Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #9

BAB 9 — JANJI YANG TAK TERUCAP

(POV CLEAY)

Cleay sudah tiga kali mengasah kapak yang sama malam itu, batu asahnya bergerak dalam irama yang lebih lambat dari yang dibutuhkan, karena pikirannya sama sekali tidak ada di sana—masih tertinggal di bawah pohon ek tua, di genggaman tangan yang sudah lepas sejak sore tadi tapi entah kenapa masih terasa di telapak tangannya sendiri.

"Kalau kau mengasah kapak itu lebih lama lagi," suara ibunya dari ambang dapur, "tidak akan ada lagi bilah yang tersisa untuk diasah."

Cleay tersentak, meletakkan kapak dan batu asah itu terlalu cepat, hampir menjatuhkan keduanya. "Aku hanya memastikan tajamnya cukup untuk besok."

"Tajamnya sudah cukup sejak asahan pertama." Ilsa Gremore duduk di bangku dekat perapian, menatap putranya dengan cara yang membuat Cleay merasa seperti kaca bening—terlihat sampai ke dalam, tidak peduli seberapa keras ia berusaha menyembunyikan sesuatu. "Ceritakan, apa yang mengganggu pikiranmu."

"Tidak ada yang mengganggu pikiranku."

"Cleay."

Hanya satu kata, namanya sendiri, tapi diucapkan dengan nada yang sudah dikenalnya sejak kecil—nada yang berarti ibunya sudah tahu jawabannya, dan hanya menunggu Cleay cukup jujur untuk mengucapkannya sendiri.

Ia menghela napas, duduk di lantai dekat perapian, menatap api yang mulai mengecil. "Aku memegang tangan Lyra hari ini," katanya, akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. "Di bawah pohon ek, waktu kami istirahat setelah bekerja."

"Dan?"

"Dan tidak ada apa-apa. Dia hanya berterima kasih. Melepaskannya lagi setelah beberapa detik." Cleay memetik seutas benang lepas dari celananya, menghindari tatapan ibunya. "Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya sejak itu. Rasanya berbeda dari genggaman tangan yang biasa kami lakukan waktu masih kecil, waktu kami saling menarik untuk balapan lari, atau semacamnya."

Ilsa tidak langsung menjawab, membiarkan keheningan mengisi ruangan kecil itu, hanya diselingi suara api yang berderak pelan. "Berbeda bagaimana?"

"Aku tidak tahu cara menjelaskannya," kata Cleay, frustrasi mulai terdengar di suaranya. "Seperti ada sesuatu yang lebih berat di dalamnya, meski gestur itu sendiri sederhana. Seperti dia memberitahuku sesuatu tanpa kata-kata, dan aku tidak yakin apa itu, tapi aku tahu itu penting."

Ilsa mengangguk pelan, tidak terkejut sama sekali, dan itu sendiri membuat Cleay menatapnya curiga.

"Kau sudah tahu," katanya. "Kau sudah tahu tentang ini, bahkan sebelum aku bicara malam ini."

"Aku ibumu, Cleay. Aku memerhatikanmu sejak kau masih terlalu kecil untuk menyembunyikan apa pun dariku." Ilsa tersenyum, senyum yang campuran geli dan sayang. "Aku melihatnya sejak musim panas lalu, waktu kau pulang membawa batu kecil warna abu kebiruan dari hutan, dan menghabiskan setengah jam memilih yang paling bagus sebelum akhirnya memberikannya pada Lyra."

Wajah Cleay memerah mendengar itu. "Itu hanya batu biasa."

"Kalau begitu kenapa kau memilihnya selama setengah jam?"

Cleay tidak punya jawaban untuk itu, dan ibunya tertawa pelan, bukan mengejek, tapi dengan kehangatan seorang ibu yang mengingat masa mudanya sendiri di dalam kecanggungan putranya.

"Berapa lama kau sudah merasakan ini?" tanya Ilsa, lebih lembut sekarang.

Lihat selengkapnya