Lyra berlari lebih dulu sampai ke pohon ara tua di tepi ladang, tapi Cleay bersikeras dialah yang menang.
"Kakimu menyentuh akarnya duluan," kata Cleay, terengah-engah, kedua tangan bertumpu di lutut. "Aku lihat sendiri."
"Kau tidak lihat apa-apa. Matamu ketutup rambutmu sendiri." Lyra menepuk batang pohon itu tiga kali, tanda kemenangan yang sudah mereka sepakati sejak umur enam tahun, entah kesepakatan siapa yang mula-mula mengusulkannya. "Aku menang lima kali berturut-turut sekarang. Kau harus bawakan air untukku sampai musim tanam berikutnya."
"Itu bukan taruhannya."
"Sekarang jadi taruhannya."
Cleay mendengus, tapi tidak membantah lebih jauh. Ia tahu percuma berdebat dengan Lyra soal aturan permainan yang dibuat-buat sendiri olehnya di tengah jalan — itu sudah jadi kebiasaan sejak mereka masih terlalu kecil untuk mengingat siapa yang memulai persahabatan ini. Rumah keluarga Gremore hanya berjarak seratus langkah dari rumah keluarga Avelis, dan sejak Lyra bisa berjalan, tidak pernah ada satu musim pun tanpa Cleay muncul di depan pintu, menunggu diajak bermain, memancing, atau sekadar duduk memandangi ladang sambil bicara tentang apa saja.
Matahari baru naik separuh di atas Bukit Kesteron, mengubah embun di rumput jadi butiran cahaya kecil yang menempel di ujung kaki mereka berdua. Bau tanah basah bercampur asap dapur yang mulai mengepul dari cerobong-cerobong rumah warga Bonsiva, dan dari kejauhan, suara lonceng kecil di pekarangan Balai Desa menandai jam kerja pagi baru dimulai.
"Ayahmu sudah mulai kerja?" tanya Cleay, mengikuti Lyra berjalan pulang.
"Dari sebelum aku bangun. Selalu begitu." Lyra memungut ranting kering di sepanjang jalan setapak, mematah-matahkannya jadi potongan kecil tanpa alasan jelas, kebiasaan tangannya kalau sedang berpikir. "Katanya kalau kayu tidak dipotong pagi-pagi, seratnya jadi keras kena panas siang. Aku tidak yakin itu benar. Kupikir dia cuma suka bangun pagi."
Cleay tertawa kecil. "Ayahku bilang begitu juga soal jaring ikan. Semua orang tua di desa ini punya alasan aneh untuk bangun sebelum matahari."
Ketika mereka sampai di halaman rumah, Caelen Avelis sedang membungkuk di atas balok kayu ek yang belum selesai dipahat, kapaknya berhenti sejenak di udara ketika ia melihat putrinya datang. Ia laki-laki bertubuh besar, tangannya penuh bekas luka lama dari bertahun-tahun bekerja kayu, tapi wajahnya selalu melunak begitu Lyra ada dalam pandangannya — ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun selain istri dan anaknya.
"Kau kalah lari lagi, Cleay?" tanya Caelen, tanpa menoleh penuh, seolah sudah tahu jawabannya dari cara napas anak lelaki itu masih memburu.
"Aku tidak kalah. Aku mengalah."
"Itu yang kau bilang tiga tahun terakhir." Caelen akhirnya berdiri tegak, meregangkan punggung, dan untuk sepersekian detik wajahnya menyeringai menahan sesuatu — bukan karena lelucon Cleay, tapi seperti nyeri yang datang tiba-tiba lalu buru-buru ia sembunyikan di balik senyum. Lyra tidak menyadarinya. Ia sedang sibuk mengambil sepotong kayu kecil dari tumpukan, memutar-mutarnya di tangan seperti biasa.
"Ayah, boleh aku pakai pisau ukir hari ini?"
"Kalau kau janji tidak mengukir nama Cleay di batang pohon ara lagi." Caelen mengambil pisau kecil dari kantong kulitnya, menyerahkannya dengan hati-hati, gagangnya menghadap ke arah Lyra. "Pemilik kebun sebelah sudah komplain dua kali."
"Itu bukan aku."
"Aku tahu itu kau."
Dari dalam rumah, suara Morena memanggil, menyuruh mereka masuk untuk sarapan sebelum kayu bakar habis dan air rebusan jadi dingin. Rumah keluarga Avelis kecil, dua kamar dan satu dapur, dindingnya dari kayu yang sama seperti yang dipahat Caelen setiap hari, tapi selalu terasa lebih hangat daripada ukurannya yang sebenarnya. Di meja, semangkuk bubur jagung dan ikan asin sudah tersaji, sederhana seperti kebanyakan sarapan warga Bonsiva, tapi Morena selalu menambahkan sesuatu — sepotong madu liar, atau daun kemangi dari kebun belakang — hal-hal kecil yang membuat setiap pagi terasa sedikit berbeda dari pagi sebelumnya.
"Cleay, duduk dulu. Ibumu tahu kau di sini?" tanya Morena, sudah menyiapkan mangkuk tambahan tanpa perlu ditanya lagi.
"Beliau tahu, Bibi Morena. Aku bilang mau lihat Ayah Caelen kerja."