Suara derap kaki berbaris membangunkan seluruh Bonsiva sebelum ayam sempat berkokok.
Lyra terbangun dengan jantung berdebar, mendengar suara logam beradu logam, suara perintah yang diteriakkan dengan nada yang tidak pernah ia dengar sebelumnya di desanya sendiri — nada yang tidak meminta, hanya memerintah. Ia berlari ke jendela, menyibak tirai kain tipis, dan yang dilihatnya membuat darahnya seketika terasa dingin.
Puluhan prajurit berbaris di jalan utama desa, seragam hitam dengan lambang ombak dan menara di dada — lambang yang sama seperti yang pernah dipakai petugas pajak setahun lalu, tapi kali ini jumlahnya bukan satu atau dua orang. Ini pasukan penuh, lengkap dengan kuda, tombak, dan sebuah kereta besar yang ditarik empat ekor kuda hitam, bendera Wangsa Zion berkibar di puncaknya.
"Ibu," Lyra berbisik, suaranya nyaris hilang di tenggorokannya sendiri.
Morena sudah berdiri di ambang pintu kamarnya, wajahnya pucat, tangan menggenggam gagang pintu begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. "Jangan keluar, Lyra. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari rumah ini sampai Ibu bilang aman."
• • •
Sosok yang turun dari kereta besar itu adalah seorang perwira bernama Kapten Dresh Varnhalt, tubuh tegap dengan jubah panjang berwarna abu tua, wajah yang tidak menunjukkan emosi apa pun selain kepuasan dingin seorang lelaki yang tahu betul kekuasaan macam apa yang ia bawa. Ia berdiri di tengah alun-alun kecil Bonsiva, di depan Balai Desa, sementara warga dipaksa keluar dari rumah masing-masing oleh prajurit yang mengetuk pintu tanpa permisi, kadang mendobraknya kalau tidak dibuka cukup cepat.
Lyra berdiri di antara kerumunan warga, digenggam erat oleh Morena, memerhatikan Ovin Rooke berjalan maju menghadap sang kapten, punggungnya yang biasa tegak kini sedikit membungkuk — bukan karena usia, tapi karena insting bertahan hidup yang sudah dipelajari puluhan tahun sebagai kepala desa kecil yang tidak pernah punya kekuatan untuk melawan apa pun yang datang dari Noctherra.
"Kapten," kata Ovin, suaranya berusaha tenang meski tangannya sedikit gemetar di sisi tubuhnya, "Bonsiva selalu memenuhi setoran pajak tepat waktu. Kami tidak mengerti kenapa—"
"Ini bukan soal pajak, Kepala Desa." Suara Varnhalt datar, memotong tanpa perlu berteriak, jenis suara yang terbiasa didengarkan tanpa dibantah. "Ini titah Wali Daulat Mevira Zion. Wilayah Kesteron dinyatakan berada dalam status siaga militer, terhitung sejak pagi ini. Bonsiva, karena letaknya strategis dekat perbatasan hutan, akan dijadikan pos garnisun sementara."
Bisikan cemas menyebar di antara warga yang berkumpul. Lyra merasakan genggaman Morena semakin erat.
"Garnisun... berarti pasukan akan tinggal di sini?" tanya Ovin, mencoba memahami.
"Pasukan akan tinggal di sini," ulang Varnhalt, "dan warga akan menyesuaikan diri. Rumah-rumah besar akan digunakan sebagai barak. Hasil panen dan ternak akan disetor untuk logistik pasukan, dengan kompensasi yang akan ditentukan kemudian. Jam malam diberlakukan mulai senja hingga fajar. Siapa pun yang ditemukan di luar rumah setelah senja tanpa izin akan ditahan."
"Kompensasi macam apa—"
"Kepala Desa." Varnhalt melangkah lebih dekat, dan meski tidak mengangkat suaranya sedikit pun, sesuatu dalam nada bicaranya membuat seluruh alun-alun terasa lebih dingin. "Ini bukan negosiasi. Ini pemberitahuan. Aku bisa jelaskan sekali lagi dengan lebih pelan kalau kau kesulitan mengerti, tapi hasilnya akan tetap sama."
Ovin menutup mulutnya, menelan apa pun yang ingin ia katakan selanjutnya, dan mengangguk pelan, kekalahan yang terasa jelas di setiap gerakannya.
• • •
Hari itu berjalan seperti mimpi buruk yang menolak selesai.
Prajurit-prajurit menyebar ke seluruh penjuru desa, memeriksa rumah demi rumah, mendata jumlah ternak dan hasil panen yang tersimpan, menandai rumah-rumah yang dianggap cukup besar untuk dijadikan barak sementara. Rumah keluarga Avelis, meski kecil, tidak luput dari pemeriksaan — dua prajurit muda masuk tanpa mengetuk, memeriksa setiap sudut, membuka lemari kayu tempat Morena menyimpan kain jahitan, bahkan membongkar tumpukan kayu di bengkel kerja tempat Lyra biasa belajar memahat.
"Apa ini?" tanya salah satu prajurit, mengangkat balok kayu setengah jadi yang sedang Lyra kerjakan sejak beberapa hari terakhir — sebuah kotak kecil untuk menyimpan perhiasan, pesanan dari salah satu tetangga.
"Itu pesanan pelanggan," kata Lyra, suaranya lebih berani dari yang ia kira bisa ia keluarkan saat itu. "Belum selesai."