Suara batuk itu membangunkan Lyra sebelum ayam jantan pertama berkokok, dan kali ini ia tahu—tanpa perlu bertanya, tanpa perlu dijawab lagi dengan alasan debu gandum—bahwa ini bukan batuk biasa.
Ia berlari ke kamar orang tuanya, mendapati Morena sudah duduk di tepi ranjang, menyeka keringat dari dahi Caelen dengan kain basah, wajahnya pucat di bawah cahaya lampu minyak yang baru dinyalakan. Caelen sendiri berbaring miring, tubuhnya bergetar tiap kali batuk itu datang, dan ketika akhirnya berhenti, ada bercak merah tipis di sudut kain yang ia tekan ke mulutnya—cukup kecil untuk disembunyikan dari cahaya remang, tidak cukup kecil untuk luput dari mata Lyra yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Kembali ke kamarmu, Lyra," kata Morena, tanpa menoleh, suaranya berusaha tenang dan gagal.
"Itu darah, Bu."
"Kembali ke kamarmu."
Lyra tidak bergerak. Sudah dua bulan sejak batuk itu pertama kali muncul di meja makan, dua bulan penuh alasan yang semakin lama semakin sulit dipercaya—debu gandum, angin dingin musim ini, kelelahan karena panen yang lebih berat dari biasanya. Dua bulan ayahnya semakin jarang pergi ke ladang, semakin sering duduk di kursi dekat jendela dengan selimut menutupi kakinya meski hari belum benar-benar dingin.
"Aku sudah bukan anak kecil, Bu," kata Lyra, akhirnya, suaranya bergetar meski ia berusaha membuatnya terdengar tegas. "Aku tahu Ayah sakit. Aku hanya tidak tahu separah apa."
Morena akhirnya menoleh, dan untuk sesaat, di wajah ibunya, Lyra melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya—bukan hanya kekhawatiran, tapi ketakutan yang sudah dipendam terlalu lama untuk ditutupi lagi.
"Duduklah," kata Morena, akhirnya, menepuk tempat kosong di sisi lain ranjang. "Kalau kau memang sudah cukup besar untuk bertanya, kau cukup besar untuk mendengar jawabannya."
• • •
Tabib desa—seorang perempuan tua bernama Nyonya Fenwick, satu-satunya orang di Bonsiva yang tahu sedikit tentang ramuan dan penyembuhan di luar dukun kampung—datang tiga hari kemudian, membawa kantong kulit berisi akar-akaran kering dan wajah yang sudah cukup berpengalaman untuk tidak menunjukkan apa yang sebenarnya ia pikirkan di depan pasien.
"Paru-parunya," katanya kepada Morena, di luar kamar, cukup pelan tapi tidak cukup pelan untuk luput dari telinga Lyra yang mengintip dari balik pintu dapur. "Sudah cukup lama bersarang, mungkin sejak musim dingin lalu. Ramuan ini bisa meringankan, membuat napasnya lebih mudah, tapi—" ia berhenti, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aku tidak bisa menjanjikan lebih dari itu, Nyonya Avelis. Kalau ada tabib istana di Noctherra, mungkin ada obat lain. Tapi biayanya..."
"Kami tidak punya biaya untuk itu," kata Morena, datar, seperti orang yang sudah lama tahu jawaban itu sebelum pertanyaannya selesai diucapkan.
"Aku tahu." Nyonya Fenwick meletakkan tangan sejenak di lengan Morena, gestur yang lebih jujur daripada kata-kata apa pun yang bisa ia ucapkan. "Aku akan datang lagi minggu depan, membawa lebih banyak ramuan. Jangan bayar aku sekarang. Bayar kalau musim panen berikutnya baik."
Setelah Nyonya Fenwick pergi, Lyra keluar dari persembunyiannya di dapur, mendapati ibunya berdiri sendirian di tengah ruangan, tangannya menutup mulut, bahunya bergetar tanpa suara. Lyra tidak pernah melihat ibunya menangis sebelumnya—tidak seperti ini, tidak dengan cara yang berusaha keras untuk tidak terlihat.
Ia mendekat, memeluk pinggang ibunya dari samping, dan untuk beberapa saat mereka berdiri seperti itu, tanpa kata-kata, karena tidak ada kata-kata yang cukup untuk situasi seperti ini.
• • •
Cleay datang setiap sore sejak Caelen jatuh sakit, kadang membawa sedikit susu kambing dari rumahnya sendiri, kadang hanya duduk di halaman depan bersama Lyra tanpa banyak bicara—sesuatu yang tidak biasa untuknya, tapi terasa tepat untuk hari-hari seperti ini.
"Ibuku bilang," kata Cleay suatu sore, memainkan ranting kering di tangannya, tidak menatap Lyra langsung, "penyakit paru-paru seperti itu kadang bisa membaik kalau cuacanya berubah. Musim panas biasanya lebih baik daripada musim dingin."
"Sekarang musim gugur," kata Lyra, datar. "Musim dingin akan datang sebelum musim panas."
Cleay tidak punya jawaban untuk itu, dan mereka duduk diam beberapa saat, mendengarkan suara batuk samar dari dalam rumah yang kadang-kadang terdengar sampai ke halaman.
"Aku benci tidak bisa melakukan apa-apa," kata Lyra, akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Aku bisa mengikat kayu, memanen gandum, menawar harga di pasar. Tapi untuk ini—" ia menggenggam tangannya sendiri erat-erat, "—aku tidak bisa apa-apa."