Suara baling-baling helikopter terdengar semakin jelas, memekakkan telinga. Awalnya hanya dengungan jauh—seperti lebah raksasa yang tersesat di kegelapan. Lalu frekuensinya naik, menjadi deru yang menggetarkan tulang. Ron berlari menuruni lereng vila yang kini telah menjelma menjadi obor raksasa di belakangnya. Napasnya berat, dadanya terasa seperti diremas besi panas, sementara paru-parunya dipaksa menghirup oksigen yang bercampur abu.
Titik Delta.
Ia melihatnya. Di balik barisan pohon cemara yang tampak seperti barisan nisan hitam, lampu sorot helikopter menyapu tanah berbatu. Mesinnya sudah meraung, menciptakan pusaran debu dan rumput liar yang mengoyak pandangan. Di sisi landasan darurat itu, sebuah jeep hitam terparkir dengan pintu terbuka.
Ron tidak lagi menggunakan logika. Ia melompat ke kursi pengemudi, menginjak gas sedalam mungkin. Jeep itu melesat naik, roda-rodanya memercikkan kerikil dan tanah saat ia membelah kegelapan menuju helikopter yang siap lepas landas.
Di depan—tiga sosok terlihat di bawah sorot lampu. Pengawal Bayu berdiri siaga, Bayu yang tetap tegak dengan jas penuh debu, dan Vini yang tampak kecil di bawah bayangan mesin raksasa itu.
“BAYU!”
Teriakan Ron mengiris malam, mengalahkan deru mesin helikopter.
Pengawal Bayu bereaksi cepat. Dor! Sebutir peluru menghantam kaca depan jeep hingga retak seribu. Ron menjatuhkan tubuhnya ke bawah kemudi, membiarkan kendaraan itu meluncur liar seperti peluru logam.
Pengawal itu mencoba menghindar—
Terlambat.
BRAK!
Jeep itu menghantam sisi landasan, melontarkan pengawal tersebut ke kegelapan sebelum akhirnya berhenti mendadak setelah menabrak batu besar.
Ron merangkak keluar dari kendaraan yang ringsek. Darah tipis mengalir dari pelipisnya, membasahi matanya yang kini hanya terfokus pada satu pria. Bayu sudah mengangkat pistolnya, wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi murka yang tak terkendali.
“Tidak!”
Vini berlari, menepis tangan Bayu tepat saat pelatuk ditarik. Letusan peluru meleset jauh ke udara. Bayu menoleh tajam, seolah baru saja dikhianati oleh miliknya sendiri. Vini berdiri tegak di antara mereka, dadanya naik turun dengan cepat.
“Kalau Ron mati,” suara Vini bergetar namun membawa keteguhan yang mutlak, “aku tak sudi hidup satu detik pun lagi!”
Kalimat itu menghantam Bayu lebih keras daripada peluru mana pun. Ada retakan dalam topeng kekuasaannya. Namun, amarah Bayu jauh lebih besar dari sekadar harga diri. Ia mendorong Vini dengan kasar hingga tubuh perempuan itu jatuh ke tanah berbatu.
Ron tidak lagi menunggu. Ia berlari dengan sisa tenaga, menghantam tubuh Bayu dengan bahunya. Keduanya jatuh berguling di atas tanah yang kasar. Pistol itu terlempar, menghilang di balik debu. Di bawah pusaran angin dari baling-baling, dua pria yang telah kehilangan segalanya itu mulai saling menghancurkan dengan tangan kosong.
Bayu memukul lebih dulu—tinju mentah yang menghantam rahang Ron. Ron membalas dengan siku, merobek pelipis Bayu. Mereka bergulat di tanah, saling mencengkeram dan menghantam tanpa teknik, hanya didorong oleh kebencian murni.
Bayu mencoba meraih pisau kecil dari balik jasnya. Ron menahan pergelangan tangan pria itu, lengan mereka bergetar hebat saat ujung tajam pisau itu perlahan mendekati mata Ron.
“Semua ini… hanya karena perempuan itu?” Bayu mendesis di sela giginya yang berdarah.
“Tidak,” Ron menggeram, membalikkan posisi dengan tenaga yang muncul dari rasa sakitnya. “Semua ini karena kau pikir kau bisa memperlakukan manusia seperti aset yang bisa kau beli!”
Ron menghantam wajah Bayu berulang kali. Darah memercik ke wajahnya sendiri. Namun Bayu tertawa—sebuah tawa kering yang mengerikan. “Kau tetap kalah, Ron. Drive itu masih padaku. Tanpa itu, kau hanya akan membawa pulang wanita yang sudah hancur.”
Helikopter mulai naik sedikit dari tanah. Pilot berteriak melalui loudspeaker, mendesak Bayu untuk segera naik karena api dari vila mulai menjalar menuju tangki bahan bakar di dekat hangar landasan. Angin semakin kencang, membawa serpihan abu panas yang mulai membakar kulit.
Vini perlahan bangkit, matanya kini tidak lagi kosong. Ia melihat dua pria yang ia cintai dan ia benci sedang saling mencekik di ambang kematian.