Lonceng di Menara Utara Noctherra berbunyi tiga belas kali sebelum fajar, dan setiap orang di dalam tembok istana tahu apa artinya. Lonceng biasa berbunyi tujuh kali untuk memanggil salat pagi para pendeta laut, sembilan kali untuk pergantian jaga, sebelas kali kalau ada kebakaran di distrik pelabuhan. Tiga belas kali hanya berbunyi untuk satu hal.
Daulat sudah wafat.
Mevira Zion berdiri di ambang kamar suaminya ketika tabib kepala keluar dengan tangan gemetar, membawa baskom air yang sudah tidak lagi dipakai untuk mengompres. Wajah lelaki tua itu pucat seperti kain kafan yang belum sempat dipasang.
"Yang Mulia," katanya, suaranya nyaris hilang di tenggorokan, "Daulat telah kembali kepada laut."
Mevira tidak menjawab. Ia melangkah masuk, melewati dua pelayan yang buru-buru berlutut, dan berdiri di samping ranjang tempat Zuen Zion terbaring dengan mata terpejam, seolah sekadar tidur siang yang panjang. Racun tidak meninggalkan bekas kalau diramu dengan benar — ia tahu itu, karena ia sendiri yang memerintahkan racikan itu tiga hari lalu, lewat tangan orang yang tidak akan pernah bicara.
Ia menyentuh dahi suaminya. Masih hangat.
"Kau bodoh, Zuen," bisiknya, terlalu pelan untuk didengar siapa pun. "Kau pikir menyerahkan takhta ke Dewan lebih baik daripada menyerahkannya padaku."
Di luar kamar, suara langkah berat mulai memenuhi koridor. Para penjaga istana. Para pendeta. Dan, tak lama lagi, sembilan orang paling berkuasa di seluruh Veylara.
• • •
Ruang Singgasana penuh sebelum matahari benar-benar naik.
Sembilan kursi Dewan Familia berjajar di kedua sisi ruangan, masing-masing berukir lambang wilayah kekuasaannya sendiri — gelombang untuk Sarenne, gandum untuk Brannor, akar pohon tua untuk Ilyandra. Di kursi paling depan, kursi kosong milik Familia Avelis yang sudah dua puluh tujuh tahun tidak terisi, debu menumpuk di celah ukirannya meski para pelayan istana selalu membersihkannya setiap pekan. Tidak ada yang berani duduk di sana. Bukan karena hormat. Karena tidak ada yang tahu pasti apakah kutukan atas familia yang dihapus itu benar-benar sudah selesai.
Ardana Corwen Kaelstrom berdiri paling dekat dengan singgasana kosong, tangan bersedekap di dada, wajah keras seperti selalu. Di seberangnya, Ardana Velmar Devarion duduk tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan rajanya. Yang lain — Sarenne, Lohgard, Brannor, Corvin, Thessaly, Ilyandra — berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, berbisik, menghitung kemungkinan seperti pedagang menghitung untung rugi sebelum lonceng dagang berbunyi.
Mevira masuk membawa Orin dalam gendongannya.
Anak itu baru berusia dua tahun, terlalu kecil untuk mengerti kenapa ibunya menggendongnya begitu erat, terlalu kecil untuk mengerti kenapa seluruh ruangan tiba-tiba diam ketika ia lewat. Ia hanya menguap, menggosok mata dengan kepalan kecilnya, dan menyandarkan kepala di bahu Mevira seperti anak-anak lain di pagi buta yang belum cukup tidur.
"Para Ardana," kata Mevira, suaranya jernih, tanpa isak yang biasanya menyertai duka. "Suami saya, Daulat Zuen Zion, telah wafat dalam tidurnya semalam."
Tidak ada yang bertanya bagaimana. Belum.
"Putra kami, Orin Zion, adalah pewaris sah Wangsa Zion." Ia mengangkat dagu, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. "Tapi ia baru dua tahun. Ia belum bisa memegang pedang, apalagi memegang Veylara."
Ardana Fenric Lohgard, kepala Familia Lohgard yang mengurus hukum tua kerajaan, maju selangkah. Tubuhnya kurus, matanya cepat berpindah dari satu sudut ruangan ke sudut lain, kebiasaan seorang lelaki yang seumur hidup membaca pasal-pasal yang ditulis untuk disalahtafsirkan.
"Yang Mulia," katanya hati-hati, "Dewan perlu waktu untuk bermusyawarah tentang perwalian. Ini bukan keputusan yang—"
"Ada hukum untuk ini, Lohgard." Mevira memotongnya, tidak keras, tapi cukup tajam untuk membuat lelaki itu diam di tempat. "Kau yang paling hafal isi Kitab Silsilah di ruangan ini. Bacakan sendiri kalau kau sudah lupa."
Lohgard menatapnya lama. Semua orang tahu ia hafal. Semua orang juga tahu bahwa hafal bukan berarti setuju.
"Pasal Perwalian Takhta," katanya akhirnya, nyaris berbisik, seolah berharap kata-katanya bisa ditarik kembali begitu keluar dari mulutnya. "Jika seorang Daulat wafat meninggalkan pewaris yang belum dewasa, pasangannya yang masih hidup berhak memegang kekuasaan penuh sebagai Wali Daulat sampai sang pewaris cukup umur."
"Terima kasih," kata Mevira, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, ia tersenyum. Tidak lebar. Cukup untuk membuat beberapa orang di ruangan itu merasa dingin tanpa tahu kenapa.
Corwen Kaelstrom akhirnya bicara, suaranya seperti batu diseret di atas batu. "Hukum itu ditulis untuk masa perang, Mevira. Untuk menjaga takhta dari perebutan saat kerajaan diserang dari luar. Bukan untuk—" ia berhenti, memilih kata dengan hati-hati, "—situasi seperti ini."
"Situasi seperti apa, Corwen?" Mevira menoleh padanya, masih menggendong Orin yang mulai rewel, ingin turun. "Katakan langsung. Kau ada di ruangan yang sama dengan aku sekarang. Kita berdua orang dewasa yang tahu cara bicara tanpa berputar-putar."