Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #8

BAB 8 — JEJAK LANGKAH DI ATAS SALJU

Salju pertama musim itu turun lebih awal dari biasanya, dan Lyra membenci setiap kepingnya.

Mereka sudah berjalan sepanjang malam dan sebagian besar pagi, menembus punggung Bukit Kesteron menuju arah yang bahkan Morena sendiri tidak sepenuhnya yakin — hanya menjauh, terus menjauh dari cahaya jingga yang akhirnya menghilang di balik pepohonan beberapa jam lalu, digantikan langit kelabu yang mulai menaburkan salju tipis sejak fajar. Setiap jejak kaki mereka tercetak jelas di permukaan putih itu, dan Lyra tidak bisa berhenti memikirkan betapa mudahnya jejak itu diikuti siapa pun yang mencari mereka.

"Ibu, kita harus berhenti sebentar." Lyra menahan lengan Morena, yang wajahnya sudah lebih pucat dari sebelumnya, keringat dingin membasahi dahinya meski udara di sekitar mereka cukup dingin untuk membuat napas keduanya mengepul putih. "Lengan Ibu—"

"Aku bisa terus." Morena melangkah lagi, meski gerakannya jelas lebih goyah dari beberapa jam sebelumnya. "Kita belum cukup jauh, Lyra. Kalau mereka masih mencari—"

"Ibu akan pingsan kalau kita tidak berhenti." Lyra memaksa dirinya bicara dengan nada tegas, meniru nada yang biasa dipakai ibunya sendiri ketika bersikeras soal sesuatu. "Sebentar saja. Kita cari tempat berlindung dari angin, periksa lukanya, lalu jalan lagi."

Morena menatap putrinya lama, dan untuk sesaat, di tengah kelelahan dan rasa sakit yang jelas ia tahan sekuat tenaga, ada sesuatu di matanya yang menyerupai kebanggaan — bahkan di saat seperti ini, bahkan dengan dunia yang runtuh di sekeliling mereka.

"Baiklah," katanya akhirnya, suaranya lebih lemah dari yang ingin ia tunjukkan. "Sebentar saja."

• • •

Mereka menemukan celah di bawah akar pohon tumbang yang cukup besar untuk berlindung dari angin, meski tidak sepenuhnya menghalangi salju yang terus turun perlahan. Lyra merobek sisa kain mantelnya sendiri untuk membalut luka di lengan Morena, tangannya gemetar bukan cuma karena dingin, tapi karena luka itu terlihat lebih buruk dalam cahaya siang dibanding yang ia kira semalam — sabetan dalam yang sudah mulai membengkak di pinggirnya, meski pendarahannya sudah agak mereda.

"Ini butuh dijahit dengan benar," kata Lyra, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar seketakutan yang sebenarnya ia rasakan. "Bibi Sanne bisa—"

"Bibi Sanne ada di Bonsiva, Lyra." Morena mengucapkannya pelan, tanpa berusaha menyembunyikan kenyataan pahit di baliknya. "Kita tidak tahu apa desa itu masih ada sekarang, atau siapa yang berhasil selamat."

Lyra terdiam, tangannya berhenti sesaat di tengah membalut luka, pikirannya melayang ke arah wajah-wajah yang ia kenal seumur hidupnya — Ovin Rooke, Bibi Sanne, keluarga Colder yang anaknya sempat mereka selamatkan, dan yang paling menghantui pikirannya, Cleay beserta seluruh keluarganya, entah di mana mereka sekarang, entah selamat atau tidak.

"Kita akan cari tahu," kata Morena, seolah membaca pikiran putrinya, "begitu kita cukup aman untuk berhenti lebih lama. Sekarang, yang terpenting adalah kita berdua tetap hidup dan tetap bergerak."

Lyra menyelesaikan balutan itu sebaik yang ia bisa dengan kain seadanya, ikatannya tidak serapi yang biasa dibuat Bibi Sanne, tapi cukup kencang untuk menahan darah yang masih sesekali merembes. Tangannya sendiri gemetar sepanjang proses itu, bukan cuma karena dingin, tapi karena ia belum pernah melakukan sesuatu seserius ini sebelumnya — biasanya Morena yang mengurus luka-luka kecilnya sendiri, bukan sebaliknya.

"Kau melakukannya dengan baik," kata Morena, memperhatikan hasil kerja putrinya dengan mata yang penuh penghargaan meski suaranya lemah menahan sakit. "Ayahmu akan bangga melihatmu sekuat ini."

Lyra tidak menjawab, hanya menunduk menyembunyikan air mata yang tiba-tiba menggenang di sudut matanya. Menyebut nama Caelen masih terasa seperti luka tersendiri, luka yang belum sempat sembuh sebelum luka-luka baru datang bertubi-tubi menimpanya.

Ia duduk bersandar di batang pohon tumbang setelah selesai, napasnya masih terengah dari perjalanan panjang. Di sekelilingnya, hutan terasa begitu sunyi setelah kekacauan semalam — hanya suara angin di antara dahan-dahan yang mulai tertutup salju tipis, dan sesekali suara burung yang tidak terpengaruh sama sekali oleh tragedi yang baru saja terjadi beberapa mil di belakang mereka.

"Ibu," kata Lyra setelah beberapa saat diam, "kenapa mereka lakukan ini? Bonsiva bahkan bukan desa yang penting. Kita cuma petani, tukang kayu, nelayan. Kita tidak pernah melawan apa pun sampai—"

"Sampai seseorang akhirnya melawan, meski cuma satu orang." Morena menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke arah pepohonan yang mulai memutih. "Itulah cara kekuasaan seperti Mevira Zion bekerja, Lyra. Mereka tidak butuh alasan besar untuk menghancurkan sesuatu. Mereka cuma butuh alasan kecil, lalu membesarkannya jadi pelajaran untuk semua orang yang menyaksikan."

"Itu tidak masuk akal."

"Banyak hal yang dilakukan orang berkuasa tidak masuk akal bagi orang-orang yang harus menanggung akibatnya," kata Morena, suaranya pahit tapi tidak pernah kehilangan kelembutannya yang biasa. "Tapi selalu masuk akal bagi mereka sendiri. Itulah yang paling menakutkan darinya."

Lihat selengkapnya