LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #78

Pemusnahan Total

Tembakan pertama terdengar seperti kaca yang pecah.

Anak buah Bayu menyerbu dari lorong samping dengan gerakan yang sangat terlatih. Semburan peluru kaliber 9mm menghantam dinding marmer, memecahkan kristal lampu gantung menjadi hujan serpihan tajam yang berkilau di udara. Ruangan yang baru saja memancarkan elegansi itu berubah menjadi neraka sempit yang beraroma mesiu dalam hitungan detik.

Tim Malik membalas tembakan.

Ron terseret ke samping, menjatuhkan meja panjang sebagai perisai darurat. Anggur merah tumpah di atas kayu walnut—menyebar seperti darah yang sudah lama menunggu waktunya.

“Kontak berat dari sisi barat! Mereka mengunci semua pintu keluar!” suara di ear-piece Ron berderak, nyaris tenggelam oleh suara tembakan yang memekakkan telinga.

Bayu tidak panik.

Ia meraih lengan Vini dan menariknya menjauh dari garis tembak. Gerakannya tenang, hampir santai, seperti seseorang yang sedang berpindah ruangan saat pesta mulai terlalu bising.

Dua pengawalnya membentuk formasi di depan mereka.

“Bos! Semua komunikasi eksternal terputus!” teriak salah satu anak buahnya sambil menembak balik. “Pusat data kita sudah diretas! Kita tidak bisa kirim bala bantuan! Jumlah mereka di luar makin banyak!”

Peluru menghantam kaca jendela besar. Pecah.

Angin laut menerobos masuk bersama bau asap.

Bayu menoleh sekilas ke arah suara itu. Tidak ada kepanikan di wajahnya.

“Sudah kuperkirakan,” jawabnya dingin. “Jalankan protokol ‘bumi hangus’ aktifkan segera rencana pelarian.”

Anak buahnya membeku sepersekian detik. “Bos… maksudmu—kau mau membakar seluruh tempat ini?”

Bayu menatap vila yang menjadi simbol kekuasaannya.

“Semua bisa kita bangun lagi nanti,” katanya datar. “Yang penting—hilangkan semua jejak.”

Ia menekan tombol kecil pada jam tangannya, mengaktifkan secara serempak frekuensi komunikasi internal yang terenkripsi.

“Regu helikopter, bersiap di titik delta. Sekarang.”

Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari saku dalam jasnya—sebuah drive logam tipis.

“Selama data primer ini ada di tanganku,” ia tersenyum sinis, “Ron tidak bisa melakukan apa-apa.”

Vini hanya diam.

Ia mengikuti langkah Bayu keluar melalui koridor belakang. Wajahnya tanpa ekspresi. Namun di dalam dadanya, sesuatu bergerak—bukan ketakutan, bukan lagi cinta.

Sesuatu yang lebih dingin.

Di dalam ruang makan, baku tembak semakin brutal.

Satu anggota tim Malik tumbang. Dua lainnya bergerak maju, menekan sisi tangga utama.

Lihat selengkapnya