Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #8

BAB 8 — DUA ANAK DI BAWAH LANGIT KELABU

Embun beku pertama musim itu turun tanpa peringatan, dan Lyra terbangun mendapati separuh ladang gandum musim kedua mereka—yang seharusnya masih punya waktu dua minggu lagi sebelum dipanen—sudah tertutup lapisan putih tipis yang bisa membunuh tanaman kalau dibiarkan terlalu lama.

"Bu!" teriaknya, berlari keluar hanya dengan selimut disampirkan di bahu, kakinya telanjang menapak tanah yang sudah membeku di beberapa bagian. "Bu, embun bekunya datang lebih awal!"

Morena keluar dari dapur, wajahnya masih penuh sisa tidur, tapi matanya langsung terjaga penuh begitu melihat ladang mereka. "Terlalu awal. Ini belum waktunya."

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Panen sekarang, secepat mungkin, sebelum embun itu membekukan seluruh batang." Morena sudah berlari kembali ke dalam mengambil sabit, suaranya tegang tapi terkendali—satu dari sedikit hal yang Lyra kagumi dari ibunya sejak kematian Caelen, kemampuannya untuk tetap berfungsi bahkan ketika dunia terasa runtuh. "Ambil sabitmu. Kita tidak punya waktu untuk menunggu matahari menghangatkan tanah."

Mereka bekerja dalam kegelapan subuh yang masih setengah gelap, tangan Lyra kebas oleh dingin dalam hitungan menit, tapi ia terus memotong, mengikuti irama yang diajarkan ayahnya bertahun-tahun lalu—pegangannya, bukan matanya—meski kali ini iramanya jauh lebih tergesa dari yang pernah diajarkan Caelen, karena setiap menit yang terbuang berarti lebih banyak gandum yang membeku dan tidak bisa diselamatkan.

Napas mereka mengepul putih di udara dingin, dan beberapa kali Lyra harus berhenti sejenak untuk menghangatkan jarinya dengan meniupnya, sebelum kembali membungkuk dan memotong lagi. Ia tidak pernah bekerja secepat ini sebelumnya, bahkan di hari-hari tersibuk musim panen bersama ayahnya, dan bagian dari dirinya bertanya-tanya berapa lama lagi tubuhnya yang masih dua belas tahun ini bisa terus dipaksa bekerja seperti orang dewasa sebelum sesuatu di dalamnya menyerah.

• • •

Cleay muncul ketika matahari baru mulai naik, membawa sabitnya sendiri tanpa diminta—entah bagaimana ia selalu tahu kapan dibutuhkan, seolah punya indra keenam untuk kesulitan keluarga Avelis.

"Ibuku melihat embunnya dari jendela," katanya, tanpa basa-basi, langsung membungkuk memotong batang gandum di sebelah Lyra. "Dia menyuruhku ke sini sebelum aku sempat sarapan."

"Kau tidak perlu—"

"Jangan mulai lagi soal tidak perlu, Lyra. Potong saja gandummu."

Mereka bekerja bertiga sepanjang pagi—Morena, Lyra, dan Cleay—dalam diam yang lebih banyak diisi napas terengah dan suara sabit daripada percakapan, sampai akhirnya, menjelang tengah hari, sebagian besar gandum yang masih bisa diselamatkan sudah terkumpul dalam tumpukan-tumpukan kecil di pinggir ladang, meski sepertiga dari hasil panen tahun itu tetap hilang, batangnya sudah terlalu rapuh dan gelap akibat embun beku yang datang sebelum waktunya.

Morena berdiri di tengah ladang yang setengah kosong itu, menyeka keringat yang bercampur dengan udara dingin yang membuatnya mengepul di depan wajahnya, dan untuk sesaat, Lyra melihat sesuatu di wajah ibunya yang jarang ia tunjukkan—keputusasaan yang nyaris tidak tertahan, cepat disembunyikan begitu Morena sadar sedang diperhatikan.

"Sepertiga bukan angka yang baik," kata Morena, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Lyra atau Cleay. "Kita akan kesulitan melewati musim dingin dengan sisa ini."

"Kita akan mencari cara, Bu," kata Lyra, meski suaranya sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Morena tersenyum tipis, senyum yang lebih untuk menenangkan putrinya daripada dirinya sendiri. "Tentu saja kita akan mencari cara. Kita selalu mencari cara." Tapi matanya, ketika ia berbalik menatap ladang yang setengah rusak itu sekali lagi, menceritakan sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada kata-kata yang baru ia ucapkan.

Cleay, yang berdiri agak jauh mengumpulkan sisa batang gandum yang masih bisa diselamatkan, mendekat membawa karung yang sudah setengah penuh. "Ibuku bilang keluarga Marrow kehilangan hampir setengah ladang mereka. Keluarga Wilton juga terkena, meski tidak seburuk itu."

"Setidaknya kita tidak sendirian menanggung ini," kata Morena, meski nada suaranya tidak sepenuhnya terhibur oleh kenyataan itu. "Meski aku tidak yakin itu memberi kenyamanan yang sesungguhnya. Kesulitan bersama tetap kesulitan."

"Bibi Fenwick bilang," Cleay melanjutkan, "embun beku seperti ini biasanya tanda musim dingin akan datang lebih panjang dari biasanya. Orang-orang tua di desa masih ingat kejadian serupa dua puluh tahun lalu, katanya, dan musim dingin sesudahnya berlangsung hampir enam bulan penuh."

Morena diam sejenak, menghitung dalam hati persediaan yang mereka punya, mengukurnya melawan enam bulan yang mungkin harus mereka lalui tanpa hasil panen yang cukup. "Kita akan memikirkan itu nanti," katanya, akhirnya, lebih untuk menghentikan pembicaraan itu daripada benar-benar menyelesaikannya. "Untuk sekarang, selesaikan dulu apa yang bisa diselamatkan."

Lihat selengkapnya