Di antara mereka, berdiri seorang wanita yang jiwanya telah tercabik-cabik. Vini. Rambutnya berantakan, matanya sembap, dan tubuhnya gemetar menyaksikan kehancuran total di sekelilingnya.
Ron berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, telapaknya terbuka, penuh harap yang menyayat hati. "Vin... pulang. Ayo pulang denganku," bisik Ron. Suaranya parau oleh asap dan tangis yang ia tahan sekuat tenaga.
Vini melangkah maju. Namun, alih-alih menyambut tangan yang menjanjikan keselamatan itu, ia mengayunkan tangannya.
PLAK!
Tamparan itu tidak sekuat hantaman Bayu, namun cukup untuk membuat Ron terhempas kembali ke lantai—lebih karena keterkejutan jiwanya daripada fisiknya. Vini jatuh berlutut di depan Ron, air matanya pecah, mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat pasi.
“Kenapa, Ron?! Kenapa kamu lakukan ini sejauh ini hanya untukku?!” teriak Vini histeris, suaranya bersaing dengan deru api. “Lihat tempat ini! Lihat dirimu! Kamu telah menghancurkan masa depanmu sendiri!”
Ron menatapnya dengan mata sayu yang masih penuh pengabdian. “Aku sudah berjanji, Vin... untuk selalu ada di sisimu, apa pun yang terjadi. Aku tidak peduli jika seluruh dunia ini harus hangus terbakar.”
“Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyeretmu ke dalam kegelapanku!” suara Vini bergetar hebat. “Dunia kita berbeda! Kamu punya cahaya, Ron… kamu punya masa depan. Sedangkan aku? Aku sudah busuk di dalam sini!”
Vini mencengkeram kerah jaket Ron, suaranya mengecil menjadi bisikan yang menyayat batin. “Kau sudah lihat rekaman itu, kan? Kau sudah lihat apa yang dia lakukan padaku... bagaimana dia memilikiku seutuhnya dengan cara yang paling menjijikkan? Aku bukan lagi Vini yang kau kenal. Aku hanyalah artefak yang sudah rusak.”
Di belakang mereka, Bayu mulai bangkit sambil terbatuk-batuk darah. Ia menyeka mulutnya dan tertawa—sebuah tawa kering, parau, dan penuh kemenangan meski kerajaannya sedang dijarah.
“Kau lihat, Ron?” Bayu berjalan sempoyongan ke arah mereka, layaknya iblis yang menagih janji. “Dia tidak akan kembali padamu. Dia milikku... karena hanya aku yang tahu seberapa hancur dirinya. Menyerahlah. Kau hanya mencoba membawa pulang mayat tanpa jiwa.”