Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #3

BAB 3 — SENJA TERAKHIR DI BONSIVA

Batu itu meleset dari kepala Lyra hanya karena ia melompat ke samping tepat saat Cleay melemparnya, dan tawa Cleay yang menggema di antara pohon-pohon ek membuatnya semakin kesal daripada takut.

"Kau curang!" teriak Lyra, mengambil batu lain dari tanah lembab, melemparkannya balik tanpa membidik dengan benar. Batu itu jatuh jauh dari sasaran, mendarat di semak dengan suara gemerisik yang menakuti dua burung yang langsung terbang.

"Curang bagaimana? Ini permainan menghindar, bukan permainan tidak melempar." Cleay Gremore, sebelas tahun, kurus tapi cepat, sudah bersiap melempar lagi, matanya menyipit menahan tawa. "Kau yang bilang aturannya sendiri kemarin."

"Aku bilang lempar ke arah pohon, bukan ke arah kepalaku!"

"Sama saja. Kepalamu keras seperti batang ek."

Lyra menerjang, bukan untuk melempar batu lagi tapi untuk mendorong Cleay langsung ke tumpukan daun kering di bawah pohon terdekat—balasan yang lebih memuaskan daripada lemparan mana pun. Cleay jatuh dengan bunyi berisik, tertawa lebih keras lagi, dan untuk beberapa saat keduanya hanya berbaring di sana, di antara daun-daun yang mulai menguning, menatap langit sore yang berubah warna dari biru ke jingga pucat di sela-sela dedaunan.

"Ibumu akan marah kalau tahu bajumu kotor lagi," kata Cleay, akhirnya, napasnya masih agak terengah dari tawa.

"Ibumu juga."

"Ibuku sudah menyerah sejak aku berumur tujuh tahun."

Lyra tertawa, lalu diam, mendengarkan suara hutan di sekitar mereka—desir angin di pucuk pohon, kicau burung yang sudah kembali setelah terusik tadi, dan dari kejauhan, samar-samar, suara kapak yang mengenai kayu, berirama, seperti jantung yang berdetak jauh di balik pepohonan.

"Ayahku sudah pulang," katanya, bangkit duduk. "Aku dengar kapaknya."

"Kau bisa membedakan suara kapak ayahmu dari yang lain?"

"Tentu saja bisa. Punya Pak Renwick lebih berat, jadi bunyinya lebih lambat. Punya ayahku lebih cepat, karena dia sudah bertahun-tahun melakukannya." Lyra berdiri, membersihkan daun-daun kering dari roknya yang sudah tidak bisa dibersihkan sepenuhnya. "Ayo, sebelum gelap. Ibu pasti sudah menunggu untuk makan malam."

• • •

Rumah keluarga Avelis—atau lebih tepatnya, rumah yang mereka tinggali, karena Caelen selalu berkeras nama itu bukan gelar apa-apa, hanya nama yang diwariskan—berdiri di ujung lembah Bonsiva, cukup jauh dari pusat desa untuk terasa sepi, cukup dekat untuk mendengar lonceng kuil kecil desa saat berbunyi menandai waktu salat sore.

Ketika Lyra dan Cleay tiba, Caelen sedang mengangkut kayu bakar ke halaman belakang, punggungnya basah keringat meski udara sudah mulai dingin. Ia melihat mereka datang dan meletakkan kayu terakhir, meregangkan punggungnya dengan bunyi yang membuat Lyra selalu meringis membayangkan rasanya.

"Kalian berdua terlihat seperti baru berperang melawan seluruh hutan," katanya, menyeka keringat dengan lengan bajunya.

"Cleay yang mulai," kata Lyra cepat.

"Lyra yang mendorongku ke daun kering."

"Kau melempar batu ke kepalaku!"

Caelen tertawa, suara berat yang selalu terdengar seperti guruh jauh, dan menepuk kepala Lyra pelan. "Cuci tangan kalian berdua sebelum ibumu melihat kalian seperti ini. Cleay, kau makan malam di sini. Sudah kubilang ke ibumu tadi pagi."

"Sungguh?" mata Cleay berbinar. Makan malam di rumah Avelis selalu lebih ramai dari rumahnya sendiri, meski ibunya Cleay—seorang penenun tunggal sejak ayah Cleay meninggal beberapa tahun sebelumnya—selalu berusaha membuat rumah mereka terasa cukup.

"Sungguh. Sekarang pergi cuci tangan sebelum aku berubah pikiran."

Mereka berlari ke sumur di belakang rumah, saling mendorong lagi, dan Caelen menatap kepergian mereka dengan senyum yang perlahan memudar begitu tidak ada yang melihatnya lagi. Ia menatap ke arah desa, ke arah jalan tanah yang membentang menuju gerbang Bonsiva, tempat sebuah papan pengumuman baru dipasang tiga hari lalu—salinan titah dari Noctherra, disegel dengan lambang gelombang Wangsa Zion, mengumumkan pajak baru untuk "pemeliharaan keamanan wilayah utara".

Ia belum membicarakannya dengan Morena. Belum saatnya membuat istrinya khawatir sebelum benar-benar perlu.

Lihat selengkapnya