seolah ia sedang menjamu rekan investasi, bukan seorang pria yang sedang dikepung oleh takdirnya sendiri. Di seberangnya, Vini duduk tegak dalam balutan gaun hitam sederhana. Rambutnya terurai rapi, menutupi rahasia-rahasia gelap yang baru saja terukir di kulitnya. Wajahnya tanpa ekspresi—terlalu tenang untuk seorang wanita yang sedang berdiri di ambang kehancuran total.
Pelayan menuangkan anggur merah ke gelas kristal dengan gerakan yang sangat terlatih.
“Untuk kemenangan,” ucap Bayu santai, mengangkat gelasnya ke udara.
Vini tidak menyentuh gelasnya. Ia hanya menatap pantulan dirinya di cairan merah itu. “Kemenangan siapa?” tanyanya datar.
Bayu menyesap anggurnya, menikmati rasa pahit dan manis yang berpadu di lidahnya. “Kemenangan bagi mereka yang tidak ragu melakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.”
Sementara itu, di lereng bawah vila yang gelap, lampu perimeter mulai padam satu per satu. Bukan karena korsleting, bukan pula karena pengaruh cuaca. Tim peretas Malik telah berhasil memutus jaringan utama kompleks tersebut. Sinyal seluler dan internet mati total; vila itu kini menjadi pulau terisolasi di tengah perbukitan.
Ron berdiri di balik batang pohon pinus tua, napasnya terkendali meskipun jantungnya berdentum kencang. Ear-piece di telinganya memancarkan suara rendah yang parau.
“Perimeter timur bersih.” “Penjaga pos selatan sudah ditidurkan. Jalan terbuka.”
Ron tidak menyahut. Tangannya menggenggam senjata dengan erat, namun pikirannya tidak berada pada strategi perang. Setiap kali ia memejamkan mata, potongan video menjijikkan dari Bayu itu berputar kembali—memanaskan darahnya, membakar sisa-sisa kewarasannya. Ia bukan lagi Ron yang mengejar berita; ia adalah malaikat maut yang sedang menagih utang nyawa.
Di dalam ruang makan, Bayu memotong daging steak-nya dengan presisi yang mengerikan. “Ron pasti sudah menonton videonya sekarang,” ujarnya ringan, seolah sedang membahas berita cuaca. “Menurutmu, V… apa yang sedang ia rasakan saat ini?”
Vini mengangkat wajahnya perlahan. Matanya kosong, namun suaranya tajam. “Dia merasa hancur. Dan itu yang kau inginkan, bukan?”
“Bagus,” sahut Bayu tanpa getaran sedikit pun. “Pria selalu berpikir mereka bisa menjadi pahlawan yang menyelamatkan perempuan. Padahal, pada akhirnya, perempuanlah yang memilih di mana mereka akan berdiri. Dan kau memilih kembali ke sini, V. Itu fakta yang tidak bisa ia ubah.”
Tatapan Vini mengeras. “Aku tidak memilih siapapun.”
Bayu tertawa pelan, suara yang bergema hampa di antara dinding marmer. “Selalu ada pilihan, Sayang. Kau hanya terlalu takut untuk melihat Ron hancur.”
Tiba-tiba, suara tembakan teredam memecah keheningan malam di luar. Gerbang utama tumbang. Tim Malik bergerak seperti bayangan cair, melumpuhkan sisa-sisa pengawal Bayu dengan efisiensi yang menakutkan.
Bayu berhenti mengunyah. Ia mendengar getaran halus di lantai—langkah kaki yang terukur, langkah kaki yang ia kenali melalui insting predatornya. Ia meletakkan pisaunya dengan tenang. “Sepertinya tamu kita datang lebih cepat dari perkiraan.”
Vini tidak menoleh, namun dadanya bergetar hebat. Ron.
Bayu berdiri perlahan, menghampiri Vini dan menunduk sedikit agar sejajar dengan wajahnya. “Kau ingin tahu sesuatu? Jika ia datang sekarang, itu bukan untuk menyelamatkanmu. Itu untuk membersihkan harga dirinya yang baru saja aku injak-injak.”
Vini berdiri, menepis aura Bayu. “Kau salah besar.”