Lyra terbangun karena batuk ibunya, batuk yang terdengar berbeda dari sebelumnya — lebih dalam, lebih basah, disertai erangan pelan yang Morena coba tahan setiap kali rasa sakit itu datang.
"Ibu?" Lyra duduk cepat, sisa kantuk langsung menguap begitu ia melihat wajah ibunya dalam cahaya pagi yang menembus mulut gua — pucat pasi dengan bercak merah tidak wajar di kedua pipi, keringat membasahi dahi meski udara di sekitar mereka masih dingin menusuk. "Ibu, kau—"
"Demam saja," kata Morena, mencoba tersenyum meski jelas terlihat betapa besar usaha yang dibutuhkannya untuk itu. "Lukanya... sedikit meradang. Kita cari desa terdekat begitu fajar penuh. Mereka pasti punya tabib."
Lyra menyentuh dahi ibunya, dan rasa panas yang ia temukan di sana membuat perutnya bergejolak ketakutan. Ini bukan sekadar demam biasa. Ia sudah cukup sering membantu Bibi Sanne mengurus warga desa yang sakit untuk tahu tanda-tanda infeksi yang mulai menyebar lebih jauh dari sekadar luka di permukaan kulit.
Ia membuka balutan lengan Morena dengan hati-hati, dan yang dilihatnya membuat napasnya tercekat — kulit di sekitar luka itu sudah berubah warna, garis-garis merah tipis mulai menjalar ke arah bahu, tanda yang pernah dijelaskan Bibi Sanne padanya dulu sebagai peringatan paling berbahaya dari sebuah luka yang tidak dirawat dengan benar.
"Ini buruk, ya?" tanya Morena, membaca ekspresi wajah putrinya tanpa perlu penjelasan lebih jauh, suaranya lebih tenang dari yang seharusnya dimiliki seseorang yang baru saja mendengar kabar seburuk itu tentang kondisinya sendiri.
Lyra tidak bisa berbohong, tidak pada saat seperti ini. "Kita butuh tabib sungguhan, Ibu. Secepatnya."
"Kita harus segera bergerak," kata Lyra, berusaha terdengar tenang meski dalamnya sendiri panik luar biasa. "Sekarang, Ibu. Tidak menunggu fajar penuh."
• • •
Mereka berjalan lebih lambat dari hari sebelumnya, jauh lebih lambat, Morena bersandar berat pada bahu Lyra setiap beberapa langkah, napasnya memburu meski medan yang mereka lalui tidak seberat sebelumnya. Salju semalam sudah berhenti, tapi hawa dingin pagi itu terasa lebih menusuk, seolah alam sendiri ikut memburu mereka bersama siapa pun yang mungkin masih mencari jejak mereka.
Lyra terus mencuri pandang ke wajah ibunya sepanjang perjalanan, mencatat setiap tanda yang membuatnya semakin khawatir — bibir yang mulai kebiruan di ujungnya, langkah yang semakin goyah, napas yang terdengar seperti diperjuangkan dengan susah payah setiap kali ditarik. Ia ingin berhenti lebih sering, ingin memaksa ibunya beristirahat lebih lama, tapi setiap kali ia menyarankannya, Morena selalu menggeleng, memaksa mereka terus bergerak dengan tekad yang mengkhawatirkan sekaligus mengagumkan.
"Ibu, istirahat sebentar—"
"Tidak. Terus jalan." Morena memaksa langkahnya sendiri, meski wajahnya semakin pucat setiap menit yang berlalu. "Aku bisa. Kita harus cari bantuan secepatnya."
Mereka melewati punggung bukit lain, menuruni lereng yang licin karena salju, dan untuk sesaat Lyra mulai melihat harapan — asap tipis mengepul di kejauhan, tanda pemukiman, mungkin desa kecil yang belum tersentuh tirani Mevira yang menghancurkan Bonsiva.
"Ibu, lihat! Ada desa di sana—"
Suara derap kuda memotong kata-katanya, kali ini bukan satu, tapi beberapa, mendekat dari arah belakang mereka dengan kecepatan yang tidak memberi banyak waktu untuk bereaksi.
"Bersembunyi," desis Morena, mendorong Lyra ke balik gerombolan semak berduri di sisi jalur, tubuhnya sendiri bergerak jauh lebih lambat dari yang seharusnya karena luka dan demam yang menggerogotinya. "Cepat, Lyra."
Mereka berhasil bersembunyi tepat sebelum tiga penunggang kuda muncul di jalur yang baru saja mereka lewati — prajurit berseragam hitam yang sama, wajah-wajah yang terlihat lelah tapi tetap waspada, salah satunya membawa tombak yang masih bernoda gelap di ujungnya, noda yang tidak ingin dipikirkan lebih jauh oleh Lyra apa asalnya.
"Jejak mereka berakhir di sini," kata salah satu prajurit, turun dari kudanya, memeriksa tanah bersalju di sekitar mereka. "Pasti sembunyi di dekat sini."
Jantung Lyra berdebar begitu keras sampai ia yakin suaranya bisa terdengar dari luar persembunyian mereka. Morena menggenggam tangannya erat-erat, matanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit dibaca — bukan ketakutan biasa, tapi sesuatu yang lebih tenang, lebih menentukan, seolah sebuah keputusan sudah diambil dalam kepalanya jauh sebelum momen ini benar-benar tiba.