Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #10

BAB 10 — BAYANG CINTA YANG BERSEMBUNYI

(POV CLEAY)

Salju pertama musim itu turun tanpa suara, menutupi ladang-ladang yang sudah dipanen dengan lapisan putih yang membuat seluruh Bonsiva terlihat seperti dunia lain, dan Cleay sedang berdiri di depan pasar ketika ia melihat Lyra bicara dengan seorang pemuda asing—cukup lama, cukup dekat, untuk membuat sesuatu di dadanya mengencang tanpa peringatan.

Pemuda itu, sekitar empat belas tahun, mengenakan jubah yang jauh lebih tebal dan lebih rapi dari kebanyakan pakaian penduduk Bonsiva, berdiri di depan lapak keluarga Wilton, tersenyum pada sesuatu yang baru saja dikatakan Lyra, tertawa dengan cara yang membuat Cleay ingin tahu apa yang begitu lucu.

"Itu anak saudagar Rennet dari Kesteron," kata Doran Wilton, muncul di samping Cleay tanpa diminta, seolah tahu persis apa yang sedang diperhatikan sahabatnya. "Datang membeli gandum musim ini, katanya harga di sini lebih murah daripada di kota."

"Aku tidak bertanya," kata Cleay, lebih tajam dari yang ia maksudkan.

Doran mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. "Baiklah, baiklah. Aku hanya membantu."

Cleay memaksakan diri melihat ke arah lain, mengurus keranjang telur yang sedang ia jual untuk ibunya, tapi matanya terus tertarik kembali ke arah Lyra dan pemuda itu, memerhatikan cara Lyra memiringkan kepalanya sedikit ketika mendengarkan, cara tangannya bergerak menjelaskan sesuatu—mungkin soal gandum, mungkin soal hal lain yang tidak bisa didengar Cleay dari jarak itu.

Ia tahu perasaan ini tidak masuk akal. Lyra hanya bicara dengan seseorang, sesuatu yang dilakukannya setiap hari dengan puluhan orang berbeda di pasar. Tapi pengetahuan itu tidak membuat rasa tidak nyaman di dadanya menghilang, dan justru itulah yang membuat Cleay semakin frustrasi pada dirinya sendiri.

• • •

Pemuda itu—namanya Isvan, seperti yang akhirnya diketahui Cleay setelah bertanya keliling dengan cara yang ia harap tidak terlalu jelas terlihat tertarik—kembali dua hari kemudian, kali ini membawa sekantung kecil gula-gula dari kota, yang jarang sekali dilihat di Bonsiva, dan menawarkannya pada Lyra di depan sekolah kecil desa tempat anak-anak belajar membaca dan berhitung dasar.

Cleay melihat semuanya dari kejauhan, berpura-pura sibuk memperbaiki pagar rumah Wilton yang memang perlu diperbaiki, tapi lebih banyak menghabiskan waktu mengintip daripada bekerja.

"Kau akan merusak pagar itu kalau terus memukulnya seperti sedang marah," kata Pak Wilton, muncul dari dalam rumah, menatap pekerjaan Cleay dengan alis terangkat.

"Maaf, Pak Wilton."

"Kalau kau memang ingin tahu apa yang dibicarakan Lyra dengan anak saudagar itu," kata Pak Wilton, dengan nada yang membuat Cleay sadar dirinya sudah tidak sesamar yang ia kira, "kenapa tidak langsung mendekat dan bertanya? Lebih mudah daripada merusak pagarku."

Cleay merasakan wajahnya memanas. "Aku tidak—aku tidak tertarik pada itu, Pak."

Pak Wilton hanya tertawa, tepukan di bahu Cleay lebih menghibur daripada meredakan rasa malunya. "Waktu aku seusiamu, aku juga berpura-pura tidak tertarik pada gadis yang sekarang jadi istriku selama hampir setahun penuh. Bertahun-tahun kemudian, dia bilang dia tahu sejak minggu pertama, dan menghabiskan setahun itu menunggu aku cukup berani untuk bicara." Ia menggeleng, mengenang. "Jangan buang waktu seperti aku, Nak. Waktu tidak akan menunggumu."

Cleay tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya kembali ke pagar yang sedang diperbaikinya, kali ini dengan gerakan yang lebih hati-hati, meski pikirannya masih penuh dengan bayangan Lyra dan Isvan yang tertawa bersama di depan sekolah.

Sore itu, ketika Isvan akhirnya pergi kembali ke penginapan tempat ia menginap bersama rombongan dagang ayahnya, Lyra datang menghampiri Cleay di depan rumah Wilton, wajahnya cerah dengan cara yang jarang terlihat sejak kematian Caelen.

"Kau lihat gula-gula yang diberikan Isvan?" tanyanya, menunjukkan sekantung kecil manisan berwarna-warni yang belum pernah dilihat Cleay sebelumnya. "Katanya ini dibuat khusus di Noctherra, dijual di pasar-pasar besar dekat istana."

"Terlihat mahal," kata Cleay, berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja.

"Aku juga berpikir begitu. Aku hampir menolaknya, tapi dia bersikeras." Lyra membuka kantung itu, menawarkan satu kepada Cleay. "Coba, rasanya aneh tapi enak."

Cleay mengambil satu, mengunyahnya tanpa benar-benar mencicipinya, terlalu sibuk memikirkan kenapa Isvan repot-repot membawa gula-gula mahal dari Noctherra untuk seorang gadis petani yang baru dikenalnya beberapa hari.

Lihat selengkapnya