LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan

riza adi wicaksono
Chapter #81

Epilog: Setelah Api Mereda

Beberapa minggu setelah malam yang membakar Tanjung Solara, Kota Billboard kembali mengenakan wajah lamanya. Polisi membentangkan garis kuning di depan kantor-kantor Aeruem. Gedung-gedung yang dulu berkilau kini dipenuhi tim forensik dan penyidik keuangan. Dokumen disita. Server disegel. Rekening dibekukan. Nama Bayu resmi masuk daftar buronan nasional.

Namun seperti biasa, kota ini tidak pernah benar-benar berhenti.

Billboard Voice menjadi pusat perbincangan.

Sebagian publik menyebutnya sebagai kemenangan pers yang berani.

Sebagian lain menyebutnya tindakan nekat yang mengguncang stabilitas.

Ucapan selamat datang berdampingan dengan ancaman anonim yang dikirim melalui surel dan surat tanpa alamat.

Pak Bima menerima semuanya dengan wajah yang sama seperti dua puluh tahun terakhir—tenang, tak terkejut, dan tak lagi mudah diguncang.

Baginya, pujian dan ancaman hanyalah dua sisi mata uang yang selalu beredar di industri ini.

Namun ada satu pertanyaan yang terus berulang dalam setiap wawancara, setiap forum diskusi, setiap kolom opini:

“Di mana Ron?”

Tidak ada yang tahu.

Namanya sempat menjadi simbol keberanian. Lalu, seolah ditelan bumi.

Di atas meja kerja Pak Bima, di antara tumpukan dokumen investigasi dan surat resmi kepolisian, tergeletak sebuah amplop putih sederhana.

Surat pengunduran diri.

Ditandatangani dengan tinta hitam yang tegas.

Tanpa alasan panjang.

Tanpa penjelasan.

Hanya satu kalimat penutup:

“Terima kasih telah mempercayai saya untuk menulis kebenaran.”

Pak Bima membaca surat itu untuk ketiga kalinya. Lalu melipatnya kembali dengan hati-hati.

Ia tidak mencoba menghubungi nomor lama Ron.

Ia tahu—beberapa orang tidak pergi untuk bersembunyi.

Mereka pergi untuk bertahan hidup.

* * *

Di sisi lain kota, nama Vini sempat menjadi topik hangat.

Model papan atas yang sedang berada di puncak kariernya mendadak diberitakan pensiun. tanpa ada pernyataan langsung darinya.

Alasannya singkat: “alasan pribadi.”

Media berspekulasi.

Ada yang menyebut skandal.

Ada yang menyebut tekanan mental.

Lihat selengkapnya