Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #5

BAB 5 — JANJI YANG TAK TERUCAP

Cleay sudah tiga kali mengulang kalimat yang sama dalam kepalanya sepanjang perjalanan ke rumah Avelis, dan tiga kali pula ia membatalkannya sebelum sempat sampai ke depan pintu.

Lyra, aku mau bilang sesuatu.

Terdengar bodoh. Terlalu langsung, terlalu aneh untuk diucapkan begitu saja di tengah sore biasa, seolah ia punya berita penting untuk disampaikan padahal yang ingin ia katakan hanya sesuatu yang sudah lama mengendap di dadanya tanpa nama yang jelas — sesuatu yang mulai ia sadari sejak malam badai dua tahun lalu, ketika Lyra duduk di sampingnya sepanjang malam tanpa sekali pun mengeluh lelah, dan semakin jelas sejak kematian Caelen, ketika ia menyadari betapa takutnya ia kehilangan gadis itu dari hidupnya, dengan cara apa pun.

Ia menghela napas, mengetuk pintu seperti biasa, dan begitu Lyra membuka pintu dengan senyum kecil yang mulai kembali muncul belakangan ini, semua kalimat yang sudah ia susun rapi-rapi menguap begitu saja.

"Kau bengong," kata Lyra, mengernyit. "Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa." Cleay buru-buru menggeleng, mengangkat kantong berisi ikan asap yang ia bawa sebagai alasan kedatangannya. "Ibuku bilang bawakan ini. Katanya kalian kebanyakan makan sup jagung terus."

"Sup jagung enak."

"Sup jagung tiga hari berturut-turut tidak enak, sebagus apa pun kau bikin bumbunya." Cleay menyerahkan kantong itu, dan untuk sesaat tangan mereka bersentuhan lebih lama dari yang sebenarnya perlu untuk sekadar memindahkan kantong ikan, sebelum Cleay buru-buru menariknya kembali, berharap Lyra tidak menyadari wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.

Lyra tidak menyadarinya. Ia sudah berbalik, memanggil Morena dari dalam rumah, dan momen itu berlalu begitu saja, seperti banyak momen serupa yang sudah terlewat sejak dua tahun terakhir tanpa pernah benar-benar dikatakan.

• • •

Ia masih ingat malam badai itu dengan jelas, meski sudah dua tahun berlalu — lebih jelas, kadang, daripada kejadian-kejadian yang terjadi hanya beberapa hari lalu.

Angin waktu itu begitu kencang sampai atap-atap rumah bergetar, hujan turun miring seperti jarum-jarum yang dilemparkan dari langit, dan seluruh desa berkumpul di dermaga menunggu kabar perahu-perahu nelayan yang belum kembali sejak sore, termasuk perahu Rell. Cleay ingat berdiri di ujung dermaga, tubuhnya basah kuyup, matanya menatap gelap laut yang tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang waktu itu baru sembilan tahun, ia merasakan ketakutan yang begitu nyata sampai terasa seperti sesuatu yang bisa dipegang, sesuatu yang menekan dadanya sampai sulit bernapas.

Lyra datang tanpa diminta, tanpa diberi tahu siapa pun, hanya muncul di sampingnya di tengah hujan itu, menggenggam tangannya erat-erat tanpa banyak bicara. Ia tidak mencoba menghiburnya dengan kata-kata kosong seperti "semua akan baik-baik saja" — ia tahu, bahkan di usia semuda itu, bahwa kata-kata seperti itu tidak akan berarti apa-apa bagi seseorang yang sedang menunggu kabar hidup atau matinya orang tuanya sendiri. Ia hanya berdiri di sana, sepanjang malam, basah kuyup yang sama seperti Cleay, menggenggam tangannya sampai fajar, sampai akhirnya sosok perahu Rell muncul di kejauhan, rusak parah tapi masih mengapung, masih membawa pulang orang yang selamat di dalamnya.

Cleay menangis waktu itu — bukan cuma karena lega, tapi karena entah bagaimana, di tengah semua ketakutan malam itu, ia menyadari sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata seorang anak sembilan tahun: bahwa kehadiran Lyra di sampingnya malam itu terasa seperti satu-satunya hal yang membuatnya masih bisa berdiri, satu-satunya jangkar di tengah dunia yang terasa mau runtuh.

Ia tidak pernah menceritakan itu pada siapa pun, bahkan pada Lyra sendiri. Tapi sejak malam itu, sesuatu berubah dalam caranya melihat gadis kecil yang sudah jadi bagian dari hidupnya sejak sebelum ia bisa mengingat kapan persisnya persahabatan mereka dimulai — sesuatu yang tumbuh perlahan, diam-diam, seperti benih yang ditanam terlalu dalam untuk terlihat di permukaan, tapi terus mengakar tanpa pernah benar-benar berhenti.

• • •

Malam itu, di rumahnya sendiri, Cleay duduk di dermaga kecil belakang rumah, kaki menjuntai di atas air yang gelap, memandangi pantulan bulan yang pecah-pecah setiap kali ada riak kecil dari ikan yang melompat.

"Kau melamun lagi," kata Rell, ayahnya, duduk di sampingnya tanpa diminta, membawa dua cangkir teh hangat, salah satunya diserahkan pada Cleay tanpa banyak bicara.

"Tidak melamun. Cuma mikir."

Lihat selengkapnya