Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #4

BAB 4 — LADANG, KAYU, DAN TAWA KECIL

Embun masih menempel di daun-daun gandum ketika Lyra membungkuk untuk kali kesekian pagi itu, tangannya sudah kaku memegang sabit kecil yang terlalu besar untuk ukurannya sendiri, tapi ia menolak memakai yang lebih kecil—sabit itu dulu milik Caelen waktu ia seusia Lyra sekarang, dan entah kenapa itu terasa penting untuk terus dipakai.

"Pegangannya, bukan matanya," kata Caelen dari beberapa langkah di depannya, tanpa menoleh, seolah punya mata di belakang kepala. "Kau menatap bulir gandumnya terlalu lama. Rasakan saja beratnya di tangan, biarkan tanganmu yang tahu kapan harus menarik."

"Aku sudah melakukan ini seratus kali, Ayah."

"Maka lakukan untuk yang keseratus satu kalinya dengan benar."

Lyra mendengus, tapi menurut, memperlambat gerakannya, membiarkan sabit itu menemukan iramanya sendiri alih-alih dipaksa. Kali ini bulir gandum jatuh rapi ke tumpukan, tidak berserakan seperti tadi.

"Nah," kata Caelen, akhirnya menoleh, senyum kecil di sudut bibirnya. "Begitu."

Mereka bekerja dalam diam beberapa saat, hanya diselingi suara sabit memotong batang dan burung-burung yang mulai ribut di kejauhan, menyambut matahari yang baru saja lewat garis bukit timur. Ladang keluarga Avelis tidak besar—cukup untuk menghidupi tiga orang dengan hemat, sedikit lebih untuk dijual kalau musim panen baik—tapi bagi Lyra, setiap jengkalnya terasa seperti miliknya sendiri, ditandai oleh luka-luka kecil di telapak tangan dan punggung yang pegal setiap malam.

Di ujung ladang, dekat pagar kayu rendah yang memisahkan tanah mereka dari milik tetangga, Lyra melihat sekawanan burung gagak hinggap di dahan pohon tunggal yang sudah lama mati, diam mengawasi seperti biasa. Ia pernah bertanya kenapa pohon itu tidak pernah ditebang meski sudah mati bertahun-tahun, dan Caelen hanya menjawab bahwa beberapa hal lebih baik dibiarkan berdiri, mati atau tidak, sebagai penanda batas yang tidak perlu dipertanyakan setiap tahun.

"Ayah," katanya, memecah keheningan, "kenapa kita tidak menyewa orang untuk membantu di ladang, seperti keluarga Hallow?"

"Karena keluarga Hallow punya tiga anak laki-laki dewasa dan dua ekor kerbau. Kita punya satu anak perempuan sebelas tahun dan satu ayah yang keras kepala." Caelen berdiri tegak, meregangkan punggung. "Lagi pula, kenapa membayar orang lain untuk melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan sendiri?"

"Karena itu melelahkan?"

"Semua yang berharga itu melelahkan, Lyra. Itu salah satu hal pertama yang perlu kau ketahui tentang hidup." Ia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan noda tanah tipis di sana. "Sekarang, ambil keranjang. Kita bawa sebagian hasil ini ke pasar sebelum matahari terlalu tinggi."

• • •

Pasar Bonsiva bukan pasar besar—hanya deretan lapak kayu di alun-alun kecil desa, tempat penduduk menjajakan hasil ladang, kain tenun, ikan asin dari sungai terdekat, dan sesekali barang dari luar desa yang dibawa pedagang keliling. Tapi pagi itu, suasananya terasa berbeda dari biasanya.

Di ujung alun-alun, dekat sumur umum, dua orang berseragam cokelat tua—bukan seragam prajurit, tapi seragam petugas pajak wilayah, dikenali dari lencana perunggu berbentuk gelombang di dada mereka—berdiri di depan lapak milik Pak Hallow, menghitung karung gandum dengan wajah datar sementara Pak Hallow berdiri di sampingnya, tangannya terlipat erat, rahangnya mengeras.

"Itu bukan jumlah yang disepakati bulan lalu," kata Pak Hallow, suaranya ditahan serendah mungkin, tapi cukup dekat sehingga Lyra dan Caelen yang baru tiba bisa mendengarnya. "Titah baru menyebut kenaikan sepersepuluh, bukan seperlima."

"Titah barunya sudah direvisi minggu ini," jawab petugas yang lebih tua, tanpa mengangkat pandangan dari daftar hitungannya. "Perintah dari Balai Pajak Sendrelia. Kalau Tuan mau protes, silakan kirim surat ke Noctherra. Kami hanya menjalankan perintah."

"Perintah yang berubah setiap bulan bukan lagi hukum, itu perampokan."

Petugas itu akhirnya mendongak, matanya dingin. "Hati-hati dengan kata-kata Tuan di depan umum."

Pak Hallow diam, meski wajahnya masih menahan amarah, dan akhirnya mengangguk kaku, membiarkan dua karung gandum lagi diangkut ke gerobak petugas pajak.

Istri Pak Hallow, yang berdiri agak jauh menggendong anak bungsu mereka, menutupi wajah anak itu dengan ujung selendangnya, seolah tidak ingin bayi itu melihat wajah ayahnya menahan malu di depan seluruh pasar. Beberapa pedagang lain memilih memalingkan muka, sibuk merapikan barang dagangan yang sebenarnya sudah rapi, caranya orang-orang menghindari ikut terseret ke dalam sesuatu yang bukan urusan mereka—atau, lebih tepatnya, berpura-pura bukan urusan mereka, karena mereka semua tahu giliran mereka bisa datang kapan saja.

Lyra menarik lengan baju ayahnya. "Kenapa mereka mengambil lebih banyak?"

"Diam," bisik Caelen, suaranya tegang, matanya awas ke sekeliling seperti memastikan tidak ada yang memerhatikan mereka berbicara. "Jangan bertanya keras-keras di sini, Lyra."

Mereka melewati lapak Pak Hallow tanpa menyapa—hal yang aneh, karena biasanya Caelen selalu berhenti sebentar untuk bicara soal cuaca atau harga gandum—dan menuju sudut alun-alun yang lebih sepi, tempat mereka biasa menggelar hasil ladang sendiri.

Cleay sudah menunggu di sana, duduk di atas batu besar dekat lapak ibunya yang menjual kain tenun, melambai begitu melihat mereka datang.

Lihat selengkapnya