(POV FENRIC LOHGARD)
Terompet ditiup tiga kali dari menara gerbang, dan Fenric Lohgard merasakan getarannya sampai ke tulang rahang—bukan karena suaranya keras, tapi karena ia tahu apa yang akan menyusul setelah bunyi ketiga itu berhenti.
Alun-alun depan Istana Noctherra sudah penuh sejak subuh. Bukan hanya kepala Sembilan Familia yang hadir kali ini—di baris kedua dan ketiga berdiri para Ardyn, Corvath, sampai perwakilan Yentar dari familia-familia yang cukup penting untuk diundang tapi tidak cukup penting untuk berdiri di depan. Di luar pagar besi yang memisahkan halaman istana dari jalan umum, warga biasa berdesakan, sebagian memanjat pagar batu rendah di seberang jalan hanya untuk bisa melihat.
Lohgard berdiri di posisinya, tepat di sebelah kanan podium, jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin pagi dari arah Sendrelia. Dari sini ia bisa melihat semuanya—termasuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia perhatikan, kalau saja ia bisa berhenti bertanya-tanya sejak semalam.
Gulungan itu. Lipatannya terlalu baru.
Ia sudah memeriksa arsip tiga kali sejak dini hari, menyuruh salah satu pencatat mudanya diam-diam membandingkan tinta di gulungan yang dibacakannya semalam dengan tinta di salinan resmi Kitab Silsilah yang tersimpan di Balai Arsip. Pencatat itu belum kembali melapor. Lohgard mencoba tidak memikirkannya sekarang, di depan seluruh Noctherra, tapi pikiran seperti itu tidak pernah benar-benar mau pergi begitu diminta.
"Kau tampak seperti orang yang baru menelan lemon," bisik Belwen Brannor dari sampingnya, tanpa menoleh, mulutnya nyaris tidak bergerak. "Senyum sedikit, Fenric. Ini upacara, bukan pemakaman kedua."
"Bagi sebagian orang, mungkin dua-duanya sama saja," jawab Lohgard, pelan.
Brannor terkekeh, meski matanya tetap lurus ke depan podium.
Sangkakala ketiga berhenti. Pintu besar istana terbuka, dan Mevira Zion melangkah keluar—kali ini bukan gaun hitam berkabung seperti semalam, melainkan jubah biru tua bersulam benang perak, warna resmi Wali Daulat, dijahit dalam waktu kurang dari satu hari kalau perhitungan Lohgard benar. Di belakangnya, seorang dayang menggendong Orin Zion, dua tahun, mengenakan pakaian mini seukuran tubuhnya sendiri tapi berpotongan sama persis dengan jubah ibunya—anak itu tampak lebih tertarik pada burung yang terbang di atas menara daripada pada ribuan pasang mata yang menatapnya.
Alun-alun itu diam. Bukan diam penuh hormat—diam yang lebih terasa seperti napas yang ditahan.
• • •
Upacara berjalan seperti yang sudah dirancang, kata demi kata. Pendeta Kuil Fajar membacakan doa pembuka. Kapten Rendal berdiri paling dekat dengan Mevira, tangan di gagang pedang, matanya menyapu barisan depan setiap beberapa detik—kebiasaan yang menurut Lohgard bukan sekadar prosedur keamanan biasa, melainkan seseorang yang sedang benar-benar menunggu sesuatu terjadi.
Ketika giliran Lohgard membacakan ulang pasal Wali Daulat di hadapan publik—bagian yang sama yang ia baca semalam di balairung, tapi kali ini disaksikan ribuan orang, bukan delapan—ia merasakan sesuatu yang aneh dalam suaranya sendiri. Ia membaca dengan lancar, tanpa tersandung satu kata pun, dan justru itulah yang mengganggunya. Seharusnya ia ragu. Seharusnya ada jeda kecil di mana hati nuraninya menahan lidahnya. Tapi tidak ada. Ia sudah terlalu terlatih untuk membaca hukum tanpa perasaan, dan pagi ini, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun menjabat Ardana Lohgard, ia membenci keterampilan itu pada dirinya sendiri.
Ia menggulung kembali kertas itu, mundur satu langkah, dan menyaksikan Mevira berlutut di depan Kuil Fajar yang dibawa keluar khusus untuk upacara ini—altar batu kecil berukir matahari, dijaga dua pendeta.
"Aku, Mevira dari Wangsa Zion," suaranya menggema, cukup keras untuk terdengar sampai barisan paling belakang, "bersumpah menjaga takhta ini bukan untuk diriku, tapi untuk putraku, Orin Zion, sampai ia cukup dewasa memikul mahkota ini sendiri. Aku bersumpah tidak akan menggunakan kekuasaan ini untuk kepentingan pribadi. Aku bersumpah menjaga lima wilayah Veylara—Ombrival, Kesteron, Sendrelia, Tessane, Harkovan—dengan keadilan yang sama, tanpa membedakan warga dari bangsawan."
Kata-kata itu terdengar mulia. Lohgard sudah mendengar sumpah serupa diucapkan tiga kali dalam hidupnya—dua kali oleh Raja Zuen sendiri, sekali oleh ayahnya. Tidak ada yang salah dengan kalimatnya. Yang salah, pikirnya, adalah betapa sempurna Mevira mengucapkannya, tanpa jeda, tanpa gagap, seperti seseorang yang sudah berlatih di depan cermin selama berhari-hari—jauh sebelum Raja Zuen bahkan dimakamkan.
Ia melirik ke arah barisan bangsawan di belakangnya. Sebagian besar tampak khidmat. Beberapa—terutama dari kalangan Corvath muda Familia Ilyandra dan Thessaly, familia yang selama ini paling jauh dari kekuasaan pusat—tampak seperti orang yang menahan sesuatu di balik wajah tenang mereka.
• • •