Derap kuda membangunkan Lyra sebelum fajar benar-benar pecah, dan pada dentuman pertama pintu depan digedor, ia sudah tahu ini bukan tetangga yang datang meminjam garam.
"Buka! Atas nama Wali Daulat Veylara!"
Morena sudah berdiri di depan pintu sebelum Lyra sempat turun dari ranjang, wajahnya pucat tapi tangannya tidak gemetar saat membuka kunci. Di ambang pintu berdiri dua prajurit berseragam hitam-perak, tombak di tangan, dan di belakang mereka, memenuhi jalan setapak menuju desa, puluhan lagi—lebih banyak manusia berseragam daripada yang pernah dilihat Lyra seumur hidupnya, lebih banyak dari seluruh penduduk Bonsiva digabung jadi satu.
"Seluruh warga diperintahkan berkumpul di alun-alun desa," kata salah satu prajurit, suaranya datar, dilatih untuk tidak peduli pada wajah-wajah ketakutan yang akan ia hadapi di setiap rumah. "Bawa dokumen keluarga kalau ada. Siapa pun yang menolak akan dianggap melawan titah kerajaan."
"Titah apa?" tanya Morena, suaranya lebih tenang daripada yang seharusnya mungkin di situasi itu.
Prajurit itu tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah alun-alun dengan gagang tombaknya, isyarat yang lebih mengancam daripada kata-kata apa pun.
Lyra berpakaian secepat yang bisa ia lakukan dengan tangan yang gemetar, menyambar mantel tebal dari paku di dinding, dan ketika ia keluar kamar, ia mendapati Morena berdiri sebentar di depan peti kayu tua di sudut ruangan—peti yang sama tempat buku catatan Caelen pernah disimpan—menatapnya seolah mempertimbangkan sesuatu.
"Bu, kita harus pergi sekarang."
"Aku tahu." Morena melangkah menjauh dari peti itu, meski matanya masih menoleh sekali lagi sebelum mengikuti Lyra keluar. Buku catatan itu sendiri sudah aman di bawah bantal Lyra, dibawa serta terselip di balik mantelnya tanpa sempat dipikirkan lebih jauh—naluri melindungi sesuatu yang berharga, bahkan di tengah kepanikan yang mencekam pagi itu.
Di luar, jalan setapak menuju desa sudah dipenuhi tetangga-tetangga yang digiring dengan cara yang sama, wajah-wajah yang biasanya ramah kini kaku oleh ketakutan, beberapa anak kecil menangis digendong orang tua mereka yang berusaha menenangkan tanpa benar-benar tahu harus berkata apa.
• • •
Alun-alun kecil Bonsiva, tempat yang biasanya hanya diisi lapak-lapak pasar dan anak-anak bermain, sudah berubah menjadi lautan manusia ketakutan ketika Lyra dan Morena tiba, digiring bersama warga lain yang keluar dari rumah masing-masing dengan wajah bingung dan pakaian seadanya, beberapa masih mengenakan baju tidur, beberapa menggendong anak yang menangis karena dibangunkan paksa di tengah dingin subuh.
Cleay dan Ilsa berdiri tidak jauh dari mereka, dan Lyra bergerak mendekat secepat yang diizinkan kerumunan yang semakin padat, tangan Cleay langsung meraih tangannya begitu mereka cukup dekat, genggaman yang kali ini tidak canggung sama sekali, hanya penuh ketakutan yang dibagi berdua.
"Apa yang terjadi?" bisik Lyra.
"Aku tidak tahu," jawab Cleay, matanya menyapu kerumunan prajurit yang terus bertambah di sekeliling alun-alun, membentuk lingkaran yang semakin rapat, semakin menyesakkan. "Tapi ini bukan sekadar pemungutan pajak lagi. Terlalu banyak dari mereka untuk sekadar itu."
Ilsa berdiri di sisi lain Cleay, wajahnya tegang tapi matanya waspada, menghitung jumlah prajurit di setiap sudut alun-alun seolah sedang menyusun peta jalan keluar yang mungkin tidak akan pernah mereka butuhkan, atau mungkin akan sangat mereka butuhkan tidak lama lagi.
Di depan alun-alun, berdiri di atas panggung kayu yang biasa dipakai untuk pengumuman desa, seorang perwira berjubah lebih rapi dari prajurit lainnya—lencana perak berbentuk gelombang tersemat di dadanya, tanda pangkat yang tidak pernah dilihat Lyra sebelumnya—menunggu sampai seluruh penduduk desa selesai digiring masuk, sampai lingkaran prajurit di sekeliling alun-alun benar-benar menutup, tidak menyisakan celah untuk siapa pun melarikan diri.
"Penduduk Bonsiva," suaranya menggema, dilatih untuk terdengar sampai ke sudut terjauh, "atas titah Wali Daulat Mevira Zion, wilayah Bonsiva dan sekitarnya dinyatakan sebagai zona keamanan militer, efektif mulai pagi ini."
Gumaman ketakutan menyebar di antara kerumunan, cepat diredam oleh dentuman tombak prajurit yang dihentakkan serempak ke tanah—sinyal untuk diam yang dipahami semua orang tanpa perlu dijelaskan.
"Alasan penetapan ini," lanjut perwira itu, membuka gulungan kertas yang dibawa ajudannya, "adalah ancaman pemberontakan yang terdeteksi di wilayah perbatasan Kesteron, termasuk kecurigaan bahwa sejumlah keluarga di Bonsiva menyembunyikan catatan silsilah yang tidak sah, berpotensi menghidupkan kembali klaim-klaim lama yang mengancam stabilitas Wangsa Zion."
Lyra merasakan darahnya membeku. Di sampingnya, genggaman Cleay mengerat, dan ia tahu, tanpa perlu menoleh, bahwa sahabatnya memikirkan hal yang sama dengannya—nama Avelis, pertanyaan-pertanyaan petugas pajak, kecurigaan yang selama ini terasa jauh tiba-tiba begitu dekat, begitu nyata, berdiri di depan seluruh desa dalam bentuk pasukan bersenjata.