Kapak itu terlalu berat untuk tangan Lyra, tapi ia tetap mengangkatnya, menghantamkannya ke balok kayu ek yang sudah tiga minggu tergeletak begitu saja di halaman, tidak tersentuh sejak hari terakhir Caelen memegangnya.
Hantamannya meleset, kapaknya terpental ke samping, dan Lyra jatuh terduduk di tanah, napasnya memburu bukan karena lelah, tapi karena menahan sesuatu yang sudah lama ingin keluar sejak pagi itu.
"Kau akan melukai dirimu sendiri kalau begitu caranya," kata Cleay, muncul dari balik pagar tanpa memberi tahu sejak kapan ia berdiri di sana.
"Aku tidak butuh diajari." Lyra berdiri lagi, mengambil kapak itu dengan tangan yang gemetar, lebih karena marah pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun.
"Aku tidak mengajarimu. Aku cuma bilang fakta." Cleay melangkah masuk, duduk di anak tangga beranda, memerhatikan tanpa mencoba menghentikannya. "Ayahmu selalu pegang kapak dengan tangan agak turun dari yang kau lakukan sekarang. Aku lihat berkali-kali waktu kita main di sini."
Lyra berhenti, menatap posisi tangannya sendiri, lalu menurunkannya sedikit seperti yang dikatakan Cleay. Ayunan berikutnya masih tidak sempurna, tapi setidaknya kapak itu menancap di kayu, bukan terpental lagi.
"Kenapa kau tiba-tiba mau belajar motong kayu?" tanya Cleay, setelah Lyra berhenti untuk mengatur napas.
"Karena seseorang harus melakukannya." Lyra mengusap keringat dari dahi dengan lengan bajunya, meninggalkan noda tanah tipis di sana. "Ibu terlalu sibuk dengan pesanan jahitan sekarang. Kita butuh uang, dan orang-orang masih memesan perabotan dari bengkel ini, jadi—" ia berhenti, menatap balok kayu setengah terpotong di depannya, "—jadi seseorang harus melanjutkannya."
"Kau baru sebelas tahun."
"Ayah sudah mulai belajar kerja kayu waktu seumuranku."
"Ayahmu juga dewasa lebih cepat dari kebanyakan orang, kalau kata Ibuku." Cleay berdiri, mengambil kapak kecil yang biasa dipakai untuk memotong ranting, bukan kapak besar yang dipegang Lyra. "Kalau kau memang mau belajar, biar aku bantu pegangi kayunya supaya tidak goyang waktu kau ayun. Ayahku mengajariku begitu waktu aku belajar motong kayu bakar."
Mereka bekerja dalam diam untuk beberapa saat, hanya suara kapak beradu kayu dan burung-burung yang mulai ribut di pepohonan sekitar rumah, seolah dunia sama sekali tidak berubah meski segalanya terasa berbeda bagi Lyra sejak tiga minggu lalu.
"Aku tidak tahu harus bagaimana," kata Lyra akhirnya, suaranya lebih kecil dari biasanya, kapak sudah berhenti di tangannya. "Semua orang bilang waktu akan bikin ini lebih mudah. Tapi rasanya malah lebih berat tiap hari, bukan lebih ringan."
Cleay tidak langsung menjawab. Ia menahan balok kayu itu lebih erat, memberi Lyra waktu untuk melanjutkan kalau ia mau, atau berhenti kalau itu yang ia butuhkan.
"Aku tidak tahu jawaban yang tepat," katanya akhirnya, jujur, tanpa berusaha terdengar bijak seperti orang dewasa yang biasa memberi nasihat pada Lyra belakangan ini. "Tapi aku tahu kau tidak harus tahu bagaimana caranya sendirian. Aku di sini. Aku akan terus di sini, seberapa lama pun kau butuh."
Lyra menatapnya, dan untuk sesaat, sesuatu di dadanya yang selama tiga minggu terasa seperti batu terlalu berat untuk dipindahkan, sedikit bergeser — bukan hilang, tidak pernah benar-benar hilang, tapi cukup untuk membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega.
"Terima kasih," katanya pelan.
"Untuk apa?"
"Untuk tidak bilang semua akan baik-baik saja."
Cleay tersenyum kecil, senyum yang jarang ia tunjukkan karena biasanya lebih sibuk menggoda atau membantah taruhan-taruhan konyol Lyra. "Aku tidak akan bohong padamu. Kau selalu tahu kalau aku bohong. Wajahku terlalu jujur, kata Ibuku."
Lyra hampir tertawa — hampir, untuk pertama kalinya sejak pemakaman itu — dan meski suaranya masih tercekat di tenggorokan, sesuatu di wajahnya melunak, cukup dekat dengan senyum untuk membuat Cleay merasa telah melakukan sesuatu yang benar.