Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #3

BAB 3 — PESAN YANG TERBAKAR

Suara batuk itu membangunkan Lyra sebelum fajar, lebih keras dari batuk-batuk kecil yang selama ini disembunyikan ayahnya di balik senyum dan alasan "cuma pegal kerja kemarin."

Ia berlari ke kamar orang tuanya, masih dengan kaki telanjang, dan menemukan Morena berlutut di samping ranjang, memegangi bahu Caelen yang membungkuk ke depan, tubuhnya berguncang setiap kali batuk itu datang. Ketika akhirnya reda, ada bercak merah di kain yang menutupi mulutnya — cukup untuk membuat Morena mendongak dengan wajah yang belum pernah Lyra lihat sebelumnya, bukan hanya khawatir, tapi ketakutan yang ia coba tahan mati-matian di baliknya.

"Lyra," kata Morena, suaranya jauh lebih tenang dari yang seharusnya mungkin bagi siapa pun dalam keadaan itu, "lari ke rumah Bibi Sanne. Bilang kita butuh dia sekarang. Cepat."

Lyra tidak bertanya kenapa, tidak bertanya sejak kapan, tidak bertanya apa pun. Ia berlari.

• • •

Bibi Sanne adalah tabib satu-satunya di Bonsiva, perempuan tua yang belajar mengobati dari ibunya sendiri, yang belajar dari ibunya lagi, generasi demi generasi pengetahuan yang tidak pernah tertulis di buku mana pun, hanya diturunkan lewat tangan dan mata yang terlatih membaca tubuh manusia. Ia tiba di rumah Avelis masih dengan rambut belum disisir, membawa kantong kain penuh akar-akaran dan daun kering, dan langsung berlutut di samping ranjang Caelen tanpa banyak bicara.

Ia memeriksa lama — mendengarkan napas, menekan perut, memeriksa mata dan lidah — sementara Lyra berdiri di ambang pintu, terlalu takut untuk masuk lebih jauh, terlalu takut juga untuk pergi.

Ketika akhirnya Bibi Sanne berdiri, ia menarik Morena keluar kamar, cukup jauh sehingga Caelen yang sudah kembali berbaring lemah tidak akan mendengar, tapi tidak cukup jauh untuk Lyra, yang mengikuti diam-diam di balik dinding kayu tipis rumah mereka.

"Paru-parunya sudah lama sakit, Morena. Bukan sesuatu yang datang semalam." Suara Bibi Sanne pelan, tapi setiap kata terdengar jelas di telinga Lyra yang menahan napas di baliknya. "Kalau ia makan cukup, istirahat cukup, sejak bertahun-tahun lalu — mungkin ceritanya beda. Tapi ia bekerja dari fajar sampai malam setiap hari, musim dingin maupun musim panas, hujan maupun tidak, dan tidak pernah sekali pun berhenti walau tubuhnya sudah minta berhenti."

"Berapa lama?" Suara Morena nyaris tidak terdengar.

"Aku tidak tahu pasti. Mungkin beberapa pekan. Mungkin kurang." Ada jeda panjang, seolah Bibi Sanne sendiri berat mengucapkannya. "Aku akan berikan ramuan untuk meredakan sakitnya. Tapi aku bukan penyembuh ajaib, Morena. Aku tidak bisa menumbuhkan kembali apa yang sudah rusak di dalam sana."

Lyra mundur perlahan dari dinding itu, punggungnya menyentuh kayu dingin, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang baru sebelas tahun, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya — bukan sekadar takut, tapi rasa dunia yang tiba-tiba terasa jauh lebih rapuh daripada yang selama ini ia kira.

• • •

Tiga hari berikutnya berjalan seperti mimpi yang tidak mau selesai.

Caelen masih bisa duduk, masih bisa bicara, bahkan masih bisa tersenyum ketika Lyra membawakannya air atau membacakan cerita-cerita pendek yang biasa mereka bagi bergantian sebelum tidur. Tapi tenaganya berkurang tiap jam, napasnya semakin pendek, dan setiap kali batuk itu datang, Lyra melihat kepingan kecil dari ayahnya menghilang bersamanya.

Cleay datang setiap hari, meski Morena berkali-kali menyuruhnya pulang, kadang membawakan ikan segar hasil tangkapan ayahnya sendiri, kadang hanya duduk di beranda menemani Lyra tanpa banyak bicara — kehadiran yang tidak menuntut apa pun, hanya ingin ada di sana.

Pada malam ketiga, Caelen memanggil Lyra ke kamarnya sendirian.

Cahaya lilin membuat bayangannya panjang di dinding kayu, dan untuk sesaat Lyra bisa melihat betapa kurusnya ayahnya sekarang, tulang pipi yang lebih menonjol dari biasanya, mata yang cekung tapi tetap tajam, tetap sepenuhnya dirinya sendiri di balik semua yang telah dirampas penyakit itu darinya.

"Duduk, Lyra." Suaranya lebih lemah, tapi masih hangat seperti biasa. "Ada yang harus Ayah katakan padamu."

Lihat selengkapnya