Kapak itu terlalu berat untuk tangan Lyra, dan ia sudah tahu itu sejak ayunan pertama, tapi ia tetap mengangkatnya lagi, karena kayu bakar tidak akan membelah dirinya sendiri, dan musim dingin tidak peduli apakah ada yang cukup kuat untuk menyiapkannya.
Ayunan ketiga meleset dari kayu, mengenai tanah di sampingnya dengan bunyi tumpul yang membuat lengannya bergetar sampai ke bahu. Ia berhenti sejenak, mengatur napas, menatap tumpukan kayu gelondongan yang masih separuh dari yang ia rencanakan untuk hari itu, dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman tiga minggu lalu, ia merasakan sesuatu yang lebih dekat dengan putus asa daripada kesedihan.
"Ayah bisa membelah ini dalam waktu setengah dari yang kubutuhkan," gumamnya, entah kepada siapa, mungkin hanya kepada udara kosong di halaman belakang yang terasa terlalu luas tanpa suara kapak yang biasa mengiringinya.
Ia mengangkat kapak lagi, mengayunkannya dengan tenaga yang sudah mulai habis, dan kali ini bilahnya menyangkut di tengah kayu, tidak cukup dalam untuk membelahnya, tidak cukup dangkal untuk dicabut dengan mudah. Lyra menarik gagangnya, sekali, dua kali, dan pada tarikan ketiga kakinya tergelincir di tanah becek sisa hujan semalam, membuatnya jatuh terduduk keras, telapak tangannya tergores kasar oleh permukaan kapak yang ia genggam terlalu erat.
Ia duduk di sana sebentar, di tanah becek, telapak tangan berdarah tipis, dan menangis—bukan karena sakitnya, meski itu cukup perih, tapi karena rasa lelah yang jauh lebih besar dari sekadar tenaga fisik yang ia keluarkan pagi itu. Selama ini ia pikir kesedihan akan datang seperti gelombang besar sekali waktu, cukup untuk ditangisi habis-habisan lalu selesai. Ternyata kesedihan datang seperti ini—kecil, tiba-tiba, muncul dari hal sesepele kapak yang tersangkut di kayu, menagih air mata yang tidak pernah benar-benar berhenti mengalir sepenuhnya sejak pemakaman.
"Lyra?"
Ia mendongak. Cleay berdiri di ujung pagar, membawa keranjang berisi telur—tugas rutin yang biasa dilakukan ibunya, dititipkan padanya pagi itu untuk diantar ke beberapa tetangga. Ia meletakkan keranjang itu tanpa berpikir dua kali dan berlari mendekat.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," kata Lyra, cepat, mencoba berdiri dan gagal karena tangannya masih gemetar. "Hanya tergelincir."
Cleay tidak percaya begitu saja—terlihat jelas dari caranya menatap Lyra, lalu kapak yang masih menyangkut di kayu, lalu tumpukan kayu yang jauh dari selesai—tapi ia tidak berdebat. Ia hanya mengulurkan tangan, membantu Lyra berdiri, dan menatap telapak tangannya yang tergores.
"Sudah berapa lama kau di sini sendirian?" tanyanya, nada suaranya lebih tajam dari biasanya.
"Sejak subuh."
"Sendirian? Ibumu tahu?"
"Ibu sedang menenun pesanan Bibi Sarenne yang harus selesai besok. Aku tidak mau mengganggunya." Lyra menatap tumpukan kayu yang belum selesai, suaranya melembek. "Lagi pula, ini tugasku sekarang."
Cleay menghela napas, menahan diri untuk tidak berdebat lebih jauh soal itu, dan malah memilih fokus pada luka di tangan Lyra. "Ini perlu dibersihkan," katanya. "Duduk di sana. Aku akan ambil air."
• • •
Setelah lukanya dibersihkan dan dibalut kain bersih yang diambil Cleay dari dapur tanpa izin—hal yang biasanya membuat Lyra tertawa kalau situasinya berbeda, karena Cleay selalu bertindak seolah rumah Avelis adalah rumahnya sendiri sejak kecil—mereka duduk berdampingan di anak tangga yang sama tempat mereka duduk hari kematian Caelen.
"Kau tidak perlu melakukan semua ini sendirian," kata Cleay, akhirnya, menatap tumpukan kayu yang belum selesai.
"Siapa lagi yang akan melakukannya? Ibu sudah cukup lelah menenun sepanjang hari untuk menutupi kekurangan uang. Aku satu-satunya yang tersisa untuk urusan ladang dan kayu."
"Kau bisa minta bantuan. Orang-orang di Bonsiva tidak akan menolak."
"Aku tidak mau jadi beban," kata Lyra, cepat, terlalu cepat, dengan nada yang membuat Cleay menoleh menatapnya lebih lama.
"Kau tidak akan pernah jadi beban bagi kami, Lyra. Berapa kali harus kukatakan itu?"
Lyra tidak menjawab segera, menatap tangannya yang dibalut, memikirkan kata-kata itu. Ada sesuatu di suara Cleay pagi itu yang terdengar berbeda dari biasanya—bukan lagi nada bercanda yang biasa mewarnai kalimatnya, tapi sesuatu yang lebih serius, hampir seperti frustrasi yang ditahan.
"Kenapa kau begitu keras kepala soal ini?" tanya Cleay, akhirnya, ketika Lyra tidak menjawab.
"Karena kalau aku berhenti mengerjakan semuanya sendiri, itu berarti aku mengakui Ayah benar-benar sudah pergi," kata Lyra, suaranya nyaris berbisik, dan baru setelah kata-kata itu keluar, ia sendiri terkejut mendengarnya diucapkan keras-keras. "Selama aku masih mencoba membelah kayu seperti caranya, masih mengikat gandum seperti yang ia ajarkan, rasanya seperti dia masih ada di sini, mengawasiku, menegur kalau caraku salah."
Cleay diam sejenak, mencerna kata-kata itu dengan keseriusan yang jarang ia tunjukkan. "Aku mengerti," katanya, akhirnya. "Waktu ayahku meninggal, aku terus memakai topinya, meski kebesaran, meski ibuku bilang aku terlihat konyol memakainya. Aku berhenti setelah beberapa bulan, bukan karena aku sudah tidak merindukannya, tapi karena aku sadar dia tidak butuh aku memakai topinya untuk tetap ada di sini." Ia menyentuh dadanya sendiri. "Dia ada di sini, bukan di topi itu."