Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #7

BAB 7 — API YANG MELALAP RUMAH

Lonceng Balai Desa berbunyi bertubi-tubi di tengah malam, nada yang tidak pernah Lyra dengar sebelumnya — bukan tanda bahaya kebakaran dapur atau ternak lepas, tapi dentangan panik yang terus-menerus, seolah siapa pun yang menariknya tidak berniat berhenti sampai seluruh desa terbangun. Suara itu berbaur dengan sesuatu yang lebih mengerikan lagi — jeritan-jeritan pertama yang mulai terdengar dari arah barat desa, samar tapi cukup jelas untuk membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri.

Ia duduk tegak di ranjangnya seketika, dan sebelum ia sempat bertanya apa yang terjadi, bau asap sudah menyusup masuk lewat celah jendela — tajam, pekat, jenis bau yang membuat seluruh tubuhnya beku sesaat sebelum insting mengambil alih.

"Lyra!" Morena sudah berdiri di pintu kamarnya, wajah diterangi cahaya jingga yang bergoyang-goyang dari luar jendela, cahaya yang seharusnya tidak ada di jam segelap ini. "Bangun. Sekarang. Bawa apa pun yang bisa kau bawa dengan satu tangan, tidak lebih."

"Ada apa—"

"Tidak ada waktu untuk bertanya. Bergerak."

Lyra melompat dari ranjang, menyambar mantel yang tergantung di dekat pintu, dan begitu ia keluar ke ruang depan, ia melihatnya sendiri lewat jendela — ujung barat desa, dekat lumbung tempat Torvin Marrow dipukuli siang sebelumnya, sudah menjadi lautan api. Rumah-rumah yang selama ini ia kenal sejak lahir, atap-atap yang pernah ia panjat waktu bermain petak umpan dengan Cleay, semuanya diselimuti kobaran yang menjalar begitu cepat, terlalu cepat untuk kebakaran biasa.

"Mereka menyulut atapnya sengaja," kata Morena, suaranya datar karena terlalu shock untuk bergetar, matanya menatap ke luar jendela dengan tatapan seseorang yang sudah menyaksikan hal-hal buruk sebelumnya dalam hidupnya, jauh sebelum Bonsiva, jauh sebelum Lyra lahir. "Ini bukan kecelakaan, Lyra. Ini hukuman."

• • •

Kabar yang beredar di antara warga yang berlarian keluar rumah malam itu — sebagian benar, sebagian mungkin cuma rumor panik yang menyebar lebih cepat dari api itu sendiri — mengatakan bahwa seorang pemuda desa, salah satu dari beberapa warga muda yang marah atas kejadian Torvin siang tadi, mencoba menyelinap ke pos penjagaan malam itu untuk mengambil kembali sebagian gandum yang disita. Penjaga yang bertugas terluka dalam kericuhan singkat itu — seberapa parah, tidak ada yang tahu pasti — dan sebelum fajar, Kapten Varnhalt sudah memerintahkan hukuman yang jauh melampaui apa yang pantas untuk kesalahan satu orang.

"Desa ini akan jadi pelajaran bagi seluruh Kesteron," begitu kata seorang warga yang sempat mendengar langsung perintah itu diteriakkan, suaranya masih gemetar menceritakannya. "Itu yang dikatakan sang kapten. Pelajaran."

Lyra tidak sempat memikirkan lebih jauh apakah cerita itu benar atau tidak. Dunia di sekelilingnya sudah berubah jadi kekacauan penuh — warga berlarian ke segala arah, sebagian mencoba memadamkan api dengan ember air yang jelas tidak akan cukup, sebagian lain menyeret apa pun yang bisa mereka selamatkan dari rumah masing-masing, anak-anak menangis mencari orang tua mereka di tengah asap yang makin tebal, dan di antara semua itu, prajurit-prajurit berseragam hitam berdiri berjajar di jalan utama, tombak di tangan, menghalangi siapa pun yang mencoba melarikan diri ke arah yang salah — arah yang mereka anggap "salah", entah berdasarkan alasan apa yang hanya mereka sendiri yang tahu.

Seorang perempuan tua berlari melewati mereka, memeluk erat kotak kayu berisi entah apa, matanya kosong seperti sudah kehilangan kemampuan untuk merasakan apa pun selain dorongan untuk terus bergerak. Seorang lelaki muda — salah satu tetangga yang biasa membantu Caelen mengangkut kayu ke pasar — berteriak nama istrinya berulang-ulang di tengah kerumunan, suaranya makin serak setiap kali tidak ada jawaban yang datang. Bau asap sudah bercampur dengan bau sesuatu yang lebih pahit, lebih menyesakkan, yang tidak ingin dipikirkan lebih jauh oleh Lyra selama ia masih bisa menghindarinya.

"Ke arah hutan," kata Morena, menarik tangan Lyra, mengubah arah mereka menjauh dari jalan utama yang dijaga ketat menuju jalur kecil di belakang rumah yang biasa dipakai warga untuk mengambil kayu bakar. "Jangan lewat jalan besar. Mereka jaga di sana."

"Bagaimana dengan Cleay? Keluarganya—"

"Mereka sudah dipindahkan ke gudang ikan, ingat? Lebih jauh dari sini. Semoga mereka sudah lebih dulu menyelamatkan diri." Morena tidak berhenti berjalan, suaranya terus terdengar tegas meski Lyra bisa merasakan tangan ibunya gemetar menggenggam tangannya sendiri. "Kita tidak bisa mencari mereka sekarang, Lyra. Kita harus keluar dari sini dulu."

Rumah mereka sendiri belum tersentuh api saat mereka berlari melewatinya untuk terakhir kalinya, tapi Lyra tahu, dengan kepastian yang menyakitkan, bahwa itu hanya soal waktu. Ia menoleh sekali, hanya sekali, melihat siluet rumah kecil tempat ia dilahirkan, tempat ayahnya mengukir mebel selama bertahun-tahun, tempat mereka bertiga duduk menonton matahari terbenam di beranda — dan untuk sesaat, di tengah kekacauan itu, ia merasa sesuatu di dalam dirinya retak, seperti kotak kayu yang rusak oleh tangan prajurit siang sebelumnya, tapi kali ini jauh lebih dalam, jauh lebih permanen.

Lihat selengkapnya