Yang pertama kali Lyra sadari, sebelum ia bahkan benar-benar terbangun, adalah keheningan.
Selama berminggu-minggu, pagi selalu dimulai dengan suara batuk dari kamar orang tuanya—kadang pendek, kadang panjang sampai membuat seluruh rumah terasa menahan napas bersamanya. Pagi itu tidak ada apa-apa. Tidak ada batuk. Tidak ada derit ranjang. Hanya suara ayam jantan di kejauhan dan angin yang menggesek dedaunan di luar jendela, seolah dunia di luar rumah mereka tidak tahu, atau tidak peduli, bahwa sesuatu baru saja berubah selamanya di dalamnya.
Lyra berbaring sebentar, menunggu suara itu muncul, meyakinkan dirinya sendiri bahwa keheningan hanya berarti ayahnya sedang tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu. Tapi sesuatu di dadanya sudah tahu lebih dulu daripada pikirannya mau mengakui, dan ketika ia akhirnya bangkit dan berjalan ke kamar orang tuanya, langkahnya sudah gemetar sebelum tangannya menyentuh pintu.
Morena duduk di tepi ranjang, membelakangi pintu, tubuhnya diam sempurna—terlalu diam, dengan cara yang membuat Lyra tahu sebelum ibunya menoleh.
"Bu?"
Morena menoleh perlahan. Wajahnya sudah basah, tapi tidak ada isak yang keluar, hanya air mata yang mengalir dalam diam, seolah sudah kehabisan suara untuk menangis lebih keras dari itu.
"Dia pergi tadi malam," kata Morena, suaranya nyaris tidak terdengar. "Dalam tidurnya. Aku... aku tidak sadar sampai subuh."
Lyra berjalan ke sisi ranjang yang lain, menatap wajah ayahnya yang tampak lebih tenang daripada yang pernah ia lihat sepanjang dua bulan terakhir—tidak ada lagi kerutan menahan sakit di dahinya, tidak ada lagi napas berat yang memenuhi ruangan. Untuk sesaat, itu hampir terlihat seperti tidur biasa, dan bagian dari Lyra ingin memercayai itu, ingin mengguncang bahu ayahnya dan memintanya bangun untuk sarapan seperti hari-hari biasa.
Tapi ia sudah cukup besar untuk tahu perbedaannya. Tidur biasa punya gerak dada yang naik turun. Ini tidak punya apa-apa.
Ia tidak menangis segera. Yang datang lebih dulu adalah semacam mati rasa, seperti tubuhnya belum siap menanggung sesuatu sebesar ini, dan hanya bisa berdiri di sana, menatap, menunggu perasaan yang seharusnya datang tapi belum juga muncul.
• • •
Kabar itu menyebar cepat ke seluruh Bonsiva, seperti biasanya kabar duka menyebar di desa sekecil itu—dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, sampai menjelang siang, hampir semua orang sudah tahu bahwa Caelen Avelis telah tiada.
Cleay datang lebih cepat dari siapa pun, berlari sepanjang jalan dari rumahnya begitu ibunya memberitahunya, dan ketika ia sampai di halaman depan rumah Avelis, ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di depan Lyra, yang duduk sendirian di anak tangga depan pintu karena tidak sanggup berada di dalam rumah lebih lama, dan duduk di sampingnya tanpa kata.
Mereka duduk seperti itu cukup lama, tidak berbicara, sampai akhirnya Lyra bersuara, suaranya kering dan aneh di telinganya sendiri. "Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal."
"Kau mengucapkan banyak hal padanya minggu-minggu ini," kata Cleay, pelan. "Mungkin itu lebih penting daripada satu kalimat perpisahan."
"Bagaimana kau tahu apa yang penting untuk situasi seperti ini?"
"Aku tidak tahu," jawab Cleay, jujur. "Aku hanya bicara apa yang terasa benar untuk dikatakan. Kalau itu salah, maafkan aku."
Lyra menggeleng, dan untuk pertama kalinya sejak subuh, air mata yang tertahan sejak tadi akhirnya pecah, dan ia menangis—bukan tangisan pelan yang berusaha ditahan, tapi tangisan yang datang dari tempat yang jauh lebih dalam daripada yang bisa ia kendalikan. Cleay tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya duduk di sana, membiarkan bahunya menjadi tempat bersandar, sesekali menepuk punggung Lyra dengan canggung karena tidak tahu cara lain untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan pergi.
• • •
Pemakaman diadakan dua hari kemudian, sesuai adat Bonsiva—cukup cepat untuk menghormati jasad, cukup lambat untuk memberi waktu keluarga jauh datang, meski dalam kasus keluarga Avelis, tidak ada keluarga jauh yang datang sama sekali, karena tidak ada yang tahu ke mana surat kabar duka itu harus dikirim.